Jangan Remehkan Napasmu! PDPI Papua Ajak Warga Jaga Paru Sejak Dini

dr. Wiendo Syahputra Yahya, Sp.P, MMRS, FAPSR, FISR ketika dirinya akan memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga kesehatan paru-paru kepada masyarakat dalam kegiatan penyuluhan memperingati World Lung Day 2025 di RSUD Teluk Bintuni, Jumat (26/9/2025) di RSUD Teluk Bintuni.(ist/Kadate/Inspirasi Papua)
Bagikan berita ini

Views: 80

World Lung Day 2025: PDPI Papua Ajak Warga Sayangi Paru-Paru, Sayangi Hidupmu

 

BINTUNI, 28 September 2025 – Paru-paru mungkin tak terlihat, tetapi kerja kerasnya terasa setiap kali kita menarik napas. Di balik setiap helaan udara segar, organ vital ini bekerja tanpa lelah menjaga kita tetap hidup.

Dalam momentum World Lung Day (Hari Paru Sedunia) yang diperingati setiap 25 September, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Papua kembali mengingatkan betapa pentingnya menjaga kesehatan paru-paru sebagai kunci hidup panjang dan berkualitas.

“Paru sehat, hidup sehat. Kedengarannya sederhana, tapi ini adalah kunci untuk masa depan kita,” ujar dr. Wiendo Syahputra Yahya, Sp.P, MMRS, FAPSR, FISR, mewakili PDPI Papua pada kegiatan Penyuluhan Kesehatan Paru di RSUD Teluk Bintuni hari Jumat 26 September 2025 Dalam Rangka Hari Paru Sedunia (World Lung Day) 2025.

Dengan mengusung tema “Healthy Lungs, Healthy Life (Paru Sehat untuk Hidup Sehat)”, PDPI Papua menekankan bahwa paru-paru bukan sekadar organ pernapasan. Lebih dari itu, ia menjadi “mesin utama” tubuh yang menyediakan oksigen, membuang karbondioksida, melindungi dari mikroorganisme berbahaya, bahkan berperan dalam menjaga fungsi jantung tetap stabil.

“Data WHO menunjukkan, penyakit paru dan saluran pernapasan masih termasuk penyebab utama kematian di dunia. Jadi menjaga paru-paru bukan pilihan, tapi investasi penting untuk masa depan,” tegas dr. Wiendo.

Banyak Ancaman, Tapi Bisa Dicegah

Menurut PDPI Papua, ancaman kesehatan paru bisa datang dari banyak arah: mulai dari faktor genetik dan penyakit bawaan, hingga gaya hidup modern seperti merokok, kurang olahraga, pola tidur buruk, dan konsumsi alkohol.

Lingkungan yang tercemar, rumah tanpa ventilasi memadai, hingga perubahan iklim pun ikut memperburuk kondisi. Belum lagi paparan debu dan zat kimia di tempat kerja, serta infeksi seperti bakteri atau virus yang mudah menyebar.

Masalah sosial-ekonomi seperti rendahnya tingkat pendidikan, kemiskinan, dan keterbatasan akses kesehatan juga menjadi tantangan tersendiri.

Namun, dr. Wiendo menegaskan, sebagian besar risiko itu bisa dicegah jika masyarakat menerapkan gaya hidup sehat sejak dini. Ia membagikan 6 langkah sederhana namun efektif:
1. Hirup udara bersih dan segar.
2. Rutin berolahraga.
3. Lengkapi vaksinasi, terutama untuk balita dan lansia.
4. Berhenti merokok.
5. Konsumsi makanan bergizi seimbang.
6. Waspadai dampak perubahan iklim.

“Perubahan kecil yang kita lakukan hari ini, bisa menyelamatkan hidup kita di masa depan,” pesannya.

Deteksi Dini, Selamatkan Nyawa

PDPI Papua juga mengajak masyarakat untuk tidak menunggu gejala parah sebelum memeriksakan diri. Skrining paru bisa menjadi langkah penting untuk deteksi dini berbagai penyakit yang sering tidak terdeteksi pada tahap awal.

Beberapa program yang direkomendasikan antara lain:

Skrining Tuberkulosis (TBC): Pemeriksaan rontgen menggunakan unit mobile yang menjangkau fasilitas kesehatan, permukiman, hingga lembaga pemasyarakatan.

Kuisioner PUMA: Alternatif bagi puskesmas tanpa alat spirometri untuk mendeteksi gejala PPOK (penyakit paru obstruktif kronik).

Skrining Kanker Paru: Disarankan bagi usia 45–71 tahun yang terpapar asap rokok, mantan perokok, atau memiliki riwayat kanker keluarga.

“Dulu Saya Tidak Pernah Peduli…”

Kesadaran akan pentingnya paru yang sehat sering kali datang setelah terlambat. Seorang warga Jayapura yang mengikuti skrining paru bercerita, ia dulu tidak pernah memerhatikan kondisi kesehatannya.

“Dulu saya pikir batuk-batuk biasa itu hal sepele. Tapi setelah diperiksa, ternyata ada masalah di paru-paru saya. Untungnya masih bisa ditangani karena ketahuan lebih awal,” tuturnya.

Kisah serupa juga datang dari seorang ibu rumah tangga yang baru berhenti merokok setelah melihat hasil pemeriksaan paru-parunya.
“Sekarang saya jadi lebih rajin olahraga dan menjaga makanan. Saya ingin hidup lebih lama bersama keluarga,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Momentum World Lung Day ini, kata dr. Wiendo, seharusnya menjadi pengingat bagi semua orang bahwa paru-paru adalah sahabat hidup yang harus dijaga setiap hari.

“Menjaga paru bukan sekadar soal kesehatan, tapi soal masa depan. Dengan paru yang sehat, kita bisa bernapas lebih panjang, berkarya lebih lama, dan menikmati hidup dengan lebih baik,” tutupnya.

World Lung Day diperingati setiap tanggal 25 September sebagai kampanye global meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan paru-paru. Tahun ini, pesan utamanya sederhana namun bermakna: Sayangi paru-parumu, karena dari sanalah kehidupan dimulai.

(Laporan Redaksi Kadate/Inspirasi Papua)

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *