Soliditas Tenaga Kesehatan, Kunci Wujudkan Visi Bintuni Sehat

Suasana penutupan Rapat Kerja Bidang Kesehatan Masyarakat tahun 2025 di Gedung Women and Child Bintuni, jadi momentum menyatukan tekad tenaga kesehatan demi pelayanan yang lebih baik hingga pelosok kampung. Nampak Plt. Kadin Kesehatan Teluk Bintuni Yohanis Manobi didampingi Staf Khusus Dinas Kesehatan dr. Andreas Ciokan dan Kabid Kesmas Kristin Inanosa ketika berdialog dengan para Kepala Puskesmas se Teluk Bintuni sekaligus menutup Raker tersebut, Kamis 18 September 2025. (ist/Kadate/Inspirasi Papua)
Bagikan berita ini

Views: 96

Rapat Kerja Kesehatan Masyarakat Teluk Bintuni Ditutup: Dari Ruang Diskusi Menuju Aksi Nyata di Lapangan

 

BINTUNI – Kamis sore, 18 September 2025, suasana di Gedung Women and Child Bintuni terasa berbeda. Ratusan tenaga kesehatan dari seluruh Puskesmas se-Kabupaten Teluk Bintuni berkumpul dengan wajah letih sekaligus puas. Selama tiga hari (16-18 September 2025) mereka mengikuti Rapat Kerja (Raker) Bidang Kesehatan Masyarakat yang digagas oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni.

Hari itu, raker resmi ditutup oleh Bupati Teluk Bintuni melalui Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan, Yohanis R. Manobi, disaksikan Staf Khusus Bupati Bidang Kesehatan, dr. Andreas Ciokan, dan Kabid Kesmas, Kristina Inanosa.

Apresiasi untuk Garda Terdepan Kesehatan

Dalam sambutannya, Manobi menyampaikan penghargaan kepada para kepala Puskesmas dan seluruh jajaran kesehatan yang dengan penuh semangat mengikuti jalannya kegiatan sejak hari pertama. “Semangat bapak ibu semua menjadi modal utama untuk kita terus meningkatkan layanan kesehatan di Bintuni. Mari bekerja sesuai perencanaan, bukan sekedar rutinitas,” ujarnya.

Pernyataan ini sejalan dengan arah pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) 2025–2030 yang menempatkan sektor kesehatan sebagai salah satu prioritas utama. Sebagai perangkat daerah, Puskesmas dituntut menerjemahkan Visi-Misi Bupati ke dalam rencana strategis (Renstra) maupun rencana kerja (Renja) yang nyata dan terukur.

Permintaan Dukungan yang Tulus

Ada hal menarik yang muncul dalam penutupan raker ini. Di hadapan para tenaga kesehatan, Manobi secara terbuka menyampaikan bahwa dirinya bukanlah seorang dokter atau tenaga medis. Sebagai ASN yang lama berkecimpung di bidang manajemen, ia merasa perlu mengulurkan tangan meminta dukungan.

“Sebagai aparatur sipil negara, saya tidak punya keahlian medis. Tapi saya punya pengalaman manajemen, dan itu yang akan saya optimalkan. Namun semua itu tidak akan berarti tanpa dukungan bapak ibu semua, insan Bakti Husada Teluk Bintuni,” ucapnya dengan nada tulus.

Sontak, suasana ruangan menjadi hening sejenak, lalu disambut tepuk tangan peserta. Momen ini terasa hangat, mencerminkan sebuah kerendahan hati sekaligus tekad kuat untuk bersama-sama membangun sistem kesehatan yang lebih baik.

Dialog Dua Arah, Bukan Sekedar Seremonial

Penutupan raker ini bukan hanya seremoni. Para kepala Puskesmas diberi kesempatan berdialog langsung dengan Plt Kadinkes dan staf khusus bupati. Di sesi diskusi itu, berbagai persoalan di lapangan disampaikan tanpa tedeng aling-aling: mulai dari keterbatasan tenaga medis, distribusi obat yang belum merata, hingga kendala fasilitas pelayanan di distrik-distrik terpencil.

“Raker ini jadi ruang kita untuk bicara apa adanya, karena kami di lapangan yang tahu persis apa yang terjadi. Harapan kami, masukan ini tidak berhenti di sini, tetapi ditindaklanjuti,” ujar salah satu kepala Puskesmas.

Dialog terbuka semacam ini memberi kesan bahwa pemerintah daerah tidak sekadar menuntut, tetapi juga mendengar. Inilah yang membuat raker tahun ini berbeda—lebih humanis, lebih membumi.

Harapan untuk Soliditas Tim Kesehatan

Di akhir acara, Manobi mengingatkan kembali pentingnya kerja tim yang solid. Menurutnya, keberhasilan pembangunan kesehatan bukanlah capaian individu, melainkan buah dari kerja bersama. “Mari kita utamakan kesuksesan bersama demi mewujudkan visi dan misi bupati. Kita semua adalah satu tim, dari kantor dinas sampai Puskesmas di kampung-kampung,” tegasnya.

Pesan ini mengandung makna penting: kesehatan masyarakat adalah tanggung jawab kolektif, bukan hanya pemerintah. Puskesmas dengan segala keterbatasannya tetap menjadi ujung tombak pelayanan, tempat pertama masyarakat menggantungkan harapan ketika sakit.

Lebih dari Sekedar Rapat

Tiga hari raker ini mungkin terlihat singkat. Namun, bagi tenaga kesehatan di Teluk Bintuni, ini adalah momentum untuk menyatukan langkah, memperbarui semangat, dan menyamakan persepsi tentang arah pembangunan kesehatan daerah.

Ketika para peserta meninggalkan gedung, sebagian wajah tampak penat, tapi ada pula pancaran optimisme. Seakan mereka pulang dengan beban sekaligus energi baru: beban karena tantangan di lapangan begitu besar, energi karena ada harapan yang tumbuh bahwa pemerintah mau mendengar dan bergerak bersama.

Di tengah segala keterbatasan, raker ini menjadi pengingat sederhana: kesehatan adalah hak dasar setiap warga, dan memastikan layanan itu hadir di kampung-kampung adalah tugas mulia yang membutuhkan kerja sama tanpa henti.

(MA/Kadate/Inspirasi Papua)

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *