Views: 34
Berheta dan Varrent: Cahaya dari Papua Barat yang Bersinar di Olimpiade Genomik Indonesia 2025
JAKARTA — Ruangan itu mendadak riuh. Tepuk tangan bergemuruh, kamera-kamera berderet menyorot panggung. Hari Minggu (25/8/2025), di sebuah hotel di Jakarta, suasana Olimpiade Genomik Indonesia (OGI) 2025 mencapai puncaknya.
Ketika nama Berheta Simuna, siswi SMA Negeri Saengga, Teluk Bintuni, disebut sebagai Juara 2 tingkat SMA, ia tertegun sesaat. Sambil menahan tangis, ia melangkah ke depan panggung, lalu menerima medali dengan tangan bergetar. Tak lama kemudian, nama Varrent Vemaria Val Rooey, bocah SD Inpres Kokas, Fakfak, dipanggil sebagai Juara 3 tingkat SD. Bocah itu tersenyum lebar, berlari kecil ke panggung, dan melambai ke arah guru pendampingnya.
Bagi banyak orang, itu mungkin sekadar pengumuman pemenang. Namun bagi Papua Barat, itu adalah sejarah kecil yang besar makn
Berheta Simuna: Putri Nelayan dengan Mimpi Besar
Berheta lahir dari keluarga sederhana di Kampung Saengga. Ayahnya seorang nelayan, ibunya pedagang kecil. Fasilitas sekolah terbatas, listrik kadang padam, internet sulit diakses. Namun semua itu tak menghentikan langkahnya.
“Ayah dan mama selalu bilang, sekolah itu jalan untuk ubah hidup. Jadi saya belajar sungguh-sungguh, walaupun kadang pakai lampu minyak kalau listrik mati,” ucap Berheta lirih.
Ayahnya, Simuna, yang ikut mendampingi ke Jakarta, tak kuasa menahan air mata ketika putrinya dipanggil.
“Beta tra bisa sekolah tinggi, tapi beta percaya anak-anak bisa lebih hebat dari orang tua. Hari ini, doa itu dijawab. Beta bangga sekali,” katanya dengan suara bergetar.
Di sekolah, Berheta dikenal tekun. “Dia anak yang selalu cari tambahan bahan belajar. Sering tanya lebih dalam, bahkan di luar jam pelajaran,” kata Ibu Maria, guru biologi SMA Negeri Saengga.
Varrent Vemaria Val Rooey: Bocah Lugu dengan Cita-Cita Jadi Ilmuwan
Berbeda dengan Berheta yang sudah remaja, Varrent masih duduk di bangku kelas 5 SD. Bocah periang ini gemar bertanya tentang segala hal. Dari ikan di laut hingga bintang di langit.
“Kadang dia duduk lama di pantai, tanya saya: Mama, kenapa ikan bisa hidup di air? Saya hanya senyum, bilang: belajar yang rajin, nanti kamu tahu jawabannya,” ujar ibunya, Yuliana, sambil mengusap air matanya.
Di panggung OGI, Varrent tampil penuh percaya diri. Saat namanya diumumkan sebagai juara, ia spontan melompat kecil lalu memeluk gurunya, Bapak Markus.
“Dia anak yang selalu berani. Waktu presentasi di depan juri, dia tidak takut. Dengan bahasa sederhana tapi jelas, dia bikin semua orang kagum,” tutur sang guru dengan senyum bangga.
Detik-Detik Haru di Jakarta
Ketika nama Berheta dan Varrent diumumkan, ruangan seakan bergetar oleh tepuk tangan. Kamera menyorot wajah keduanya yang basah oleh air mata haru. Guru pendamping berlari kecil, meraih mereka, dan memberi pelukan hangat.
Beberapa penonton dari daerah lain bahkan ikut berdiri dan bertepuk tangan lebih keras, seolah ingin berkata: “Papua, kalian luar biasa!”
Suasana semakin emosional ketika Berheta, di atas panggung, menunduk hormat dan berkata, “Ini untuk Papua.” Sementara Varrent, dengan polosnya, hanya berkata, “Saya senang sekali… nanti saya mau cerita ke teman-teman di Kokas.”
Dukungan dan Perubahan
Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan banyak pihak. Sekolah mereka — SMA Negeri Saengga dan SD Inpres Kokas — termasuk penerima manfaat program pendidikan dari bp Tangguh LNG.
Sejak 2005, bp telah berinvestasi lebih dari US$80 juta untuk pengembangan masyarakat di Papua Barat, meliputi kesehatan, pendidikan, mata pencaharian, hingga lingkungan. Di bidang pendidikan, lebih dari 1.400 pelajar Papua sudah menerima beasiswa, dan puluhan siswa-guru diberi kesempatan berkompetisi di level nasional maupun internasional.
Makna Kemenangan
Bagi Berheta, kemenangan ini adalah hadiah untuk keluarga dan kampung halamannya. “Saya mau sekolah tinggi, jadi peneliti, lalu kembali bangun Papua,” katanya penuh tekad.
Bagi Varrent, juara adalah awal dari mimpi panjang. “Saya mau jadi ilmuwan, nanti saya bikin penemuan untuk bantu orang Papua,” ujarnya polos, membuat hadirin kembali tersenyum haru.
Refleksi: Cahaya dari Timur untuk Indonesia
Dari tepian laut Saengga hingga pesisir Kokas, dari rumah-rumah sederhana hingga panggung nasional di Jakarta, Berheta dan Varrent telah menunjukkan bahwa cahaya pengetahuan bisa lahir dari mana saja. Mereka membuktikan bahwa Papua bukan sekadar ujung peta, melainkan ujung tombak harapan.
Prestasi mereka adalah pesan sunyi yang lantang: bahwa bangsa ini hanya akan besar bila setiap anak, tanpa memandang letak dan latar, diberi kesempatan yang sama untuk bermimpi dan berjuang.
Di balik sorot mata Berheta yang penuh tekad dan senyum polos Varrent yang tulus, kita melihat masa depan Indonesia yang berwarna, adil, dan bercahaya. Cahaya itu lahir dari Timur — dari Papua — dan sinarnya kini menyinari seluruh negeri.
Papua bukan hanya bagian dari Indonesia, tetapi juga cahaya yang menuntun bangsa menuju masa depan.
(Tim Redaksi KADATE/Inspirasi Papua)

