Views: 168
Dada Wakil Bupati Joko Lingara Bergemuru Saat Memegang Sang Merah Putih
BINTUNI – Senja di Alun-Alun Gelanggang Argosigemerai SP-5, Distrik Bintuni Timur, Minggu sore (17/8/2025), tak seperti biasanya. Langit jingga yang merona berpadu dengan tiupan angin lembut, membawa suasana hening yang sarat makna. Ribuan pasang mata tertuju ke tengah lapangan, menanti detik-detik sakral penurunan Sang Saka Merah Putih, penutup peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Di hadapan barisan TNI, Polri, ASN, pelajar, hingga tokoh adat tujuh suku, Wakil Bupati Teluk Bintuni Joko Lingara berdiri tegap sebagai Inspektur Upacara. Suaranya mantap, memberi komando dengan penuh wibawa, namun matanya menyimpan getar perasaan yang dalam.
Momen paling menyentuh hadir ketika Misda Iriwanas, pelajar SMAN 2 Bintuni, melangkah dengan hati-hati. Tangannya yang gemetar mengangkat baki berisi Sang Merah Putih. Perlahan ia menyerahkan bendera itu ke tangan Wakil Bupati. Saat itulah dada Joko Lingara bergemuruh. Ia menunduk hormat, menerima bendera dengan mata berkaca-kaca. Sejenak waktu terasa terhenti—seolah menghubungkan hari ini dengan masa lalu, ketika para pahlawan mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan.
“Di momen ini, saya benar-benar merasakan semangat juang mereka hidup kembali di hati kita semua. Merah adalah keberanian, putih adalah kesucian, dan keduanya menjadi janji untuk terus menjaga Indonesia tetap tegak dan berdaulat,” ucapnya lirih, dengan suara bergetar.
Sementara itu, di lapangan, derap langkah pasukan pengibar bendera memukau ribuan penonton. Muhammad Ilham dari SMAN 1 Bintuni berdiri tegas sebagai penggerek, Grantza Suherman membentangkan Merah Putih dengan penuh percaya diri, dan Falentinus Bauw dari SMA YPPK St. Arnoldus Janssen gagah membawa Sang Merah Putih di hadapan rakyat Bintuni. Mereka bukan sekadar pelajar; mereka adalah generasi penerus yang memikul harapan bangsa.
Prosesi penurunan semakin khidmat saat paduan suara yang dipimpin Lidya Samderubun melantunkan lagu perjuangan, berpadu indah dengan musik Brigade Inf. 26/Gurana Piarawaimo. Beberapa warga tak kuasa menahan air mata. Senja yang perlahan meredup seakan menjadi saksi bisu kebersamaan dan cinta tanah air yang mengikat semua orang di lapangan itu.
Di balik khidmatnya prosesi, sejumlah perwira juga memainkan peran penting. Letnan Satu Inf. Karno, Danramil 02/Babo, tampil sebagai Perwira Upacara. Letnan Satu Salvator Teniwut, Danramil 06/Mayado, memimpin pasukan dengan komando lantang. Dan penurunan bendera dipimpin langsung oleh Letnan Satu Agung Andriyanto, Komandan Sub Denpom XVIII/1-1 Bintuni.
Hadir pula Forkopimda, Sekda, para pimpinan OPD di lingkup Pemda Teluk Bintuni, DPRK, serta tokoh adat, agama, pemuda, dan perempuan. Semua larut dalam satu barisan yang sama, tanpa sekat. Inilah wajah Indonesia: berbeda suku, agama, dan latar belakang, namun bersatu dalam merah putih.
Tema tahun ini, “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”, terasa nyata di Bintuni sore itu. Ia bukan hanya semboyan yang tertulis, tetapi hidup dalam sikap, dalam doa, dan dalam keheningan ribuan orang yang menatap bendera dengan penuh hormat.
Senja akhirnya meredup, tetapi api semangat yang tumbuh dalam dada setiap orang tetap menyala. Sebab setiap kali Merah Putih dinaikkan atau diturunkan, selalu ada janji yang diperbarui: menjaga Indonesia agar tetap tegak, merdeka, dan sejahtera untuk generasi mendatang.
Laporan Tim Redaksi KADATE / Inspirasi Papua













