Rumah Kaki Seribu dan Pesan Toleransi: Ketua MUI Bintuni Sebut Beda Agama Tetap Satu Keluarga

Ketua MUI Teluk Bintuni, Ustad Rahman Urbun, saat menerima kunjungan silaturahmi pengurus PWI Teluk Bintuni di Kampung Waraitama, Distrik Manimeri, Rabu (29/4/2026). Dalam pertemuan itu, ia menegaskan filosofi Rumah Kaki Seribu sebagai simbol persatuan dan toleransi antarumat beragama di Papua Barat. (MA/Inspirasi Papua)
banner 468x60
Bagikan berita ini

Views: 2

Rumah Kaki Seribu, Ketua MUI Bintuni: Beda Agama Tapi Tetap Satu Keluarga

 

BINTUNI, PAPUA BARAT – Rumah Kaki Seribu bukan sekadar rumah adat bagi masyarakat Papua Barat. Di balik bentuknya yang khas, tersimpan filosofi mendalam tentang persatuan, kebersamaan, dan toleransi dalam keberagaman.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Teluk Bintuni, Ustad Rahman Urbun, menegaskan bahwa Rumah Kaki Seribu menjadi simbol nyata bagaimana masyarakat Papua hidup sebagai satu keluarga besar meskipun memiliki keyakinan yang berbeda-beda.

Hal itu disampaikannya saat menerima kunjungan silaturahmi Ketua dan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Teluk Bintuni di Kampung Waraitama, Distrik Manimeri, Rabu (29/4/2026).

Menurut Rahman, rumah adat tersebut memiliki satu tiang utama yang melambangkan fondasi persatuan.

Sementara banyaknya kaki penyangga menggambarkan keberagaman suku, budaya, dan agama yang hidup berdampingan secara harmonis.

“Dalam konteks kehidupan beragama, satu tiang besar itu adalah simbol persatuan. Sedangkan kaki-kaki penyangga melambangkan masyarakat dengan keyakinan berbeda seperti Islam, Protestan, Katolik, Hindu, dan Buddha, namun tetap saling menopang dalam kehidupan sosial,” ujar Rahman.

Ia menjelaskan, filosofi itu sangat relevan dengan kehidupan masyarakat Papua Barat, khususnya di Kabupaten Teluk Bintuni, yang dikenal menjunjung tinggi nilai toleransi antarumat beragama dalam semangat “agama keluarga”.

Menurutnya, perbedaan keyakinan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk saling melengkapi dan memperkokoh persaudaraan.

Konsep tersebut juga mencerminkan kehidupan masyarakat di tujuh kabupaten di Papua Barat, yakni Manokwari, Manokwari Selatan, Pegunungan Arfak, Teluk Bintuni, Teluk Wondama, Fakfak, dan Kaimana, di mana keberagaman agama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Perbedaan keyakinan bukan alasan untuk terpecah. Justru seperti Rumah Kaki Seribu, semakin banyak penyangga maka rumah itu semakin kokoh. Begitu pula masyarakat, semakin kuat toleransi maka semakin kokoh persatuan kita,” jelasnya.

Rahman berharap semangat Rumah Kaki Seribu terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda sebagai nilai dasar dalam membangun daerah yang damai dan harmonis.

Baginya, kerukunan antarumat beragama bukan hanya slogan, tetapi warisan budaya yang sudah lama hidup dalam masyarakat Papua Barat.

“Ini bukan sekadar filosofi adat, tetapi cara hidup orang Papua. Kita berbeda, tetapi tetap satu rumah, satu keluarga,” tutupnya.

***(MA/Inspirasi Papua)***

About Post Author

banner 468x40

banner 468x40

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *