Views: 386
14 Tahun Berdiri, RSUD Bintuni Mulai Benahi Infrastruktur Demi Pelayanan yang Lebih Layak
BINTUNI – Setelah 14 tahun melayani masyarakat, kondisi infrastruktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Teluk Bintuni mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan.
Salah satu yang paling memprihatinkan adalah selasar atau jalur penghubung antar-ruangan yang selama ini menjadi akses utama pasien dan pengunjung.
Setiap kali hujan turun, air tergenang di selasar dan merembes ke plafon yang sudah bocor. Talang air dan pipa pembuangan yang tak lagi memadai membuat air hujan sulit mengalir ke bawah, bahkan merusak sejumlah tiang penyangga.
Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni melalui RSUD Bintuni telah menganggarkan biaya rehabilitasi selasar pada tahun 2025.
Saat ini, pengerjaan telah dimulai dan ditargetkan rampung dalam waktu 60 hari kerja.
“Memang benar, selasar RSUD mengalami kerusakan cukup parah. Kalau hujan deras, air tergenang dan plafon bocor. Saat ini kami sudah mulai melakukan perbaikan,” ujar Plt. Direktur RSUD Teluk Bintuni, dr. Novita Panggau, Sp.PD, kepada wartawan, Kamis (25/9/2025) di ruangan kerjanya di Gedung Administrasi RSUD Bintuni.
Talang Baru dan Pipa Tambahan, Agar Air Tak Lagi Meluap
Menurut dr. Novita, persoalan utama terletak pada desain atap yang datar dan talang air yang terlalu jauh dari jalur pembuangan. Dalam perencanaan rehabilitasi kali ini, pihaknya berupaya memperbaiki sistem dari hulunya.
“Kami menaikkan sedikit kemiringan atap agar air bisa mengalir lebih lancar. Selain itu, jumlah pipa pembuangan juga kami perbanyak agar air tidak meluap,” jelasnya.
Selain itu, kisi-kisi khusus akan dipasang di bawah talang untuk mengalirkan tetesan air langsung ke tanah tanpa merusak plafon. “Walau hujan deras, kami pastikan air tidak akan masuk ke dalam plafon,” tambahnya.
IPAL dan Drainase Jadi PR Berikutnya
Selain selasar, RSUD Bintuni juga masih menghadapi tantangan lain, yakni sistem pembuangan air. Saat ini, air limbah dari kamar mandi dan wastafel sudah diarahkan ke septic tank dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL), namun jaringan tersebut belum sepenuhnya terhubung ke seluruh unit rumah sakit.
“Kami berencana menyelesaikan jaringan IPAL agar seluruh unit terkoneksi. Ini penting untuk memastikan pengelolaan limbah medis berjalan sesuai standar,” terang dr. Novita.
Tak hanya itu, air hujan yang menggenang di halaman rumah sakit juga masih menjadi masalah. Pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas PUPR untuk membangun saluran drainase dari rumah sakit menuju sungai terdekat.
“Kami berharap rencana ini segera terealisasi agar air hujan bisa mengalir keluar dan tidak lagi menggenang di lingkungan rumah sakit,” imbuhnya.
Demi Pelayanan yang Lebih Layak
Seiring bertambahnya usia RSUD Bintuni, kebutuhan akan perawatan infrastruktur menjadi tidak terelakkan.
Bagi dr. Novita, perbaikan ini bukan semata persoalan fisik bangunan, melainkan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
“Rumah sakit ini sudah 14 tahun berdiri. Infrastruktur yang ada tentu harus diperbarui agar tetap layak. Kami sudah menyampaikan kebutuhan ini ke Bupati dan Bappelitbangda agar mendapat perhatian,” tutupnya.
Dengan perbaikan yang tengah berjalan, masyarakat Teluk Bintuni berharap rumah sakit kebanggaan mereka akan tampil lebih layak dan nyaman, sekaligus memberikan pelayanan kesehatan yang semakin baik.
(Laporan Redaksi Kadate/Inspirasi Papua)











