Kader TBC Teluk Bintuni : Dari Kampung untuk Kampung

Indonesia masih jadi negara kedua dengan kasus TBC terbanyak di dunia. Tapi harapan itu nyata: dari Puskesmas Manimeri, kader TBC dilatih untuk turun langsung ke kampung, mendampingi, mengedukasi, dan memastikan pengobatan berjalan. Bersama, kita wujudkan eliminasi TBC 2030!. (ist/Kadate/Inspirasi Papua)
banner 468x60
Bagikan berita ini

Views: 127

Kader TBC: Dari Kampung untuk Kampung, Menjaga Nafas Kehidupan di Teluk Bintuni

 

BINTUNI – Sabtu pagi, 23 Agustus 2025, suasana Puskesmas Manimeri terasa berbeda. Sejumlah warga kampung dengan wajah penuh semangat berkumpul, bukan sekadar untuk berobat, melainkan untuk sebuah misi besar: menjadi Kader Tuberkulosis (TBC) – garda terdepan melawan penyakit menular yang masih menghantui banyak keluarga di Indonesia.

Mereka datang dari berbagai kampung di wilayah kerja Puskesmas Manimeri: Hokut, SP 4, Direp, Iguriji I, Iguriji II, SP 1, Idut–Robobo, Beimes, Atibo hingga Pasamai. Satu tujuan mereka sama: ikut berjuang agar TBC tidak lagi menjadi cerita pahit di kampung-kampung mereka.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Allo Nafurbenan, Kepala Bidang P2P (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit) Dinas Kesehatan Teluk Bintuni yang hadir mewakili Kepala Dinas Kesehatan. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendirian dalam menuntaskan TBC—masyarakat harus ikut terlibat langsung.

“Peran kader sangat penting, karena mereka yang paling dekat dengan warga. Kader bisa jadi jembatan informasi, pengawas, sekaligus sahabat bagi pasien TBC,” ujarnya.

Tugas Mulia Sang Kader

Dalam pelatihan itu, para kader dibekali pengetahuan oleh dr. Wiendo Syahputra Yahya, Sp.P, MMRS, FAPSR, FISR, Ketua Koalisi Organisasi Profesi Indonesia untuk Penanggulangan Tuberkulosis (KOPI TB) Papua Barat. Ia mengingatkan betapa seriusnya masalah TBC di Indonesia. Hingga 2024, diperkirakan ada lebih dari 1 juta kasus TBC di Indonesia—terbesar kedua di dunia setelah India.

Namun, harapan tetap ada. Pemerintah menargetkan Eliminasi TBC pada 2030, yakni menurunkan angka kasus menjadi 65 per 100.000 penduduk. Dan untuk mencapai itu, masyarakatlah yang menjadi garda terdepan.

“Kader punya peran besar. Mereka bukan hanya mendampingi pasien minum obat, tapi juga menyebarkan pemahaman bahwa TBC bisa sembuh, dan pengobatannya gratis di puskesmas maupun rumah sakit pemerintah,” jelas dr. Wiendo.

Lebih dari Sekadar Obat

Tugas kader bukan pekerjaan ringan. Mereka akan mendatangi rumah-rumah, melakukan skrining gejala, menemani pasien dalam perjalanan panjang pengobatan, hingga melaporkan jika ada keluhan atau efek samping obat.

Bahkan, mereka juga belajar bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan pasien—menggunakan pendekatan yang dikenal dengan REACH: Respect, Empathy, Audible, Clarity, dan Humble.

Artinya, seorang kader tidak hanya memberi informasi, tapi juga hadir dengan rasa hormat, empati, berbicara jelas, mudah dimengerti, dan tetap rendah hati.

“Kadang pasien bukan cuma butuh obat, tapi juga butuh teman bicara, butuh ada yang menguatkan. Di situlah peran kader,” kata salah satu tenaga kesehatan Puskesmas Manimeri.

Dari Kampung untuk Harapan

Kader TBC ini pada dasarnya adalah warga biasa—ibu rumah tangga, pemuda kampung, tokoh masyarakat—yang punya hati untuk melayani. Mereka tahu persis bagaimana kehidupan di kampung mereka, tahu bahasa dan cara mendekati warga, sehingga pesan kesehatan bisa lebih mudah diterima.

“Kalau orang puskesmas datang mungkin warga segan, tapi kalau kader yang bicara, biasanya mereka mau dengar,” ujar seorang kepala kampung yang hadir mendukung kegiatan itu.

Langkah kecil di Puskesmas Manimeri ini sejatinya adalah pijakan besar. Dari kampung-kampung kecil di Teluk Bintuni, sebuah gerakan lahir: gerakan menjaga nafas kehidupan, melawan TBC bukan hanya dengan obat, tapi juga dengan kepedulian.

Dan seperti kata pepatah, perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil.

(Tim Redaksi KADATE/Inspirasi Papua)

About Post Author

banner 468x40

banner 468x40

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *