Agustinus & Eduard Orocomna Desak Pemerintah PB Bangun Jembatan dan Jalan Vital di Moskona Barat

Agustinus Orosomna dan Eduard Orocomna meninjau Jembatan Kali Merah Irahima dan Kali Meyerga di Moskona Barat— serta jalan dan jembatan vital lainnya yang rusak parah dan kerap makan korban. Warga bentangkan spanduk ucapkan terima kasih atas kepedulian dua putra asli Moskona yang datang mendengar langsung jeritan rakyat pedalaman. (ist/Inspirasi Papua)
Bagikan berita ini

Views: 291

Jalan Berlumpur, Jembatan Lapuk, dan Nyawa Taruhannya: Agustinus & Eduard Orocomna Desak Pemerintah Bangun Akses Vital di Moskona Barat

 

BINTUNI, PAPUA BARAT —
Suara papan kayu berderit di atas Kali Merah, Kampung Irahima, Distrik Moskona Barat, menjadi saksi getir kehidupan warga pedalaman Teluk Bintuni. Di atas jembatan lapuk sepanjang 10 meter itu, Agustinus Orosomna, SH, Anggota DPR Papua Barat Fraksi Otsus, dan Eduard Orocomna, Anggota MRP Papua Barat Pokja Adat, berdiri dengan wajah serius—menyaksikan langsung potret nyata keterisolasian rakyatnya.

Dalam Reses III Tahun 2025, Rabu (5/11/2025), keduanya turun langsung menembus jalan berlumpur sejauh puluhan kilometer bersama tokoh masyarakat, kepala kampung, dan pemuda Moskona Barat. Bukan untuk seremonial—melainkan menyentuh luka nyata masyarakat yang setiap hari mempertaruhkan nyawa demi melintasi jembatan rapuh dan jalan berlubang demi bertahan hidup.

Jembatan Irahima di Ambang Runtuh: “Kalau Putus, Kami Tak Bisa ke Kota”

Kondisi Jembatan Kali Merah Irahima yang menjadi akses utama penghubung distrik Moskona Selatan dan Moskona Barat benar-benar memprihatinkan. Papan kayu banyak terlepas, kayu penopang lapuk yang sewaktu-waktu bisa menelan korban.

Kepala Kampung Irahima, Petrus Orocomna, menyampaikan langsung aspirasinya kepada Agustinus di lokasi.

“Jembatan ini kami buat swadaya dibantu TNI. Tapi sekarang sudah rusak berat. Kalau putus, masyarakat tak bisa ke kota Bintuni untuk berobat, sekolah, atau jual hasil kebun. Kami mohon agar bisa diperjuangkan masuk APBD Provinsi 2026,” ujar Petrus dengan nada harap.

Agustinus: “Ini Soal Kemanusiaan, Bukan Sekadar Infrastruktur”

Melihat kondisi itu, Agustinus Orosomna tak menahan rasa prihatin. Di hadapan warga dan tokoh adat, ia menegaskan bahwa keberadaan jembatan dan jalan bukan hanya soal fasilitas, tapi soal hak hidup dan martabat rakyat.

“Jembatan ini urat nadi masyarakat. Menghubungkan Moskona Selatan, Moskona Barat, Meyado, hingga ke Bintuni. Pemerintah tak boleh tutup mata. Ini harus menjadi prioritas dalam APBD 2026,” tegas Agustinus.

Ia menambahkan, dirinya turun ke lapangan bukan untuk formalitas reses, tetapi memastikan kondisi nyata yang kerap luput dari perhatian pemerintah.

“Saya turun bersama anggota MRPB Eduard Orocomna, tokoh adat, dan masyarakat agar suara ini terdengar langsung. Moskona juga bagian dari Papua Barat. Mereka berhak menikmati pembangunan,” lanjutnya.

Eduard Orocomna: “Pemerintah Harus Datang, Jangan Tunggu Ada Korban”

Sementara itu, Eduard Orocomna dari MRP Papua Barat turut mengecam lambannya perhatian terhadap kondisi jalan dan jembatan di wilayah pedalaman tersebut.

“Kami sudah berkali-kali suarakan lewat media dan forum resmi. Ini bukan keluhan baru. Tapi pemerintah seolah menunggu jatuh korban dulu baru turun tangan. Jalan dan jembatan ini soal kemanusiaan,” tegas Eduard.

Ia juga menyampaikan terima kasih atas kepedulian DPR Papua Barat melalui Agustinus yang datang langsung melihat dan mendengar jeritan rakyat Moskona.

“Sudah saatnya pemerintah provinsi membuka mata. Rakyat di Moskona butuh bukti nyata, bukan janji,” pungkasnya.

Kali Meyerga: Ketika Sungai Menelan Korban dan Memutus Ekonomi

Perjalanan berlanjut ke Kali Meyerga, penghubung antara Distrik Moskona Barat, Moskona Selatan, Meyado, dan Bintuni. Saat hujan turun, arus kali ini tak bisa dilintasi kendaraan atau manusia akibat banjir. Sudah banyak nyawa dan harta melayang akibat derasnya air.

Sekretaris Distrik Moskona Barat, Julianus Orocomna, menuturkan bahwa jika jalan dan jembatan di wilayah itu benar-benar putus, maka roda ekonomi akan lumpuh total.

“Selama ini masyarakat membangun jembatan kayu secara manual. Kami berharap segera dibangun jembatan beton agar akses ekonomi, pendidikan, dan kesehatan tidak terhenti,” ujarnya.

Agustinus menegaskan bahwa pemerintah harus segera membangun jembatan Meyerga sebelum bencana berikutnya terjadi.

“Ini sudah sering kami suarakan. Banyak korban di kali ini. Saatnya pemerintah jawab jeritan rakyat dengan tindakan nyata, bukan alasan,” katanya tegas.

Dari Zona Merah Jadi Zona Hijau: Moskona Barat Siap Menyambut Pembangunan

Agustinus juga menepis stigma lama bahwa wilayah Moskona Barat adalah zona merah. Menurutnya, situasi kini sudah aman dan masyarakat siap mendukung pembangunan.

“Sekarang Moskona Barat sudah hijau, aman. Masyarakat siap jaga keamanan semua pekerja. Jadi jangan takut membangun di sini,” ujarnya.

Ia menambahkan, jika infrastruktur dibiarkan rusak, masyarakat bisa kehilangan harapan dan arah.

“Kalau akses jalan dan jembatan bagus, masyarakat bisa sekolah, berobat, dan bekerja. Mereka akan makin mencintai negara ini. Tapi kalau terus diabaikan, yang rusak bukan hanya jembatan, tapi juga kepercayaan rakyat,” tandasnya dengan nada tegas.

Warga Bentangkan Spanduk, Simbol Rasa Syukur dan Harapan

Di Jembatan Kali Merah Irahima, warga membentangkan spanduk besar bertuliskan ucapan terima kasih kepada dua putra asli Moskona yang reses  ke Moskona Barat yang datang mendengar langsung aspirasi mereka.

Rasa bahagia bercampur haru menyelimuti suasana. Di mata mereka, kedatangan Agustinus dan Eduard bukan sekadar kunjungan politik, melainkan kehadiran negara dalam wujud paling sederhana: mendengarkan rakyat kecil di pedalaman.

(Penulis: Muris Ahmad/Inspirasi Papua)

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *