Views: 2
“Sebulan Lebih Diselimuti Kabut Asap, Pasien ISPA di Teluk Bintuni Meningkat”
BINTUNI, inspirasipapua.id — Kabut asap yang menyelimuti Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, selama lebih dari sebulan mulai berdampak pada kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan setempat menerima laporan dari sejumlah puskesmas mengenai warga yang mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), gangguan pernapasan, hingga iritasi mata.
Di tengah udara yang kian mengkhawatirkan, anak-anak, ibu hamil, serta warga dengan kondisi kesehatan tertentu menjadi kelompok yang paling rentan. Mereka membutuhkan perlindungan lebih agar paparan asap tidak memperburuk kondisi tubuh.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni, dr. Johannes Risamasu, Sp.KP., M.Kes., mengatakan pemerintah daerah telah membentuk tim penanggulangan dampak kabut asap sejak sekitar sebulan lalu. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memantau laporan penyakit dari puskesmas secara berkala.
“Penyakit yang paling banyak ditemukan dari dampak kabut asap adalah ISPA. Terjadi peningkatan pasien ISPA, sedangkan kasus sesak napas dan iritasi mata belum menunjukkan peningkatan yang signifikan,” kata dokter yang akrab disapa dr. Jo itu kepada wartawan di Bintuni, Jumat (16/10/2026).
Menurut dia, kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi ibu hamil, anak-anak, pasien dengan gizi kurang, serta penderita penyakit yang dapat melemahkan daya tahan tubuh, termasuk diabetes. Paparan asap berpotensi memperburuk kondisi kesehatan, terutama bagi warga yang telah memiliki gangguan kesehatan sebelumnya.
Dinas Kesehatan pun meminta seluruh puskesmas mendata kasus ISPA yang diduga berkaitan dengan kabut asap setiap hari dan melaporkannya kepada dinas. Pemantauan tersebut diperlukan untuk mengetahui perkembangan kasus sekaligus membantu petugas mengantisipasi kebutuhan pelayanan kesehatan di tengah kondisi udara yang buruk.
Jangan Abaikan Gejala
Dokter Jo mengingatkan, paparan kabut asap yang berlangsung lama dapat memperburuk kondisi pasien ISPA apabila tidak mendapatkan penanganan. Gangguan pada saluran pernapasan maupun iritasi mata juga perlu diwaspadai agar tidak berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius.
Ia meminta warga yang mengalami sesak napas, batuk, gejala ISPA, iritasi mata, atau keluhan lain yang diduga berkaitan dengan kabut asap segera mendatangi Puskesmas, Puskesmas pembantu (Pustu), atau rumah sakit untuk memperoleh pemeriksaan dan pengobatan sesuai kebutuhan.
“Apabila mengalami gejala-gejala sesak napas, ISPA, iritasi mata, dan lainnya yang disebabkan kabut asap, segera melakukan pengobatan ke Puskesmas atau Pustu terdekat. Jika membutuhkan pelayanan lanjutan, segera ke rumah sakit,” ujarnya.
Selain mencari pertolongan medis, masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar rumah selama kabut asap masih pekat. Warga sebaiknya keluar hanya untuk keperluan penting dan menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
Imbauan tersebut menjadi penting karena paparan asap tidak selalu langsung menimbulkan keluhan berat. Karena itu, warga perlu memperhatikan kondisi tubuh dan tidak menunda pemeriksaan apabila mengalami gejala yang menganggu pernapasan atau penglihatan.
Obat dan Oksigen Disiapkan
Untuk mendukung pelayanan di lapangan, Dinas Kesehatan telah menyalurkan sejumlah obat dan perlengkapan kesehatan ke Puskesmas. Persediaan tersebut mencakup obat untuk meredakan batuk, obat mata, masker, serta obat untuk membantu penanganan sesak napas sesuai indikasi medis.
Tabung oksigen juga telah disalurkan ke Puskesmas yang memiliki jumlah pasien cukup banyak. Langkah ini dilakukan untuk membantu kesiapan tenaga kesehatan menghadapi kemungkinan bertambahnya warga yang membutuhkan pertolongan.
Di sisi lain, Dinas Kesehatan berkoordinasi dengan Puskesmas dan Pustu di wilayah yang mengalami kebakaran hutan dan lahan maupun kekeringan. Kondisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan paparan asap, tetapi juga berpotensi memunculkan persoalan kesehatan lain, termasuk diare.
Petugas kesehatan di wilayah terdampak telah mendapat sosialisasi mengenai tata cara merujuk pasien. Warga dengan kondisi kesehatan yang memburuk harus segera dirujuk ke rumah sakit di Bintuni agar memperoleh penanganan lanjutan.
Bagi masyarakat Teluk Bintuni, kabut asap yang bertahan lebih dari sebulan bukan sekadar gangguan jarak pandang. Kondisi ini juga menjadi ujian bagi ketahanan kesehatan warga, terutama mereka yang setiap hari harus beraktivitas di tengah udara yang tercemar.
Di tengah situasi tersebut, Dinas Kesehatan mengingatkan pentingnya mengurangi paparan asap, menggunakan masker saat diperlukan, menjaga kondisi tubuh, serta segera mencari pertolongan medis ketika muncul gejala.
Upaya perlindungan diri dan kesiapan layanan kesehatan menjadi penting selama kabut asap masih menyelimuti wilayah Teluk Bintuni.
(Tim/red/muris/inspirasi Papua)













