Ansar Nurdin Datang Sebagai Anak, Disambut Keluarga di Kampung Lama

Momen hangat silaturahmi M. Anshar Nurdin dan tokoh masyarakat OAP, Robert Kemon, saat keduanya berfoto bersama di kediaman Robert Kemon di Kampung Lama, Teluk Bintuni. Pertemuan sederhana penuh kedekatan dan harapan untuk Bintuni yang lebih baik. (ist/Inspirasi Papua)
Bagikan berita ini

Views: 143

“Datang Sebagai Anak, Pulang dengan Harapan”: Momen Silaturahmi Ansar Nurdin dan Robert Kemon yang Menghangatkan Warga Bintuni

 

BINTUNI, PAPUA BARAT — Di tengah ramainya dinamika politik lokal, sebuah momen sederhana namun penuh makna terjadi di Kampung Lama, Teluk Bintuni. Tokoh muda Bintuni, M. Anshar Nurdin, berkunjung ke kediaman tokoh masyarakat Orang Asli Papua (OAP) yang sangat dihormati, Robert Kemon. Tidak ada sorotan kamera, tidak ada protokoler resmi—hanya silaturahmi hangat yang mengalir seperti percakapan keluarga.

Kunjungan tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi warga sekitar. Ansar datang bukan sebagai figur publik, melainkan sebagai seorang anak muda yang kembali menghormati orang tua, sesepuh, dan sumber kearifan kampungnya.

“Saya datang ke rumah orang tua di Kampung Lama untuk dengar cerita dan pererat kedekatan,” ujar Ansar dengan sikap merendah.

Suasana Hangat, Cerita yang Mengalir

Dalam pertemuan penuh keakraban itu, Ansar dan Robert Kemon duduk bersama di ruang tamu sederhana. Keduanya berbagi cerita tentang kehidupan kampung, masa depan generasi muda, hingga harapan terhadap pembangunan Teluk Bintuni. Tidak ada agenda politik, tidak ada skenario formal—hanya percakapan tulus antara tokoh muda dan tetua adat.

Robert Kemon menyambut kedatangan tersebut dengan penuh rasa bangga

“Kami senang dan bangga, anak muda seperti Ansar masih ingat datang ke rumah masyarakat OAP. Ini tanda bahwa dia punya hati untuk semua,” ungkapnya.

Harapan Baru untuk Teluk Bintuni

Meski suasana berlangsung santai, sejumlah persoalan penting ikut dibahas—mulai dari pendidikan anak-anak, akses kesehatan, hingga ekonomi keluarga OAP. Ansar menegaskan bahwa ia ingin terus dekat dengan masyarakat dan mendengar suara mereka secara langsung.

“Kalau kita mau bangun Bintuni, kita harus dengar masyarakat dulu. Itu prinsip yang saya pegang,” kata Ansar.

Kesamaan pandangan antara tokoh muda dan tokoh adat ini menumbuhkan optimisme baru. Warga yang menyaksikan pertemuan tersebut menilai, komunikasi semacam ini dapat menjadi awal kolaborasi kuat untuk pembangunan yang lebih inklusif.

Seorang warga menyebut momen ini sebagai “angin segar” di tengah hiruk pikuk politik.

“Kita butuh tokoh yang mau turun langsung, bukan hadir hanya di acara resmi. Yang seperti ini bikin kami percaya,” ujarnya.

Silaturahmi yang Menguatkan Bintuni

Di tengah berbagai tantangan sosial dan pembangunan, pertemuan sederhana itu menjadi pengingat bahwa perubahan besar sering lahir dari sikap saling mendengar. Silaturahmi antara Ansar Nurdin dan Robert Kemon bukan sekadar kunjungan, melainkan simbol harapan: harapan akan kedekatan, kesatuan, dan masa depan Teluk Bintuni yang lebih baik.

Kunjungan itu mungkin terlihat sederhana, tapi maknanya menyentuh banyak hati—menguatkan keyakinan bahwa kebaikan sering bermula dari langkah-langkah kecil yang tulus.

(MA/Inspirasi Papua)

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *