Views: 293
Fenomena Gunung Es, ODHIV di Teluk Bintuni: Kasus Tembus 1.049 Orang, Stigma Masih Tinggi
BINTUNI — Di balik kehidupan sehari-hari masyarakat Teluk Bintuni yang terlihat tenang, ada ancaman kesehatan yang terus mengintai dalam senyap. Bukan karena tak terlihat, tapi karena banyak yang memilih diam. Hingga Februari 2025, Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni mencatat 1.049 orang telah terinfeksi virus HIV — angka yang terus merangkak naik dari tahun ke tahun.
Lebih dari sekadar statistik, angka itu mencerminkan kenyataan pahit: penularan HIV kini bukan hanya masalah di kota, tapi telah menyebar ke hampir seluruh pelosok distrik.
❖ Kasus Menyebar ke Semua Distrik
“Kalau dulu kasus HIV hanya terkonsentrasi di kota Bintuni, sekarang penyebarannya sudah merata di semua layanan Puskesmas,” ungkap Kepala Bidang Pencegahan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Teluk Bintuni, Alloysius Nafurbenan, SKM, saat ditemui wartawan, Senin (29/9/2025) di Gedung ATM Dinas Kesehatan Teluk Bintuni.
Temuan itu bukan isapan jempol. Data Dinkes mencatat, 900 kasus berada di Distrik Bintuni, 51 kasus di Distrik Babo, 54 kasus di Distrik Manimeri, dan 50 kasus di Distrik Sumuri. Bahkan, di distrik-distrik lainnya yang sebelumnya dianggap “aman”, kini mulai ditemukan 1 hingga 6 kasus baru.
❖ Fenomena Gunung Es: Yang Tak Terlihat Lebih Banyak
Ironisnya, angka 1.049 itu belum mencerminkan situasi yang sesungguhnya. Sebab, menurut Alloysius, banyak kasus yang belum terdeteksi.
“Kasus HIV ini seperti fenomena gunung es. Yang terlihat di permukaan hanya sedikit. Yang tidak terdeteksi jauh lebih banyak,” ujarnya.
Ia mengibaratkan kondisi itu seperti mata buaya yang menyala ketika disenter di malam hari di sungai atau laut. “Kita hanya lihat matanya berwarna merah, tapi tubuh besar di bawah permukaan air itu tidak terlihat. HIV juga begitu, yang terdeteksi itu sedikit, padahal yang belum terdeteksi jumlahnya besar sekali,” tambahnya.
Hingga kini, lebih dari 100 orang pengidap HIV telah meninggal dunia, meskipun jumlah pastinya sulit dipastikan. Banyak di antara mereka kembali ke kampung halaman tanpa memberi kabar, sehingga menyulitkan proses pendataan.
❖ Lonjakan Kasus Setiap Tahun
Kecenderungan peningkatan kasus HIV di Bintuni menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa tahun terakhir, penambahan kasus baru terus meningkat.
“Dulu dalam satu tahun hanya ada sekitar 45 kasus baru. Sekarang, setiap tahun bisa bertambah lebih dari 100 kasus,” tutur Alloysius.
Bahkan dalam periode Januari–Mei 2025 saja, sudah tercatat lebih dari 50 kasus baru. Ia memperkirakan jumlah itu akan terus bertambah hingga akhir tahun, tergantung pada hasil pemeriksaan lapangan.
Contohnya, pada Agustus 2025 saat dilakukan pemeriksaan di Distrik Weriagar, petugas lapangan menemukan tujuh kasus baru HIV dalam satu kali kegiatan.
❖ Pengetahuan Rendah, Kondom Ditolak
Menurut Alloysius, salah satu penyebab sulitnya menekan laju penularan HIV adalah minimnya pengetahuan masyarakat tentang cara pencegahan.
“Banyak yang tidak tahu bagaimana HIV bisa menular dan bagaimana cara mencegahnya,” ujarnya.
Padahal, sosialisasi sudah dilakukan melalui berbagai media, penyuluhan di Puskesmas, hingga distribusi kondom sebagai alat pencegahan. Namun, penggunaan kondom masih sering ditolak oleh masyarakat.
“Kalau orang terinfeksi HIV dikumpulkan dalam satu tempat agar tidak kontak dengan orang lain, mungkin akan lebih mudah diawasi. Tapi itu tidak mungkin dilakukan. Karena itu, pencegahan harus dilakukan melalui edukasi dan perilaku yang benar,” katanya.
❖ Stigma Masih Jadi Penghalang
Selain rendahnya pengetahuan, stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV (ODHIV) masih menjadi masalah serius di Teluk Bintuni. Banyak penderita yang enggan memeriksakan diri atau mengonsumsi obat karena takut dijauhi lingkungan sekitar.
“HIV itu sama seperti penyakit lain. Harus minum obat setiap hari. Jangan berhenti walau sudah merasa sehat,” tegas Alloysius.
Ia menambahkan, ketika virus tidak lagi terdeteksi, banyak orang yang keliru menganggap dirinya sudah sembuh. “Padahal virusnya tetap ada di dalam tubuh. Kalau berhenti minum obat, virus akan aktif lagi dan membuat kondisi tubuh menurun,” ujarnya.
Dengan pengobatan yang rutin, ODHIV bisa hidup sehat dan produktif seperti orang lain. “Kalau minum obat setiap hari, kondisi tubuhnya bisa tetap kuat dan normal,” tambahnya.
❖ Jalan Panjang Melawan HIV
Pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan terus berupaya melakukan pemeriksaan lapangan, memperluas akses layanan, dan mengedukasi masyarakat. Namun, tanpa kesadaran kolektif, perjuangan ini akan terus berjalan lambat.
HIV bukan lagi sekadar isu medis — ia adalah cermin dari pengetahuan, sikap, dan kepedulian kita sebagai masyarakat. Karena itu, langkah paling nyata yang bisa dilakukan bukan hanya memeriksa dan mengobati, tapi juga menghapus stigma dan membuka ruang empati bagi mereka yang hidup dengan virus ini.
“Mereka bukan berbeda. Mereka hanya butuh kesempatan untuk tetap hidup sehat,” – Alloysius Nafurbenan.
Reporter: Redaksi Kadate / Inspirasi Papua
Editor: [M.Ahmad]

