Views: 110
IDI & RSUD Teluk Bintuni Gelar Webinar Kegawatdaruratan: Bekali Dokter dan Perawat Tingkatkan Penanganan Pasien
BINTUNI, PAPUA BARAT — Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Teluk Bintuni bersama RSUD Teluk Bintuni menggelar Webinar Kegawatdaruratan Paru, Penyakit Dalam, dan Saraf bagi dokter umum Puskesmas, dokter RSUD, dan perawat pada Sabtu (29/11/2025). Kegiatan yang dibuka langsung oleh Plt Direktur RSUD Teluk Bintuni, dr. Novita Panggau, Sp.PD, MMRS, FINASIM, ini diikuti 42 peserta dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.
Webinar ini menghadirkan empat pemateri yang merupakan dokter spesialis aktif di Teluk Bintuni, yakni
- dr. Wiendo Syahputra Yahya, Sp.P, MMRS, FAPSR, FISR
- dr. Novita Panggau, Sp.PD, MMRS, FINASIM
- dr. Jemi Tubung, Sp.PD, M.BioMed
- dr. Puspita Sari, Sp.N
Kegawatdaruratan Paru: Kondisi yang Sering Muncul di IGD
Dalam paparannya, dr. Wiendo membahas tiga kondisi akut yang paling sering ditemui di layanan gawat darurat: serangan asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) eksaserbasi, dan batuk darah (hemoptisis).
“Ketiganya merupakan keluhan yang hampir setiap minggu kita temui di Puskesmas dan RSUD,” ujarnya.
Asma eksaserbasi dapat dialami semua kelompok usia dengan gejala sesak, batuk, mengi, hingga dada terasa berat. Kondisi ini bisa memburuk dalam hitungan menit.
PPOK tercatat sebagai penyebab kematian keenam di Indonesia pada 2024 menurut WHO.
Hemoptisis di Indonesia masih sering dipicu infeksi, terutama Tuberkulosis Paru.
DM Gawat Darurat: Ancaman yang Banyak Diabaikan
Membawakan materi penyakit dalam, dr. Novita menyoroti kegawatdaruratan Diabetes Mellitus (DM) yang kasusnya meningkat dalam beberapa tahun terakhir. WHO mencatat DM sebagai penyebab kematian nomor 3 di Indonesia pada 2024.
Kondisi gawat darurat pada pasien DM sering dipicu oleh infeksi berat, ketidakpatuhan minum obat, kesalahan penggunaan insulin, dan efek samping obat tertentu.
“Pasien DM bisa tiba-tiba mengalami perburukan bila tidak diawasi dengan baik. Ini yang harus kita antisipasi di lapangan,” katanya.
Syok Anafilaktik: Ancaman Mematikan dalam Hitungan Menit
dr. Jemi Tubung memaparkan materi tentang syok anafilaktik, sebuah kondisi alergi berat yang bisa mengancam jiwa.
“Reaksinya cepat dan menyerang lebih dari dua organ sekaligus,” jelasnya.
Penyebab umum antara lain makanan tertentu, obat-obatan, racun, dan gigitan serangga. Tanpa penanganan cepat, kondisi ini dapat menyebabkan kematian.
Stroke: Pembunuh Nomor Satu di Indonesia
dr. Puspita Sari mengulas kondisi stroke, penyebab kematian nomor satu di Indonesia pada 2024. Dengan angka kejadian 8,3 per 1000 penduduk, stroke juga menjadi penyumbang kecacatan tertinggi.
Beban pembiayaan kesehatan akibat stroke mencapai Rp 5,2 triliun pada 2023, menjadikannya salah satu penyakit dengan biaya tertinggi setelah jantung dan kanker.
Bangun Kompetensi, Selamatkan Lebih Banyak Nyawa
Melalui webinar ini, IDI dan RSUD Teluk Bintuni berharap para dokter dan tenaga kesehatan memiliki kemampuan yang lebih cepat, tepat, dan terstandar dalam menangani kasus kegawatdaruratan.
“Semakin baik kompetensi tenaga kesehatan, semakin besar peluang pasien untuk selamat,” demikian harapan penyelenggara.
Webinar ditutup dengan diskusi interaktif dan sesi tanya jawab yang berlangsung hangat. Para peserta menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini sangat membantu mereka dalam memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat Teluk Bintuni. (MA/Inspirasi Papua)













