Views: 263
Keluar dari Zona Nyaman, Suci Fimbay Raih Peluang Kerja ke Jepang
BINTUNI, PAPUA BARAT – Keinginan untuk keluar dari zona nyaman menjadi titik awal perjalanan inspiratif Suci Indah Lestari Fimbay Rita Rita, alumni Hospitality Batch 19 P2TIM Teluk Bintuni, yang berhasil lolos seleksi program pelatihan kerja ke Jepang.

Perempuan asal suku Wamesa yang berdomisili di Distrik Babo ini mengaku, awalnya ia hanya memiliki rencana sederhana: bekerja di LNG Tangguh setelah menyelesaikan pelatihan di P2TIM. Namun, jalan hidup berkata lain.
“Awalnya saya hanya ingin bekerja di LNG Tangguh setelah selesai training di P2TIM. Tapi saat mendengar informasi kesempatan ke Jepang dan ikut seleksi, ternyata saya dinyatakan lulus.
Saya merasa ini mungkin sesuatu yang lebih saya butuhkan, jauh lebih besar dan bermakna bagi saya dan keluarga,” ungkap Suci.
Ketertarikan Suci untuk mencoba peluang ke Jepang bukan tanpa alasan. Ia ingin menantang dirinya untuk berkembang lebih jauh.

“Saya ingin keluar dari zona nyaman, mencoba hal baru, sekaligus memperbaiki ekonomi keluarga. Jepang juga negara impian dengan kualitas hidup yang baik dan etos kerja yang terkenal,” katanya.
Perjalanan menuju titik tersebut tidak mudah. Suci harus melalui serangkaian tahapan seleksi, mulai dari wawancara motivasi, psikotes, wawancara lanjutan, hingga pemeriksaan kesehatan (MCU).
Ia mengakui, tantangan terbesar justru datang dari hal-hal yang tampak sederhana.
“Soal psikotes terlihat mudah, tapi ternyata menjebak dan berputar-putar, sempat membuat saya keliru. Selain itu, kendala jaringan juga cukup mengganggu saat proses seleksi,” jelasnya.

Meski demikian, dukungan dari para trainer di P2TIM menjadi energi tambahan bagi dirinya untuk terus melangkah.
“Pesan yang selalu saya ingat, jangan takut mencoba dan berani keluar dari zona nyaman. Itu yang terus memotivasi saya,” ujarnya.
Keberhasilan Suci bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga mencatatkan sejarah tersendiri. Ia menjadi alumni pertama dari jurusan Hospitality yang berhasil lolos seleksi program kerja ke Jepang, setelah sebelumnya banyak peserta mencoba namun belum berhasil.
Dengan penuh haru, Suci menyampaikan rasa terima kasihnya kepada P2TIM yang telah membimbingnya sejak awal hingga berhasil lolos.

“Saya sangat berterima kasih kepada seluruh trainer dan staf P2TIM. Bahkan setelah lulus, saya masih didampingi mulai dari pendaftaran hingga akhirnya bisa lolos seleksi,” tuturnya.
Suci juga berharap kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya di Teluk Bintuni.
“Saya berharap kesempatan seperti ini juga bisa dimanfaatkan oleh saudara-saudari saya yang lain. Semoga semakin banyak anak-anak Bintuni yang bisa sukses, tidak hanya di dalam negeri tapi juga di luar negeri,” harapnya.

Di akhir pesannya, Suci berbagi tips sederhana bagi siapa saja yang ingin mengikuti jejaknya.
“Cari informasi sebanyak mungkin tentang negara tujuan sebelum ikut seleksi, dan selalu berusaha memberikan yang terbaik di setiap kesempatan,” pesannya.
Kini, dengan langkah pasti menuju Jepang, Suci membawa harapan besar: membanggakan keluarga, almamater, dan daerah asalnya. Sebuah bukti bahwa keberanian keluar dari zona nyaman dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih luas.
(MA/Inspirasi Papua)













