Views: 35
Dokter Spesialis dan Tim Dialisis RSUD Teluk Bintuni Turun Langsung ke Pasien, Edukasi Hipertensi hingga Kenalkan Cuci Darah
BINTUNI, PAPUA BARAT – Suasana berbeda terlihat di Poliklinik RSUD Teluk Bintuni, Selasa (19/5/2026). Bukan sekadar pelayanan berobat seperti biasa, para pasien juga mendapat edukasi langsung tentang bahaya hipertensi atau tekanan darah tinggi dari dokter spesialis penyakit dalam bersama tim Unit Dialisis rumah sakit.
Dalam rangka memperingati Hari Hipertensi Sedunia 2026, RSUD Teluk Bintuni menggelar kegiatan edukasi kesehatan bertema “Bersama Kendalikan Hipertensi” dengan menyasar langsung masyarakat yang datang berobat di poliklinik.
Kegiatan dipimpin oleh dokter spesialis penyakit dalam RSUD Teluk Bintuni, dr. Jemi Tubung bersama tim Unit Dialisis. Selain memberikan pemahaman tentang hipertensi, tim medis juga melakukan pemeriksaan tekanan darah gratis serta memperkenalkan prosedur hemodialisis atau cuci darah kepada pasien dan keluarga.
Pendekatan yang dilakukan terasa lebih humanis karena edukasi diberikan langsung kepada masyarakat di ruang pelayanan kesehatan, bukan hanya dalam seminar formal.
Dalam penyampaiannya, dr. Jemi menjelaskan bahwa hipertensi merupakan penyakit yang sering kali tidak menimbulkan gejala, namun dapat memicu komplikasi serius apabila tidak dikendalikan dengan baik.
“Banyak pasien baru mengetahui dirinya hipertensi setelah muncul komplikasi seperti stroke, serangan jantung, atau gagal ginjal. Karena itu pemeriksaan tekanan darah secara rutin sangat penting,” jelasnya.
Ia menerangkan, tekanan darah normal berada di bawah 130/80 mmHg, sedangkan angka 140/90 mmHg atau lebih secara konsisten dapat dikategorikan sebagai hipertensi dan memerlukan penanganan medis.
Menurutnya, pengendalian hipertensi tidak hanya bergantung pada obat, tetapi juga pola hidup sehat yang dijalankan secara konsisten. Mulai dari mengurangi konsumsi garam, rutin berolahraga, berhenti merokok, menjaga berat badan hingga mengelola stres.
“Kalau tekanan darah sudah normal setelah minum obat, itu bukan berarti penyakitnya sembuh total. Justru itu tanda obat bekerja dan harus tetap dikontrol,” katanya.
Tak hanya membahas hipertensi, tim Unit Dialisis RSUD Teluk Bintuni juga memberikan edukasi tentang gagal ginjal kronik yang dapat terjadi akibat tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dalam jangka panjang.
Petugas memperkenalkan prosedur hemodialisis atau cuci darah sebagai terapi pengganti fungsi ginjal bagi pasien gagal ginjal terminal. Dalam proses tersebut, darah pasien dibersihkan menggunakan mesin dialiser yang berfungsi layaknya ginjal buatan untuk menyaring racun dan kelebihan cairan dari tubuh.
Tim dialisis menjelaskan bahwa prosedur hemodialisis umumnya dilakukan dua hingga tiga kali dalam seminggu dengan durasi sekitar empat jam setiap sesi.
Saat ini, RSUD Teluk Bintuni telah memiliki Unit Hemodialisis yang siap melayani pasien di wilayah Teluk Bintuni dan sekitarnya, sehingga masyarakat tidak perlu jauh-jauh keluar daerah untuk mendapatkan terapi cuci darah.
Melalui kegiatan ini, RSUD Teluk Bintuni berharap kesadaran masyarakat terhadap bahaya hipertensi semakin meningkat, sekaligus mendorong masyarakat lebih rutin memeriksa tekanan darah sejak dini agar komplikasi berat dapat dicegah.
*** (MA/Inspirasi Papua) ***













