Views: 14
BTM-CK dan Koalisi Rakyat Bersatu: Menjaga Suara, Menjaga Harapan Papua
Laporan: Tim Redaksi KADATE/Inspirasi Papua
JAYAPURA, 29 Juli 2025 – Mentari sore masih menyisakan cahaya keemasan ketika ribuan orang mulai memadati Pantai Cibery, Kampung Enggros, Kota Jayapura. Mereka datang dengan semangat dan harapan, berkumpul bukan sekadar untuk mendengar pidato politik, tapi untuk merasakan kembali denyut perjuangan rakyat Papua lewat orasi calon Gubernur Papua nomor urut 1, Benhur Tomi Mano (BTM).
Di hadapan lautan massa yang berkiblat pada perubahan, BTM tampil bukan sebagai elite politik, melainkan sebagai anak adat Tabi, yang bicara dari hati untuk rakyatnya. “Saya bukan titipan dari siapa-siapa. Saya lahir dari tanah ini. Saya anak Tabi. Ini negeri saya, dan saya akan terus bicara untuk Tabi,” ucapnya lantang, disambut pekikan semangat pendukung.
Kawal TPS, Jaga Suara Rakyat
Dalam orasinya, BTM menyerukan satu pesan kuat dan sederhana: jaga TPS, jaga suara rakyat. Ia mengajak seluruh warga dari satu kota dan delapan kabupaten yang akan mengikuti Pemungutan Suara Ulang (PSU) pada 6 Agustus mendatang, untuk tidak hanya mencoblos, tetapi juga mengawal ketat penghitungan suara.
“Setelah Bapak dan Ibu mencoblos, jangan langsung pulang. Tetap tinggal dan kawal TPS. Kita harus pastikan suara BTM-CK tidak dicurangi,” katanya penuh tekanan.
Pesan ini bukan tanpa alasan. BTM menyebut ada indikasi praktik manipulatif dari pihak tertentu, termasuk potensi pengumuman hasil suara yang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.
“Kita khawatir, yang dicoblos nomor 1, tapi yang diumumkan nomor 2. Ini harus kita jaga bersama,” ujarnya, disambut gelombang sorakan setuju dari massa yang berkumpul.
Politik Uang dan Peringatan Keras untuk Penyelenggara
BTM tak segan menyinggung potensi praktik politik uang. Ia bahkan menyebut adanya informasi soal pembagian uang yang disertai dengan surat suara—isu yang sudah viral di media sosial.
“Mereka akan datang membawa uang dan surat suara kepada Bapak Ibu. Ambil uangnya, karena itu uang rakyat. Tapi jangan pilih orangnya,” serunya sambil menatap satu per satu wajah pendukungnya.
Tak hanya itu, BTM juga menyampaikan peringatan tegas kepada KPPS, PPD, dan KPU untuk bekerja jujur. “Kalau kalian curang, pikirkan anak istri kalian. Ini bukan ancaman, ini aturan hukum,” ucapnya sembari menyinggung kasus pemecatan tiga komisioner KPU Jayapura oleh DKPP akibat penggelembungan suara di Pilkada sebelumnya.
Dukungan Penuh dari Akar Rumput Golkar Papua
Yang menarik, dalam orasi politik tersebut, Calon Wakil Gubernur Constant Karma (CK) tampil memberikan dukungan penuh. Meski secara formal Partai Golkar mendukung pasangan lain, CK menyatakan bahwa akar rumput Golkar Papua memilih bersama rakyat, bersama BTM.
“Kami fungsionaris Golkar Papua, dari kelurahan sampai kampung, semua berdiri di belakang BTM. Meskipun perahu Golkar diberikan kepada nomor 2, kami tidak goyah,” ujar Constant Karma, mantan pejabat senior Golkar yang kini mantap berdiri bersama rakyat.
Ia juga menyayangkan keputusan pusat partai yang tidak mencerminkan suara lokal. “Kami pemilik perahu kuning ini tetap berdiri tegak di barisan rakyat bersama BTM,” tegasnya.
Rakyat Papua Tidak Bisa Dibohongi Lagi
BTM menutup orasinya dengan suara yang bergetar penuh keyakinan: “Mau PSU 20 kali, mau ganti Penjabat Gubernur berkali-kali, BTM tetap Gubernur Papua. Karena suara rakyat adalah suara Tuhan.”
Seruan itu bukan sekadar slogan. Ia adalah cermin keyakinan dari seorang pemimpin yang telah melalui dua periode kepemimpinan sebagai Wali Kota Jayapura, dan kini kembali ke rakyat untuk menuntaskan cita-cita Papua yang lebih adil, transparan, dan bermartabat.
Dalam kerumunan yang terus menyanyikan yel-yel kemenangan, terasa jelas bahwa perjuangan ini bukan soal kursi kekuasaan semata. Ini soal mengembalikan martabat demokrasi dan suara rakyat Papua yang selama ini merasa terpinggirkan.
“Lima tahun ke depan, akan menentukan nasib kita semua. Jangan salah pilih,” tutup BTM, dengan tangan mengepal ke langit, mengajak rakyatnya untuk tetap teguh menjaga harapan.
Catatan: PSU Papua akan berlangsung pada 6 Agustus 2025, di sejumlah kabupaten/kota. Suara rakyat, seperti kata BTM, bukan hanya hak, tapi juga kehormatan yang wajib dijaga bersama. ***











