Views: 101
Alfons Manibui Tegaskan DBH Migas Tak Boleh Dipotong: “Daerah Penghasil Harus Diperkuat, Bukan Dilemahkan”
BINTUNI, PAPUA BARAT — Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Alfons Manibui, menegaskan bahwa Dana Bagi Hasil (DBH) Migas adalah hak penuh daerah penghasil dan tidak boleh dipotong dalam bentuk apa pun. Pernyataan itu disampaikan menyusul kekhawatiran sejumlah daerah penghasil migas terkait potensi penyesuaian kebijakan fiskal di tingkat pusat.
Menurut Alfons, daerah seperti Papua Barat, Kalimantan Timur, dan Riau masih sangat membutuhkan penguatan fiskal untuk mengejar ketertinggalan pembangunan. Di wilayah-wilayah itu, keberadaan industri migas belum sepenuhnya sebanding dengan tingkat kesejahteraan masyarakat di sekitar operasi.
“DBH Migas bukan sekadar angka dalam APBN. Ia adalah nafas pembangunan bagi daerah penghasil. Jalan, listrik, layanan dasar, bahkan masa depan anak-anak di daerah operasi sangat bergantung pada ini,” tegasnya.
Ia menilai, pemerintah pusat harus melihat DBH Migas sebagai instrumen pemerataan yang memberi keadilan bagi daerah yang telah berkontribusi besar terhadap pemasukan negara. Terlebih, daerah penghasil kini dihadapkan pada tantangan baru berupa transisi energi yang dapat menurunkan aktivitas industri migas dalam beberapa dekade ke depan.
“Transisi energi tidak boleh meninggalkan daerah-daerah yang selama ini menjadi tulang punggung produksi migas nasional. Mereka harus disiapkan, bukan ditinggalkan,” ujarnya.
Alfons menekankan pentingnya memastikan bahwa manfaat migas benar-benar kembali ke masyarakat, terutama dalam bentuk pembangunan infrastruktur dasar, peningkatan kualitas layanan publik, serta pengembangan ekonomi lokal yang lebih mandiri.
Ia juga mengingatkan bahwa DBH Migas adalah ruang bagi daerah untuk mempersiapkan masa depan yang lebih berkelanjutan, termasuk diversifikasi lapangan kerja, peningkatan kapasitas SDM, dan pengembangan energi terbarukan di tingkat lokal.
“Daerah penghasil migas harus diperkuat, bukan dilemahkan. Kita ingin masyarakat di sekitar wilayah operasi merasakan langsung kemajuan, bukan hanya menjadi penonton dari kekayaan alam mereka sendiri,” tutupnya.
(MA/Inspirasi Papua)













