Di Atas Tanah Gasnya Sendiri, Anak Bintuni Bersiap Berdiri di Garis Depan

Manager Affairs External PT Genting Oil, Hendy Sahetapi, menjelaskan tahapan rekrutmen empat gelombang serta komitmen perusahaan memprioritaskan 75–85 persen anak Sumuri, Irarutu, dan Orang Asli Papua di Teluk Bintuni sebagai operator migas. (ft:MA/Inspirasi Papua)
Bagikan berita ini

Views: 75

Genting Oil Siapkan 62 Operator Lokal hingga 2029, 15 Peserta Tahap Awal Dilepas ke Cepu

 

 

BINTUNI, PAPUA BARAT – Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni bersama PT Genting Oil Kasuri Pte Ltd kembali menunjukkan komitmennya menyiapkan generasi muda lokal menjadi tuan rumah di tanah sendiri.

Sebanyak 15 peserta Apprenticeship Program 2026 resmi dilepas oleh Bupati Teluk Bintuni, Yohanis Manibuy, SE, MH, pada Senin, 21 Februari 2026.

Mereka akan menjalani pendidikan dan pelatihan selama satu tahun sebelum ditempatkan sebagai operator di fasilitas produksi Genting Oil, Nagote, Distrik Sumuri.

Empat Tahap Rekrutmen hingga 2029

Manager Affairs External PT Genting Oil, Hendy Sahetapi, menjelaskan bahwa perusahaan menyiapkan tenaga operator melalui empat tahap rekrutmen.

Sebelum diterjunkan ke lapangan, seluruh peserta wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi (PPSDM Migas), Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

“Setelah menyelesaikan pendidikan selama satu tahun, mereka akan kembali ke Bintuni dan ditempatkan di fasilitas produksi, khususnya bagian elektrik dan logistik di Nagote,” ujar Hendy.

Tahapan berikutnya direncanakan sebagai berikut:
2027: Rekrutmen 9 orang, 2028: Rekrutmen 12 orang, 2029: Rekrutmen 26 orang.

Total operator yang disiapkan hingga tahap keempat berjumlah 62 orang.

Jumlah tersebut disesuaikan dengan kebutuhan operasional karena penggunaan teknologi tinggi membuat kebutuhan tenaga kerja relatif terbatas.

Prioritaskan Anak Sumuri, Irarutu dan 7 Suku

Dalam proses rekrutmen, Genting Oil menegaskan komitmen keberpihakan kepada masyarakat adat dan Orang Asli Papua.

Mengacu pada dokumen AMDAL, komposisi penerimaan tenaga operator ditetapkan 75–85 persen untuk anak-anak dari suku Sumuri dan Irarutu serta Orang Asli Papua lainnya yang berdomisili di Teluk Bintuni.

“Kami mengutamakan anak-anak lokal. Ini sesuai komitmen dalam dokumen AMDAL,” tegas Hendy.

Selain itu, kesempatan juga diberikan kepada anak-anak dari 7 suku serta masyarakat Papua lainnya di Bintuni untuk ikut ambil bagian dalam program ini.

Fase Konstruksi Butuh 1.200–1.500 Tenaga Kerja

Tak hanya operator, Genting Oil juga tengah menyerap tenaga kerja pada fase konstruksi proyek di Nagote.

Fase konstruksi yang berlangsung sekitar 1 tahun 5 bulan ini diperkirakan membutuhkan 1.200 hingga 1.500 tenaga kerja. Saat ini, sekitar 300 orang telah bekerja, dan 45 persen di antaranya merupakan tenaga kerja lokal Bintuni.

Perusahaan juga mewajibkan para kontraktor merekrut minimal 25 persen tenaga kerja lokal sesuai ketentuan AMDAL.

Jenis pekerjaan yang tersedia antara lain: Scaffolder, Welder, Catering dan pekerjaan konstruksi lainnya.

“Harapan kami, kebutuhan tenaga kerja bisa dipenuhi dari lokal. Namun jika tidak mencukupi, maka akan direkrut dari Ring II, Papua Barat, bahkan nasional,” jelas Hendy.

Disiapkan Pelatihan Tambahan dan Jalur Rekrutmen Transparan

Untuk memperkuat kapasitas tenaga kerja lokal, perusahaan menyiapkan pelatihan bagi sekitar 100 orang pada fase konstruksi. Pelatihan akan dilakukan bertahap melalui BLK terdekat.

Genting Oil juga berkoordinasi dengan Pemda Teluk Bintuni serta P2TIM terkait proses rekrutmen. Bagi lulusan P2TIM yang belum bekerja, dipersilakan memasukkan lamaran melalui Dinas Tenaga Kerja.

Menariknya, perusahaan juga melibatkan kepala-kepala kampung dalam proses administrasi awal guna mempermudah seleksi berkas. Setelah lolos seleksi administrasi, peserta akan mengikuti wawancara dan Medical Check Up (MCU) sebelum mulai bekerja.

Seleksi tahap pertama sendiri telah dilaksanakan pada Oktober 2025 di Kantor Dinas Tenaga Kerja Teluk Bintuni.

Harapan untuk Generasi Lokal

Program ini bukan sekadar penyerapan tenaga kerja, tetapi investasi jangka panjang bagi generasi muda Teluk Bintuni.

Dengan pendidikan formal di Cepu dan penempatan langsung di fasilitas produksi Nagote, anak-anak Sumuri, Irarutu, dan tujuh suku lainnya diharapkan benar-benar menjadi bagian dari industri migas yang berdiri di atas tanah mereka sendiri.

“Yang belum mendapat kesempatan, jangan berkecil hati. Masih ada pelatihan dan rekrutmen berikutnya,” pesan Hendy.

Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa pengelolaan sumber daya alam di Teluk Bintuni perlahan membuka ruang lebih besar bagi putra-putri asli daerah untuk berdiri di garis depan industri strategis nasional.
*** (M.A/Inspirasi Papua) ***

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *