Views: 52
IDI Teluk Bintuni Perkuat Penanganan TBC Anak, Tekankan Deteksi Dini dan Pencegahan
BINTUNI, PAPUA BARAT – Komitmen melawan Tuberkulosis (TBC) terus diperkuat. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Teluk Bintuni menggelar webinar bertajuk Tatalaksana Tuberkulosis (TBC) pada Anak dalam rangka peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia 2026, Sabtu (18/04/2026).
Berdasarkan informasi dari Ketua IDI Cabang Teluk Bintuni dr. Wiendo Syahputra Yahya, Sp.P, M.MRS, FAPSR, FISR, kegiatan itu diikuti oleh dokter spesialis anak, dokter umum, perawat, hingga penanggung jawab program TBC di Puskesmas.
“Webinar menjadi ruang berbagi ilmu sekaligus penguatan kapasitas tenaga kesehatan dalam menangani TBC pada anak—kelompok yang rentan namun sering luput dari perhatian,” tuturnya.
Webinar itu, dipandu oleh moderator dr. Steven, dua narasumber utama yakni dr. Rafiqa Rais Akbar, Sp.A dan dr. Eunike Jaequline Salipadang, Sp.A, mengupas tuntas penanganan hingga pencegahan TBC pada anak.
Dalam pemaparannya, dr. Rafiqa menyoroti fakta yang memprihatinkan: Indonesia menempati peringkat kedua dunia dengan jumlah kasus TBC terbanyak, dan sekitar 11 persen penderitanya adalah anak-anak.
“Gejala TBC pada anak seringkali tidak disadari. Biasanya berlangsung lebih dari dua minggu, seperti batuk lama, demam berkepanjangan, berat badan tidak naik, anak tampak lemas, hingga keringat malam,” jelasnya.
Ia menambahkan, faktor risiko terbesar adalah kontak erat dengan penderita TBC, terutama dalam lingkungan rumah. Oleh karena itu, deteksi dini menjadi kunci penting.
Untuk memastikan diagnosis, sejumlah pemeriksaan perlu dilakukan, mulai dari pemeriksaan dahak, foto rontgen dada, hingga uji tuberkulin. Sementara pengobatan TBC pada anak disesuaikan dengan kondisi klinis, dengan durasi terapi berkisar antara 6 hingga 12 bulan.
Sementara itu, dr. Jaequline menekankan pentingnya langkah pencegahan melalui Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT), yang kini telah menjadi bagian dari program nasional penanggulangan TBC.
“TPT sangat bermanfaat, terutama bagi pasien TBC laten. Terapi ini mampu menurunkan risiko berkembang menjadi TBC aktif hingga 60 sampai 90 persen,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa pada kelompok rentan seperti Orang Dengan HIV/AIDS, TPT terbukti mampu memberikan perlindungan dari TBC aktif hingga lima tahun.
Pemberian TPT diprioritaskan bagi mereka yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC aktif, termasuk anak-anak, serta individu dengan daya tahan tubuh lemah.
Terdapat beberapa pilihan regimen terapi yang dapat diberikan, mulai dari konsumsi obat harian selama enam bulan, tiga bulan, hingga skema mingguan selama tiga bulan. Namun, dr. Jaequline mengingatkan bahwa pemantauan rutin menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.
“Setiap anak yang menjalani TPT harus dipantau setiap bulan, baik dari kepatuhan minum obat, kemungkinan munculnya gejala TBC aktif, hingga efek samping obat,” tegasnya.
Melalui kegiatan ini, IDI Teluk Bintuni berharap tenaga kesehatan semakin sigap dalam mendeteksi, menangani, dan mencegah TBC pada anak. Lebih dari itu, edukasi yang berkelanjutan diharapkan mampu menekan angka kasus TBC dan menyelamatkan generasi masa depan dari ancaman penyakit menular tersebut.
***(MA/Inspirasi Papua)***











