Views: 0
Dua Pasien TBC Kebal Obat di Teluk Wondama Putus Berobat
WASIOR, inspirasipapua.id — Dua pasien tuberkulosis resisten obat (TBC RO) di Kabupaten Teluk Wondama dilaporkan putus berobat.
Temuan itu mencuat dalam audit klinis pelayanan TBC RO di RSUD Dr. Alberth H. Torey, Wasior, Selasa, 11 Agustus 2026.
Audit dilakukan Dinas Kesehatan Papua Barat bersama Global Fund dan Koalisi Organisasi Profesi Indonesia untuk Penanggulangan TB (KOPI TB) Papua Barat. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut workshop peningkatan kapasitas dokter dan penanggung jawab program TBC-HIV yang digelar sehari sebelumnya.
Dokter Spesialis Paru sekaligus Ketua KOPI TB Papua Barat, dr. Wiendo Syahputra Yahya, mengatakan terdapat empat kasus TBC RO yang menjadi perhatian dalam pelayanan di RSUD Dr. Alberth H. Torey. Dua pasien masih menjalani pengobatan, sedangkan dua lainnya telah putus berobat.
“Pemantauan pengobatan harus dilaksanakan sesuai jadwal,” kata Wiendo dalam audit klinis tersebut.
Menurut dia, pemantauan pasien TBC RO tidak cukup hanya dengan pemberian obat. Pemeriksaan dahak untuk kultur, skrining mata, jiwa dan saraf, elektrokardiografi (EKG), pemeriksaan laboratorium darah, serta pemantauan efek samping obat perlu dilakukan secara berkala.
Kasus putus berobat menjadi persoalan serius karena pengobatan TBC RO membutuhkan kepatuhan dan pemantauan yang ketat. Karena itu, Dinas Kesehatan Papua Barat akan berkoordinasi dengan RSUD Dr. Alberth H. Torey dan Puskesmas untuk melacak kembali pasien yang tidak melanjutkan pengobatan.
Dinas Kesehatan juga akan membahas biaya pengiriman sampel dahak dari Teluk Wondama ke Jayapura untuk pemeriksaan kultur.
Audit klinis dibuka Direktur RSUD Dr. Alberth H. Torey, dr. Alberth S. Kapitarauw, Sp.B. Kegiatan diikuti Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Papua Barat, dr. Krisnina Ayomi, Sp.PD, perawat Poli TB, analis laboratorium, Wakil Supervisor TB Kabupaten Teluk Wondama, serta petugas dari IGD, kamar bersalin, ICU dan Puskesmas Wondiboi.
HIV dan TBC Saling Berkaitan
Sehari sebelumnya, Dinas Kesehatan Papua Barat, Global Fund dan KOPI TB Papua Barat menggelar workshop peningkatan kapasitas dokter dan penanggung jawab program TBC-HIV di Wasior.
Workshop yang berlangsung Senin, 10 Agustus 2026 itu dibuka Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Teluk Wondama, dr. Johan Yoteni. Hadir pula Kabid P2P Dinas Kesehatan Papua Barat Frans Abidondifu, SKM, M.Epid, dr. Wiendo Syahputra Yahya dan perwakilan Global Fund, Asriyanti, S.Kep., Ners.
Kegiatan diikuti dokter dan penanggung jawab program TBC-HIV dari Puskesmas Rasiei, Wasior, Sougwepu, Aisandami, Wondiboi, Kuri Wamesa, Roon, Roswar, Sobey serta RSUD Dr. Alberth H. Torey.
Wiendo memaparkan penanganan TBC terkini sesuai panduan Kementerian Kesehatan 2025, termasuk penanganan TBC-HIV dan pemberian terapi pencegahan tuberkulosis.
Pasien HIV, kata dia, memiliki risiko sekitar 30 kali lebih besar mengalami TBC dibandingkan orang tanpa HIV.
Tuberkulosis juga menjadi penyebab sekitar 40-50 persen kematian pada pasien HIV.
Ia menyebut cakupan pasien HIV yang mendapatkan terapi pencegahan tuberkulosis di Indonesia, termasuk Papua Barat, masih berada di bawah target nasional. Setiap tahun terdapat sekitar 23 ribu kasus baru TBC-HIV dengan angka kematian mencapai 6.200 kasus.
Karena itu, penanganan TBC-HIV perlu dimulai dari fasilitas kesehatan tingkat pertama. Upaya tersebut mencakup pencegahan, skrining, diagnosis, pengobatan hingga pemantauan pasien.
“Penanganan TBC-HIV yang komprehensif harus dioptimalkan pada fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas untuk mencapai eliminasi TBC tahun 2030,” ujar Wiendo.
Workshop tersebut juga bertujuan mengevaluasi capaian program TBC-HIV 2026 dan hasil pengobatan TBC 2025, sekaligus memastikan pencatatan dan pelaporan melalui Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) berjalan baik.
Dua hari kegiatan di Wasior itu akhirnya menempatkan persoalan TBC RO sebagai pekerjaan rumah yang tak berhenti pada diagnosis. Pasien yang putus berobat harus ditemukan kembali, sementara sistem pemantauan dan pemeriksaan harus memastikan pengobatan berjalan hingga tuntas.
**(Tim/red/MA/inspirasipapua.id)**
