Jelang HUT ke 80 RI, Polres Bintuni Lounching 1.000 Paket Sembako Murah

Kapolres Teluk Bintuni AKBP Hari Sutanto, S.I.K., bersama Bupati Yohanes Manibuy, SE, MH, menyapa dan membagikan sembako murah kepada warga Korano Jaya — hadiah kemerdekaan yang menghadirkan senyum dan harapan di Bumi Sisar Matiti. (ist/Kadate/Inspirasi Papua)
Bagikan berita ini

Views: 175

Jelang HUT ke 80 RI, Polres Bintuni Lounching 1.000 Paket Sembako Murah Untuk Masyarakat

Klik Vidio: Polres Bintuni Lounching 1.000 Sembako Murah

 

BINTUNI – Kamis siang (14/8/2025), udara di Kampung Korano Jaya, Distrik Manimeri, terasa hangat namun bersahabat. Di halaman Balai Kampung SP 2, tenda-tenda putih berdiri rapi. Kursi-kursi plastik penuh terisi ibu-ibu yang menggandeng anaknya, bapak-bapak yang baru pulang dari kebun, dan remaja yang sesekali tersenyum malu-malu. Mereka datang bukan sekadar menonton keramaian, tetapi menanti “hadiah kemerdekaan” — paket sembako murah yang digagas Polres Teluk Bintuni.

Tepat pukul 13.00 WIT, Kapolres Teluk Bintuni, AKBP Hari Sutanto, S.I.K., membuka Gerakan Pangan Murah (GPM) dengan sapaan hangat. Tangannya menyalami satu per satu warga yang sudah mengantre sambil memegang kartu identitas. “Kegiatan ini untuk membantu meringankan beban warga menjelang HUT ke 80 RI, 17 Agustus 2025, sekaligus memastikan bahan pokok tetap terjangkau,” ucapnya, disambut anggukan setuju.

Di meja distribusi, paket yang ditawarkan sederhana namun berarti: 5 kilogram beras SPHP dan 1 liter minyak goreng hanya seharga Rp70.000. Selisih harga dari pasar mungkin terlihat kecil di angka, tetapi di dompet warga, itu berarti ada sisa untuk membeli ikan, sayur, atau bahkan menabung sedikit untuk sekolah anak.

Tidak Berhenti di Satu Titik

Kampung Korano Jaya hanyalah satu dari rangkaian lokasi GPM. Sebanyak 1.000 paket sembako disiapkan untuk dibagikan ke berbagai wilayah: Polsek Bintuni, Polsek Babo, Polsek Arandai, hingga Polsek Merdey. Bahkan, di Kota Bintuni, kegiatan serupa akan kembali digelar di Alun-alun SP 5 Kampung Argosigemerai usai upacara 17 Agustus.

Bupati Teluk Bintuni, Yohanes Manibuy, SE, MH, yang turut hadir, menegaskan pentingnya kegiatan ini. “Ini bukan sekadar jual beli pangan, tapi langkah menjaga harga tetap stabil dan inflasi terkendali di Bumi Sisar Matiti. Pemerintah, aparat, dan rakyat harus saling bergandengan tangan menghadapi tantangan ekonomi,” ujarnya.

Cerita dari Antrian

Salah seorang ibu rumah tangga, datang sambil menggendong anak bungsunya. Ia tersenyum lega saat menerima paket sembako. “Biasanya harga beras tinggi sekali kalau sudah dekat hari besar. Ini sangat membantu sekali,” katanya.

Sementara itu, suasana akrab terjalin di bawah tenda. Petugas kepolisian membantu mengangkat beras ke motor warga, anak-anak berlarian sambil mengintip meja panitia, berharap ada permen tersisa. Tawa ringan dan obrolan santai terdengar, seolah jarak antara warga dan aparat melebur siang itu.

Makna Kemerdekaan yang Nyata

Di Teluk Bintuni, kemerdekaan tahun ini tidak hanya dirayakan lewat upacara atau lomba-lomba. Ia hadir dalam bentuk karung beras dan botol minyak goreng, sederhana namun mengenyangkan. Bagi banyak warga, itu adalah simbol bahwa negara hadir, bukan hanya lewat kata-kata, tetapi lewat kepedulian yang menyentuh dapur rumah tangga.

Sore mulai merayap, namun wajah-wajah lega yang pulang membawa sembako adalah pemandangan yang tersisa. Dan mungkin, di balik angka 17 Agustus yang akan tiba, ada rasa merdeka yang benar-benar terasa — ketika rakyat bisa tersenyum di meja makan mereka.

(Tim Redaksi KADATE/Inspirasi Papua)

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *