Views: 18
Warga Papua Tak Minta yang Mewah, Irene Manibuy: Mereka Hanya Butuh Rumah, Air Bersih, dan Perhatian Nyata
BINTUNI, PAPUA BARAT – Di balik pembahasan besar tentang pembangunan Otonomi Khusus Papua, suara masyarakat ternyata sangat sederhana: mereka hanya ingin hidup lebih layak.
Hal itu diungkapkan Kepala Badan Pengarah Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua (BP3OKP) Perwakilan Provinsi Papua Barat, Irene Manibuy, saat mengawal pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrembang) di Teluk Bintuni, Jumat (24/4/2026).
Menurut Irene, setelah mendengar langsung berbagai aspirasi masyarakat, khususnya Orang Asli Papua (OAP), kebutuhan yang disampaikan bukanlah proyek besar atau permintaan mewah, melainkan hal-hal mendasar yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Mereka minta rumah tipe 36, bukan tipe yang lebih besar. Mereka butuh MCK, sumur bor, hingga dukungan operasional bagi Dewan Adat dan perempuan adat untuk ikut mengawal pembangunan,” ujar Irene.
Ia menilai, permintaan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Papua masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar yang seharusnya sudah menjadi perhatian utama pemerintah.
Bagi banyak keluarga, rumah sederhana yang layak huni menjadi harapan besar. Akses terhadap air bersih melalui sumur bor, fasilitas MCK yang memadai, hingga ruang bagi perempuan adat dan lembaga adat untuk berperan aktif dalam pembangunan juga menjadi kebutuhan yang sangat penting.
Tak hanya itu, masyarakat juga menyampaikan harapan adanya bantuan langsung tunai (BLT) yang benar-benar menyentuh OAP. Skema bantuan ini dinilai penting untuk membantu masyarakat menghadapi tekanan ekonomi, terutama seperti saat terjadi kenaikan harga BBM.
Irene menyambut baik aspirasi tersebut.
Namun, ia menegaskan bahwa bantuan seperti itu harus memiliki dasar hukum yang jelas agar pelaksanaannya tepat sasaran dan berkelanjutan.
“Bantuan seperti itu bisa saja diberikan, asalkan ada aturannya. Bisa menggunakan hak prerogatif Presiden, khusus bagi mereka yang sudah memiliki KTP Papua. Tujuannya agar orang Papua benar-benar merasakan sentuhan pembangunan,” tegasnya.
Menurut Irene, pembangunan Papua tidak boleh hanya terlihat besar di atas kertas, tetapi harus benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Baginya, kesejahteraan tidak selalu diukur dari proyek besar, tetapi dari apakah masyarakat sudah memiliki rumah yang layak, air bersih, sanitasi yang baik, dan rasa bahwa negara benar-benar hadir untuk mereka.
Melalui Musrembang ini, Irene berharap seluruh aspirasi tersebut tidak berhenti sebagai catatan rapat, tetapi benar-benar menjadi prioritas dalam kebijakan pembangunan ke depan.
Sebab bagi masyarakat Papua, perhatian kecil yang nyata sering kali jauh lebih berarti daripada janji besar yang tak kunjung tiba.
***(MA/Inspirasi Papua)***













