Papua Barat Perkuat Kolaborasi Lawan TBC

dr. Nurmawati membuka Webinar Tuberkulosis Papua Barat 2025 yang diikuti lebih dari 300 tenaga kesehatan dari berbagai daerah. Ketua KOPI TB Papua Barat dr. Wiendo Syahputra Yahya memaparkan strategi desentralisasi pengobatan TBC kebal obat. Kegiatan ini memperkuat kolaborasi lintas profesi menuju eliminasi TBC 2030. (Foto: Dinkes Papua Barat/KOPI TB)
Bagikan berita ini

Views: 84

Kolaborasi Profesi Kesehatan Papua Barat Dorong Eliminasi Tuberkulosis 2030

 

PAPUA BARAT — Pemerintah terus memperkuat upaya eliminasi Tuberkulosis (TBC) pada tahun 2030, yang menjadi salah satu program prioritas nasional di bidang kesehatan. Tantangan terbesar saat ini adalah tingkat kesembuhan pasien yang masih rendah, meski angka penemuan kasus di Papua Barat telah mencapai target.

Untuk memperkuat sinergi penanggulangan penyakit menular ini, Dinas Kesehatan Papua Barat bekerja sama dengan Koalisi Organisasi Profesi untuk Penanggulangan Tuberkulosis (KOPI TB) Papua Barat dan Balai Pelatihan Kesehatan (Balatkes Papua) menggelar Webinar Tuberkulosis Papua Barat 2025, Sabtu (25/10/2025).

Kegiatan yang berlangsung secara daring mulai pukul 08.00 hingga 14.00 WIT ini diikuti sekitar 300 peserta dari berbagai profesi kesehatan seperti dokter umum, dokter spesialis paru, dokter patologi klinik, perawat, apoteker, dan analis laboratorium. Peserta berasal dari berbagai daerah di Papua Barat maupun Papua, termasuk Manokwari, Teluk Bintuni, Jayapura, dan Keerom.

Fokus pada Kolaborasi dan Desentralisasi Pengobatan

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Papua Barat, dr. Nurmawati, membuka kegiatan ini sekaligus memaparkan kebijakan dan situasi terkini Program TBC di Papua Barat.
Menurutnya, capaian penemuan kasus TBC memang menggembirakan, namun tingkat kesembuhan pasien masih menjadi pekerjaan rumah besar yang memerlukan kolaborasi lintas sektor.

“Penanganan TBC tidak bisa hanya bergantung pada tenaga medis. Kita butuh sinergi semua pihak, termasuk tenaga laboratorium, apoteker, dan perawat agar pengobatan berjalan tuntas,” ujar dr. Nurmawati.

Sementara itu, Ketua KOPI TB Papua Barat, dr. Wiendo Syahputra Yahya, Sp.P, MMRS, FAPSR, FISR, menekankan pentingnya desentralisasi pengobatan pasien Tuberkulosis Kebal Obat (TBC RO) agar layanan pengobatan bisa menjangkau hingga tingkat puskesmas.

“Desentralisasi pengobatan TBC RO sangat penting agar pasien bisa mendapatkan layanan yang cepat dan berkelanjutan. Puskesmas harus menjadi ujung tombak dalam pengobatan dan pemantauan pasien,” jelasnya.

Peran Profesi dan Strategi Penguatan Layanan

Dalam webinar ini, sejumlah narasumber turut membawakan materi yang memperkaya pemahaman peserta:

dr. Era Maryani, Sp. PK – Pemeriksaan laboratorium dan strategi pemantauan pengobatan pasien TBC.

Wahyu Catur Fitri Ariani, S.Kep, Ners – Asuhan keperawatan pada pasien TBC.

Jumarni, S.Si, Apt – Manajemen logistik program TBC.

Mereka menegaskan pentingnya ketepatan diagnosis, keteraturan terapi, serta ketersediaan logistik obat untuk memastikan keberhasilan pengobatan dan mencegah resistansi obat.

Indonesia Masih di Peringkat Kedua Dunia

Menurut data Kementerian Kesehatan RI, jumlah pasien Tuberkulosis di Indonesia mencapai 1.090.000 orang, dengan angka kematian mencapai 125.000 jiwa setiap tahunnya. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan beban TBC tertinggi kedua di dunia, setelah India.

Kondisi ini menegaskan bahwa eliminasi TBC pada 2030 bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi memerlukan dukungan masyarakat dan lintas profesi secara berkelanjutan.

“Kolaborasi, edukasi, dan konsistensi adalah kunci untuk menurunkan angka kematian dan meningkatkan kesembuhan pasien TBC di Papua Barat,” tutup dr. Wiendo.

Laporan: MA / Inspirasi Papua

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *