Views: 133
Kasus HIV di Teluk Bintuni Meningkat, IDI Gelar Serangkaian Kegiatan Edukasi dan Skrining
BINTUNI, PAPUA BARAT — Jumlah kasus HIV di Kabupaten Teluk Bintuni terus menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan. Data dari Dinas Kesehatan mencatat, dari 1.034 kasus pada Mei 2025, angka itu naik menjadi 1.147 kasus pada Juli 2025. Kenaikan signifikan ini menjadi perhatian serius tenaga kesehatan, terutama karena banyak pasien belum mendapatkan pengobatan secara optimal.
Ketua IDI Cabang Teluk Bintuni, dr. Wiendo Syahputra Yahya, Sp.P, MMRS, FAPSR, FISR, menjelaskan bahwa kondisi tersebut mencerminkan tantangan besar dalam pelayanan HIV di daerah. “Salah satu masalah utama adalah rendahnya jumlah pasien HIV yang mengakses pengobatan, padahal layanan tersedia gratis di Puskesmas dan RSUD,” ujarnya, Kamis (11/12/2025).
Lonjakan Nasional dan Konteks Lokal
Secara nasional, tahun 2025 diperkirakan terdapat 564.000–570.000 orang dengan HIV/AIDS, dengan mayoritas berada pada kelompok usia produktif (25–49 tahun). Peningkatan kasus juga terlihat pada kelompok remaja, terutama di wilayah DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Papua, dan Papua Tengah.
Di Teluk Bintuni, lonjakan kasus dalam dua bulan terakhir memperlihatkan perlunya respons cepat dan terkoordinasi. “Peningkatan ini menggambarkan bahwa penanganan HIV harus dilakukan secara berkesinambungan agar kita bisa mengejar target Indonesia tanpa AIDS 2030,” tegas dr. Wiendo.
IDI Gerakkan Edukasi dan Skrining di Masyarakat
Dalam rangka Hari HIV/AIDS Sedunia yang diperingati setiap 1 Desember dengan tema “Mengatasi Disrupsi, Transformasi Respons AIDS”, IDI Teluk Bintuni menggelar berbagai kegiatan edukasi, sosialisasi, hingga pemeriksaan dini di sejumlah lokasi.
Spanduk peringatan terpasang di RSUD Teluk Bintuni serta beberapa Puskesmas seperti Tuhiba, Bintuni, Manimeri, dan Muturi. Sejumlah dokter IDI juga terjun langsung ke sekolah, masjid, hingga kampung terpencil.
- dr. Krisno memberikan sosialisasi pencegahan HIV/AIDS bagi ratusan pelajar SMP–SMA Muhammadiyah Bintuni di Masjid Al-Munawarah.
- dr. Trivera bersama tim Puskesmas Manimeri melakukan skrining HIV untuk masyarakat Kampung Rubobo pada 5 Desember. Sebanyak 41 warga diperiksa kesehatannya.
- dr. Mercy Sikku menyampaikan penyuluhan bagi remaja dan pemuda di SMK Negeri 1 Bintuni bersama GOW, serta memberikan edukasi di Gedung MCU dan Poliklinik RSUD.
Pesan Penting: Cegah, Rawat, dan Hentikan Stigma
Dalam penyuluhannya, dr. Mercy menekankan pencegahan HIV melalui metode ABCDE:
- A – Abstinence: Tidak melakukan hubungan seks di luar pasangan tetap.
- B – Be Faithful: Setia pada satu pasangan.
- C – Condom: Gunakan kondom saat berhubungan seksual.
- D – Drugs: Tidak memakai narkoba suntik.
- E – Education: Mencari informasi yang benar tentang HIV.
Ia juga mengingatkan bahwa HIV bukan alasan untuk menjauhi atau mendiskriminasi seseorang. “Jauhi virusnya, bukan orangnya. Pasien HIV harus kita perlakukan secara manusiawi dan penuh empati. Pengobatan tersedia gratis dan dapat menekan jumlah virus secara signifikan bila dilakukan rutin,” tegasnya.
Tantangan Serius, Harapan Tetap Terbuka
Lonjakan kasus HIV di Teluk Bintuni menjadi alarm bagi semua pihak—tenaga kesehatan, pemerintah daerah, keluarga, dan masyarakat luas. Permasalahan utama bukan hanya peningkatan kasus, tetapi rendahnya kesadaran untuk memeriksakan diri dan menjalani pengobatan seumur hidup.
Melalui rangkaian edukasi dan skrining, IDI Teluk Bintuni berharap masyarakat semakin berani memeriksakan diri dan menghapus stigma terhadap ODHA (Orang dengan HIV/AIDS).
Langkah-langkah sederhana dapat menyelamatkan banyak nyawa, dan kepedulian bersama menjadi kunci menuju Teluk Bintuni yang lebih sehat.
(MA/Inspirasi Papua)













