Views: 114
Cekcok Rumah Tangga Berujung Tikaman, Pelaku Diamankan Satreskrim Polres Bintuni
Laporan : Tim Redaksi KADATE/Inspirasi Papua
BINTUNI – Fajar belum sempurna menyingsing ketika keributan kecil di areal Pasar Sentral Bintuni mendadak berubah menjadi tragedi. Di antara deretan ruko yang masih tertutup dan lorong-lorong pasar yang lengang, teriakan dan suara gaduh memecah keheningan dini hari, Jumat, 1 Agustus 2025 pukul 04.30 WIT.
Seorang pria muda, AKS (25), warga Kampung Rosib, baru saja menyelesaikan pekerjaannya di sebuah rumah makan di Kalitubi. Lelah dan mungkin sedikit tersinggung, ia menghubungi istrinya dan meminta dijemput. Namun permintaan itu ditolak. Sesuatu yang sepele namun cukup untuk memicu emosi.
Tanpa pikir panjang, AKS bergegas menuju pasar, tempat sang istri bekerja di salah satu ruko. Ketukan pelan di pintu tak dibalas. Ketukan berikutnya berubah menjadi hentakan keras. Mungkin karena kesal. Mungkin karena bingung. Tak lama, pintu terbuka. Sang istri keluar. Cekcok pun tak terelakkan.
Beberapa warga yang tengah bersiap membuka kios dan dua pria—Riki dan Nikson —berusaha melerai. Mereka menengahi pertengkaran, mencoba meredakan emosi AKS yang meledak-ledak. Tapi suasana malah memanas. Suara meninggi, emosi membuncah. Dalam hitungan detik, AKS yang merasa terdesak dan terdorong, tersungkur.
Bangkit dengan amarah, ia mengeluarkan sebilah pisau kanakel dari balik saku celananya—dan mengayunkannya membabi buta. Jeritan warga terdengar bersahut-sahutan, sebelum akhirnya dua korban terkapar bersimbah darah.
“Tolong! Ada darah!” teriak seseorang. Dalam kekacauan itu, warga segera membawa korban ke RSUD Teluk Bintuni. Untungnya, mereka masih dalam penanganan medis dan nyawa keduanya berhasil diselamatkan.
Sementara pelaku, AKS, langsung diamankan oleh anggota Patroli Motor (Patmor) Pos Pasar Polres Teluk Bintuni, tak lama setelah menerima laporan dari masyarakat.
Kapolres Teluk Bintuni, AKBP Hari Sutanto, S.I.K, melalui Kasat Reskrim AKP Boby Rahman, S.I.K, membenarkan kejadian tersebut.
“Pelaku saat ini sudah kami amankan dan sedang menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Kami masih mendalami motif serta kronologi lengkapnya,” ujar AKP Boby.
Peristiwa ini tak hanya meninggalkan luka di tubuh dua korban, tapi juga luka emosional yang mendalam—untuk keluarga, untuk warga pasar, dan mungkin juga untuk sang pelaku sendiri. Kekerasan yang bermula dari persoalan rumah tangga telah berubah menjadi persoalan hukum yang serius.
Pasar yang biasanya menjadi tempat harapan dan rezeki bagi banyak warga Bintuni, pagi itu justru menjadi saksi luka dan kehilangan. Sebuah pengingat bahwa emosi yang tak terkendali, bisa menghancurkan segalanya dalam sekejap. ***













