Views: 27
PDPI Papua Edukasi Warga Bintuni soal Skrining Kanker Paru, Tekankan Deteksi Dini Selamatkan Nyawa
BINTUNI, PAPUA BARAT – Dalam rangka memperingati World Cancer Day (Hari Kanker Sedunia) yang diperingati setiap 4 Februari, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Papua menggelar penyuluhan skrining dan deteksi dini kanker paru di Poliklinik RSUD Teluk Bintuni, Kamis (12/2/2026).
Kegiatan ini menyasar para pengunjung poliklinik dengan pendekatan edukatif dan humanis, agar masyarakat semakin sadar pentingnya mengenali faktor risiko dan gejala kanker paru sejak dini.
Materi penyuluhan disampaikan langsung oleh Ketua PDPI Cabang Papua, dr. Wiendo Syahputra Yahya, Sp.P, M.MRS, FAPSR, FISR. Ia menekankan bahwa tema Hari Kanker Sedunia tahun ini, “United by Unique”, mengajak semua pihak untuk bersatu dalam keberagaman pengalaman menghadapi kanker.
“Berdasarkan data International Agency for Research on Cancer (IARC) tahun 2022, kanker paru merupakan kanker terbanyak kedua setelah kanker payudara pada semua jenis kelamin dan usia. Untuk laki-laki di Indonesia, kanker paru bahkan menjadi kanker yang paling sering ditemukan saat ini,” jelas dr. Wiendo.
Ancaman Serius, Banyak Ditemukan di Stadium Lanjut
Menurutnya, kanker paru adalah keganasan yang berasal dari saluran pernapasan dan jaringan paru, baik primer maupun akibat penyebaran (metastasis) dari organ lain. Penyakit ini dapat menyebar ke organ vital seperti otak, tulang, dan hati.
Yang memprihatinkan, sebagian besar pasien datang dalam kondisi stadium lanjut.
“Hanya sekitar 17 persen pasien kanker paru yang dapat bertahan hidup dalam lima tahun setelah terdiagnosis. Di dunia, 58 persen kasus ditemukan di negara berkembang, termasuk Indonesia,” ungkapnya.
Kondisi ini, lanjutnya, tidak lepas dari rendahnya kesadaran skrining serta kebiasaan merokok yang masih tinggi.
Rokok Faktor Risiko Utama
Rokok disebut sebagai faktor risiko utama kanker paru, disamping usia di atas 50 tahun, faktor genetik, paparan radiasi, iritasi kronik, serta zat kimia karsinogen.
Pada tahap awal, kanker paru sering kali tidak menimbulkan gejala karena ukuran tumor masih kecil dan berada di pinggir paru. Gejala biasanya muncul ketika ukuran membesar atau sudah menyebar.
“Batuk kronik, batuk berdarah, nyeri dada, dan sesak napas harus diwaspadai. Bahkan nyeri di lengan atau gangguan penglihatan bisa terjadi jika tumor menekan saraf,” jelas dr. Wiendo.
Ia juga menambahkan, pembengkakan pada wajah, leher, dan dada dapat muncul jika kanker menekan pembuluh darah besar di area tersebut.
Pengobatan Butuh Kolaborasi Spesialis
Penegakan diagnosis kanker paru membutuhkan kerja sama lintas disiplin, mulai dari dokter spesialis paru, radiologi, hingga patologi anatomi.
Sementara itu, pilihan terapi disesuaikan dengan jenis sel kanker, stadium, kondisi klinis pasien, serta aspek pembiayaan.
“Pengobatan dapat berupa operasi, kemoterapi, radioterapi, terapi target oral, hingga imunoterapi,” paparnya.
Skrining untuk yang Sehat, Deteksi Dini untuk yang Bergejala
Dalam kesempatan tersebut, PDPI juga memperkenalkan kuisioner skrining yang telah direkomendasikan untuk digunakan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) atau Puskesmas.
Skrining ditujukan bagi masyarakat sehat tanpa gejala, terutama mereka yang memiliki faktor risiko. Sementara deteksi dini diperuntukkan bagi masyarakat yang sudah mengalami keluhan pernapasan.
“Kami berharap masyarakat tidak menunggu sakit berat baru memeriksakan diri. Datang lebih awal berarti peluang hidup lebih besar,” tutup dr. Wiendo.
Melalui kegiatan ini, PDPI Papua berharap pesan peringatan Hari Kanker Sedunia tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, melainkan menjadi momentum perubahan perilaku hidup sehat di tengah masyarakat Teluk Bintuni—karena melawan kanker dimulai dari kesadaran dan kepedulian bersama.
(MA/Inspirasi Papua)













