Views: 203
Dari Musrenbang ke Harapan Nyata: Teluk Bintuni Menuju Pembangunan yang Smart dan Inovatif
Laporan : Tim Redaksi KADATE/Inspirasi Papua
BINTUNI- Rabu, 6 Agustus 2025 – Irama Tifa ditabuh tujuh kali. Sebuah simbolisasi penuh makna, mewakili keberadaan tujuh suku asli Teluk Bintuni, dan lebih dari itu: sebuah harapan akan harmoni dalam membangun daerah bersama-sama.
Hari itu, Rabu pagi yang cerah, Gedung sasana Karya Kantor Bupati Teluk Bintuni tempat dilangsungkannya Musyawarah Perencanaan Pembangunan Jangka Menengah Daerah (Musrenbang RPJMD) Kabupaten Teluk Bintuni dipenuhi denyut semangat kolaboratif.
Di sana, lintas elemen masyarakat dan pemerintah duduk bersama, tak sekadar mendengarkan, tapi juga merumuskan arah pembangunan lima tahun ke depan.
“RPJMD bukan sekedar dokumen. Ia adalah peta jalan kita bersama,” tegas Bupati Teluk Bintuni, Yohanis Manibuy, SE, MH dalam sambutannya.
Merancang Masa Depan yang Tidak Asal Jalan
Penyusunan RPJMD 2025–2029 ini menjadi titik tolak penting bagi Teluk Bintuni. Bupati menekankan pentingnya perencanaan yang aspiratif, adaptif, dan akuntabel—bukan perencanaan yang dibuat di menara gading, melainkan lahir dari suara rakyat, berpijak pada kebutuhan riil dan potensi lokal.
“Kita harus menyusun RPJMD yang realistis dan menjawab langsung kebutuhan masyarakat. Bukan sekadar seremonial, tetapi forum ini menjadi ruang menyampaikan kritik dan ide yang konstruktif,” ucapnya, mengajak hadirin untuk berani bersuara demi kemajuan bersama.
Visi SERASI: Sehat, Enerjik, Religius, Andal, Smart, dan Inovatif
Dalam arah pembangunan lima tahun ke depan, Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni telah menetapkan visi besar: “Mewujudkan masyarakat yang sehat, enerjik, religius, andal, menuju Teluk Bintuni smart dan inovatif.”
Bukan pekerjaan mudah, tapi bukan pula impian kosong. Visi ini dibentuk dari kesadaran akan berbagai tantangan nyata: kualitas SDM yang perlu ditingkatkan, pelayanan publik yang harus diperbaiki, hingga pentingnya tata kelola pemerintahan yang lebih transparan dan partisipatif.
Duduk Bersama, Rancang Bersama
Musrenbang kali ini tidak hanya dihadiri oleh jajaran pemerintahan. Hadir pula pimpinan DPRK, Forkopimda, tokoh agama, tokoh adat, tokoh perempuan, pemuda, pimpinan perbankan, perusahaan, hingga organisasi masyarakat—menunjukkan bahwa pembangunan bukan monopoli pemerintah, tetapi tanggung jawab kolektif.
Plt. Sekda, para kepala distrik, dan pejabat tinggi pratama tampak berdiskusi aktif dalam sesi-sesi kelompok. Ada kesadaran bahwa pembangunan harus selaras dengan RPJMN dan RPJMD Provinsi Papua Barat, agar Teluk Bintuni tidak jalan sendiri, tapi seiring dengan denyut pembangunan nasional dan regional.
Tifa dan Tekad
Tifa yang ditabuh tujuh kali bukan sekadar pembuka acara. Ia menjadi simbol pengingat bahwa pembangunan harus menghormati keberagaman dan berpijak pada kearifan lokal.
Dengan tifa, niat dan tekad dinyatakan. Dengan dokumen RPJMD, arah dan langkah disusun. Tapi dengan kerja sama seluruh pemangku kepentingan, barulah Teluk Bintuni SERASI bukan hanya menjadi slogan, tapi kenyataan yang hidup di tengah masyarakat.
Musrenbang ini bukan akhir, tapi awal dari perjalanan panjang. Dan sebagaimana yang disampaikan Bupati di penghujung sambutannya: “Mari kita bersinergi, bekerjasama, dan menjaga semangat kolaborasi demi masa depan Teluk Bintuni yang lebih baik. ***













