Edukasi Kanker Paru Menyapa Abepura hingga Teluk Bintuni

PDPI Papua ajak warga cegah kanker paru sejak dini. (ist/Kadate/Inspirasi Papua)
Bagikan berita ini

Views: 123

PDPI Papua Ajak Warga Jaga Paru-Paru: Edukasi Kanker Paru Menyapa Abepura hingga Teluk Bintuni

 

BINTUNI – “Sembilan dari sepuluh pasien kanker paru bisa bertahan hidup lima tahun jika terdiagnosis lebih awal,” tegas dr. Helena Pakiding, Sp.P, M.Kes, FAPSR, FISR di hadapan puluhan peserta penyuluhan di RSUD Abepura, Senin (4/8/2025).
Kalimatnya singkat, tapi menampar kesadaran.

Menurut data International Agency for Research on Cancer (2022), terdapat 38.904 kasus baru kanker paru di Indonesia. Penyakit ini paling banyak menyerang laki-laki dan menempati urutan kedua terbanyak pada semua jenis kelamin, setelah kanker payudara.

“Sayangnya, mayoritas pasien baru datang saat sudah stadium lanjut,” ujarnya. Padahal, jika ditemukan lebih awal, peluang bertahan hidup bisa dua hingga tiga kali lipat lebih tinggi.

Penyuluhan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Papua dalam memperingati World Lung Cancer Day yang jatuh setiap 1 Agustus.

“Tahun ini, PDPI Papua tidak hanya berbicara soal bahaya penyakit, tapi juga mengajak masyarakat mengambil langkah nyata menjaga kesehatan paru-paru,” ujar dr. Wiendo Syahputra Yahya, Sp.P, M.MRS, FAPSR, FISR, dokter spesialis paru RSUD Teluk Bintuni, Kamis (14/8/2025).

Dari Abepura ke Teluk Bintuni: Menggema Pesan Anti-Rokok

Tiga hari usai acara di Jayapura, giliran masyarakat Teluk Bintuni yang mendapat edukasi langsung. Di aula RSUD Teluk Bintuni, Kamis (7/8/2025), dr. Wiendo memaparkan fakta yang membuat banyak peserta terdiam:

  • Jumlah perokok di Indonesia pada 2021 mencapai 112 juta orang, dan diprediksi melonjak menjadi 123 juta pada 2030.
  • Kerugian akibat rokok menyentuh Rp596,61 triliun, jauh lebih besar dari pendapatan cukainya yang hanya Rp139,5 triliun.

“Rokok elektronik sama berbahayanya dengan rokok biasa. Sama-sama memicu adiksi, sama-sama membuka jalan bagi penyakit kronis,” tegasnya.

Tak hanya itu, ia mengingatkan risiko rokok pada kehamilan. “Ibu hamil yang merokok atau terpapar asap rokok berisiko melahirkan bayi prematur, berat badan rendah, bahkan gangguan pernapasan di masa depan,” jelasnya.

Ia juga menyoroti dampak sosial-ekonomi: “Harga satu bungkus rokok setara dua kilo beras atau 14 butir telur. Kalau uang itu dialihkan untuk gizi, masa depan anak akan jauh lebih sehat.”

Pelatihan Skrining Dini: Membawa Harapan ke Fasilitas Kesehatan Terdekat

Puncak kegiatan PDPI Papua digelar pada Minggu (10/8/2025) lewat webinar skrining kanker paru bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Teluk Bintuni. Pesertanya dokter umum dan spesialis dari puskesmas.

Pelatihan menggunakan formulir skrining standar PDPI dan IASTO 2023, yang bisa diterapkan di puskesmas atau klinik. Artinya, masyarakat tak harus ke rumah sakit besar untuk mendapatkan pemeriksaan awal.

Rumah Bebas Asap Rokok: Langkah Kecil, Napas Panjang

Di setiap akhir penyuluhan, pesan yang sama selalu digaungkan: ciptakan rumah bebas asap rokok.
Tipsnya sederhana—tidak menyediakan asbak, meminta tamu tidak merokok, dan mengganti pakaian setelah merokok di luar rumah.

“Paru-paru adalah pintu kehidupan. Menjaganya bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk keluarga dan generasi berikutnya,” tutup dr. Wiendo.

Dari Abepura hingga Teluk Bintuni, pesan PDPI Papua jelas: jangan tunggu sesak untuk mulai peduli. (Tim Redaksi KADATE/Inspirasi Papua)

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *