Rakercab III PATELKI Bintuni, Perkuat Peran ATLM Tangani TBC

Kebersamaan dan komitmen untuk kesehatan, PATELKI Cabang Teluk Bintuni bersama Wakil Bupati Joko Lingara dan para pemangku kepentingan saat pembukaan Rakercab III di Aula RSUD Teluk Bintuni, Sabtu (6/12/2025). Rakercab ini menjadi langkah nyata memperkuat peran Ahli Teknologi Laboratorium Medik dalam upaya pengendalian Tuberkulosis di Teluk Bintuni. (ist/Inspirasi Papua)
Bagikan berita ini

Views: 174

PATELKI Teluk Bintuni Gelar Rakercab III, Perkuat Peran ATLM dalam Eliminasi TBC

 

BINTUNI, PAPUA BARAT — Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik Indonesia (PATELKI) Cabang Teluk Bintuni menggelar Rapat Kerja Cabang (Rakercab) III di Aula RSUD Teluk Bintuni, Sabtu (6/12/2025).

Kegiatan ini menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus penguatan peran tenaga laboratorium medik dalam mendukung pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya penanggulangan Tuberkulosis (TBC).

Rakercab III dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Teluk Bintuni, Joko Lingara. Hadir dalam kegiatan tersebut Plt Direktur RSUD Teluk Bintuni dr. Novita Panggau, Sp.PD, MMRS, FINASIM; dr. Johannes Risamasu, Sp.PK, M.Kes (IDI Teluk Bintuni); Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PATELKI Papua Barat Emi Tolanda, S.Tr.Kes; Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) dan Kepala Bidang Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Teluk Bintuni, serta perwakilan Puskesmas se-Kabupaten Teluk Bintuni.

Kegiatan Rakercab dilaksanakan secara hybrid, dengan partisipasi 23 peserta secara luring dan 15 peserta secara daring. Peserta berasal dari analis laboratorium atau Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) yang bertugas di Puskesmas, Dinas Kesehatan, dan RSUD Teluk Bintuni.

Mengangkat tema “Menguatkan Kepengurusan, Meningkatkan Kompetensi, dan Mengabdi untuk Kesehatan Masyarakat”, Rakercab III diisi dengan pelantikan pengurus PATELKI Cabang Teluk Bintuni, rapat organisasi, serta seminar kesehatan. Seminar tersebut membahas Optimalisasi Peran Analis Laboratorium Medik dalam Pemeriksaan Sampel Pasien Tuberkulosis (TBC) di Teluk Bintuni.

Dalam seminar, dr. Wiendo memaparkan materi tentang update tatalaksana Tuberkulosis di Indonesia. Ia mengungkapkan, berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2024, jumlah pasien TBC di Indonesia mencapai sekitar 1.080.000 orang, dengan angka kematian 118.000 orang. Indonesia saat ini menempati peringkat kedua dunia jumlah kasus TBC setelah India.

Ia juga menyoroti sejumlah tantangan program TBC nasional, di antaranya pelaporan kasus yang belum mencapai target, jumlah pasien yang memulai pengobatan dan sembuh masih di bawah sasaran, penemuan kasus secara aktif yang masih rendah, serta cakupan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) yang belum optimal.

Padahal, Indonesia menargetkan eliminasi TBC pada tahun 2030 dengan angka kejadian 65 per 100.000 penduduk dan angka kematian 6 per 100.000 penduduk. Saat ini, angka kejadian TBC nasional masih berada pada 312 per 100.000 penduduk, dengan angka kematian 34 per 100.000 penduduk.

Khusus di Teluk Bintuni, diperkirakan jumlah pasien TBC pada tahun 2025 mencapai sekitar 500 orang. Namun, pada periode Januari hingga Oktober 2025, telah ditemukan 534 pasien TBC, angka yang menunjukkan pentingnya upaya deteksi dan penanganan yang lebih intensif.

Dr. Wiendo menegaskan bahwa peran analis laboratorium medik sangat krusial dalam penanganan TBC. ATLM bertugas melakukan pemeriksaan sampel pasien, baik di Puskesmas maupun di RSUD Teluk Bintuni. Sampel yang diperiksa beragam, disesuaikan dengan lokasi infeksi, seperti dahak (sputum), bilasan lambung, jaringan kelenjar getah bening, hingga cairan pleura.

“Pemeriksaan ini bertujuan untuk menegakkan diagnosis TBC secara cepat dan akurat,” ujarnya.

Saat ini, pemeriksaan TBC menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM) yang mampu mendeteksi bakteri Mycobacterium tuberculosis sekaligus mengetahui adanya resistensi terhadap obat anti-TBC, khususnya Rifampisin, hanya dalam waktu sekitar dua jam. Di Teluk Bintuni, fasilitas TCM baru tersedia di Puskesmas Bintuni dan RSUD Teluk Bintuni, sehingga Puskesmas lainnya mengirimkan sampel ke dua fasilitas tersebut.

Selain diagnosis, ATLM juga berperan penting dalam pemantauan pengobatan pasien TBC paru melalui pemeriksaan sputum. Pemeriksaan dilakukan pada akhir bulan ke-2, akhir bulan ke-5, dan akhir pengobatan pada bulan ke-6. Saat ini, tenaga ATLM telah tersedia dan mampu melakukan pemeriksaan pemantauan pengobatan di hampir seluruh Puskesmas di Teluk Bintuni serta di RSUD Teluk Bintuni.

Melalui Rakercab III ini, PATELKI Cabang Teluk Bintuni diharapkan semakin solid secara organisasi, meningkat kompetensinya, dan terus berkontribusi nyata dalam upaya menekan angka TBC demi mewujudkan masyarakat Teluk Bintuni yang lebih sehat. (MA/Inspirasi Papua)

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *