Views: 39
“Dokter Papua Perbarui Ilmu Tangani Kegawatdaruratan Paru, Dari TBC hingga Pneumotoraks”
PAPUA, inspirasipapua.id — Penyakit paru masih menjadi salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian di Indonesia. Di ruang praktik layanan primer, dokter sering menjadi garda terdepan yang harus mengambil keputusan cepat ketika pasien datang dengan sesak napas, pneumonia berat, hingga dugaan tuberkulosis.
Berangkat dari kebutuhan itu, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Papua bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Papua menggelar Papua Continue Medical Update (PCMU) 2026.
Webinar ilmiah yang berlangsung secara daring pada Sabtu, 1 Agustus 2026, itu mengangkat tema Pulmonary Emergencies: Infectious and Non-Infectious Approach in Primary Care. Sebanyak 91 peserta mengikuti kegiatan tersebut, mulai dari dokter spesialis, dokter umum, dokter muda, hingga mahasiswa kedokteran dari berbagai daerah.
Ketua PDPI Papua, dr. Wiendo Syahputra Yahya, Sp.P., M.MRS., FAPSR., FISR, mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk komitmen organisasi profesi untuk memperkuat kapasitas tenaga medis, terutama dokter layanan primer, dalam menghadapi kasus-kasus kegawatdaruratan paru yang semakin beragam.
Menurut dia, kolaborasi IDI Wilayah Papua dan PDPI Papua bukan sekedar menyelenggarakan seminar ilmiah, tetapi juga membuka akses pendidikan kedokteran berkelanjutan bagi tenaga kesehatan di Papua. Dengan pembaruan ilmu berbasis evidence-based medicine, dokter diharapkan mampu melakukan deteksi dini, memberikan tata laksana awal yang tepat, hingga menentukan penanganan lanjutan bagi pasien dengan gangguan pernapasan.
Materi yang disampaikan mencerminkan persoalan yang paling sering ditemui di lapangan. Pada sesi penyakit infeksi, peserta memperoleh pembaruan mengenai kegawatdaruratan tuberkulosis dari dr. Agustinus Rizki Wirawan Riadi, Sp.P., pneumonia berat oleh dr. Malsephira Hasmeryasih, Sp.P., serta pengenalan dini dan penanganan infeksi hantavirus di layanan primer oleh dr. Wiendo Syahputra Yahya, Sp.P., M.MRS., FAPSR., FISR.
Sementara itu, sesi penyakit noninfeksi membahas tata laksana serangan asma oleh dr. Alberthina Hermina Sesa, Sp.P., eksaserbasi penyakit paru obstruktif kronis (COPD) oleh dr. Novita Silvana Thomas, Sp.P., serta penanganan pneumotoraks dan efusi pleura masif oleh dr. Bakhrul Wasil Amsak, Sp.P.
Bagi tenaga kesehatan di Papua, pembaruan ilmu semacam ini memiliki arti penting. Wilayah dengan kondisi geografis yang menantang menuntut dokter mampu mengambil keputusan klinis secara cepat, bahkan sebelum pasien dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas lebih lengkap.
Melalui PCMU 2026, IDI Wilayah Papua dan PDPI Papua berharap budaya belajar sepanjang hayat terus tumbuh di kalangan tenaga kesehatan. Sinergi organisasi profesi dinilai menjadi salah satu kunci untuk memperkuat jejaring ilmiah, meningkatkan kompetensi dokter, dan pada akhirnya menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat Papua maupun Indonesia.
***(Tim/red/MA/inspirasipapua id)***













