Teluk Bintuni Menoreh Sejarah: Puluhan Polisi Raih Toga Sarjana & Magister, Robohkan Stigma dan Banggakan Daerah

Dari pos jaga ke ruang kuliah, dari seragam cokelat ke toga wisuda — sejarah baru lahir di Bintuni. Polisi Papua Barat membuktikan, di balik tugas mengayomi, ada tekad belajar hingga meraih gelar sarjana dan magister hukum. (ist/Kadate/Inspirasi Papua)
banner 468x60
Bagikan berita ini

Views: 414

Cahaya Baru dari Bintuni: Ketika Polisi Mengejar Ilmu di Tengah Tugas Pengabdian

 

MAKASSAR — Di balik seragam cokelat yang sehari-hari melekat di tubuh mereka, ada mimpi besar yang diam-diam dipelihara. Mimpi sederhana: bisa duduk di bangku kuliah, meraih gelar, dan membuktikan bahwa menjadi polisi bukan berarti berhenti belajar.

Hari itu, Rabu, 02 September 2025 yang cerah di Makassar, suasana Gedung Auditorium Universitas Kristen Indonesia Paulus (UKIP) penuh dengan rasa haru. Tangis bahagia pecah di antara toga hitam dan senyum para wisudawan. Sebanyak 116 personel Polda Papua Barat resmi menamatkan pendidikan Strata 1 (S1) Sarjana Hukum dan Strata 2 (S2) Magister Hukum. Sebuah capaian yang dulu hanya jadi angan, kini menjelma kenyataan.

Dari jumlah itu, 42 orang berhasil menggenggam gelar sarjana, sementara 17 lainnya naik selangkah lebih tinggi dengan menyandang gelar magister. Sisanya akan menyusul dalam gelombang kedua, yang dijadwalkan Maret mendatang.

Bagi sebagian orang, ini mungkin sekedar sebuah acara wisuda. Namun bagi mereka, terutama personel dari Polres Teluk Bintuni, momen ini adalah sejarah baru. Sebuah bukti bahwa keterbatasan jarak, medan tugas, dan waktu bukan penghalang untuk menuntut ilmu.

Lutfi: Dari Ruang Pelayanan Publik ke Ruang Kuliah

Salah satu wajah yang tampak sumringah hari itu adalah Ipda Lutfi Hakim Iha, SH. Nama yang tak asing bagi masyarakat Teluk Bintuni. Selama ini, ia dikenal sebagai Kasi Humas Polres, yang saban hari sibuk menjawab pertanyaan wartawan dan mengurus berbagai informasi publik.

Namun kali ini, Lutfi bukan hadir sebagai pejabat humas. Ia berdiri di antara para wisudawan, dengan toga melekat di tubuhnya dan kalung medali di dada. Dengan suara bergetar, ia menyampaikan rasa syukurnya mewakili rekan-rekan.

“Selama ini ada anggapan bahwa polisi hanya lulusan SMA saja. Dengan program ini, kami ingin buktikan bahwa polisi juga bisa menempuh pendidikan tinggi, bahkan hingga jenjang magister,” ujarnya, matanya tampak berkaca-kaca.

Lutfi tak sendiri. Dari Polres Teluk Bintuni, ada 39 personel lain yang juga berhasil menyelesaikan pendidikan hukum. Sebagian besar dari mereka bahkan belum pernah membayangkan bisa melanjutkan kuliah, apalagi di tengah kesibukan menjaga keamanan masyarakat di daerah yang jauh dari pusat kota.

Perjuangan di Antara Seragam dan Buku

Tak mudah memang. Di balik toga yang dipakai hari itu, tersimpan kisah-kisah perjuangan. Ada yang harus membagi waktu antara berjaga di pos malam dengan menulis tugas kuliah. Ada pula yang rela berjam-jam mengikuti kuliah daring di sela jadwal patroli.

“Kadang kami harus belajar di pinggir jalan, di mobil dinas, bahkan sambil menunggu laporan selesai,” kenang salah seorang personel sambil tertawa kecil.

Namun semua lelah itu terbayar lunas. Dukungan penuh dari Kapolda Papua Barat, Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir, serta motivasi dari para Kapolres, termasuk AKBP Hari Sutanto dan pendahulunya, AKBP Dr. Choiruddin Wahid, menjadi energi tambahan. Mereka tak hanya memberi izin, tapi juga dorongan moral, agar para anggotanya tak ragu menuntut ilmu.

Lebih dari Sekadar Gelar

Apa arti sebuah gelar bagi seorang polisi? Bagi mereka, ini bukan hanya soal prestise. Pendidikan hukum yang ditempuh justru memperkaya wawasan, memperhalus cara pandang, sekaligus memperkuat profesionalisme saat bertugas.

“Dengan pemahaman hukum yang lebih mendalam, kami bisa melayani masyarakat dengan lebih baik, lebih bijak, dan lebih humanis,” ujar Lutfi.

Program pendidikan ini juga menepis stigma lama. Bahwa polisi tak bisa sekolah tinggi, bahwa pendidikan hanya milik segelintir orang. Hari itu, stigma itu runtuh.

Sejarah Baru dari Timur Indonesia

Papua Barat kini punya wajah baru dalam tubuh Polri: wajah-wajah intelektual, akademisi berseragam, yang lahir dari perjuangan panjang. Dan menariknya, gelombang kedua wisuda yang akan digelar pada Maret nanti diperkirakan lebih besar.

Universitas Kristen Indonesia Paulus, yang menjadi mitra pendidikan, juga menaruh harapan besar. Kampus ini bukan hanya memberi ruang belajar, tapi juga mengukir jejak dalam sejarah pendidikan anggota Polri di Papua Barat.

“Ini adalah investasi besar bagi SDM Polri. Bukan hanya untuk institusi, tapi juga untuk masa depan masyarakat yang mereka layani,” ujar salah satu pejabat kampus usai wisuda.

Tangis Bahagia Keluarga

Tak kalah mengharukan adalah pemandangan keluarga para wisudawan. Ada istri yang tak kuasa menahan air mata saat melihat suaminya naik ke panggung. Ada anak-anak yang bangga berteriak, “Itu ayahku!” saat nama ayah mereka dipanggil.

“Dulu saya sering marah karena ayah jarang pulang. Ternyata ayah belajar. Hari ini saya bangga sekali,” kata seorang anak kecil sambil memegang erat toga ayahnya.

Kalimat polos itu seolah menegaskan: perjuangan ini bukan hanya milik polisi, tapi juga milik keluarga mereka yang setia mendukung.

Penutup: Polisi Juga Manusia yang Belajar

Hari itu, di Makassar, para polisi dari Papua Barat membuktikan bahwa ilmu tak mengenal batas. Mereka tetaplah pengayom, tetaplah pelindung masyarakat. Tapi mereka juga manusia yang belajar, yang berjuang, dan yang bermimpi.

Mungkin, di jalan-jalan Teluk Bintuni nanti, masyarakat akan melihat wajah polisi yang sama. Tapi di balik seragam itu, kini ada kebanggaan baru: gelar sarjana dan magister, yang lahir dari keringat, air mata, dan doa.

Dan siapa tahu, dari bangku kuliah yang mereka duduki hari ini, lahirlah generasi polisi masa depan yang tak hanya gagah di lapangan, tapi juga cerdas di ruang-ruang diskusi. Polisi yang bisa menjawab tantangan zaman dengan ilmu dan hati.

(Tim Redaksi KADATE/Inspirasi Papua)

About Post Author

banner 468x40

banner 468x40

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *