Views: 25
“Kabut Asap Menebal di Bintuni, Bandara Stengkol Tetap Beroperasi dengan Pengawasan Ketat”
BINTUNI, inspirasipapua.id — Kabut asap masih menyelimuti Kota Bintuni dan sejumlah wilayah Teluk Bintuni dalam beberapa pekan terakhir. Pandangan di sejumlah ruas jalan tampak berkabut, sementara aktivitas masyarakat tetap berjalan di tengah kondisi udara yang tidak sepenuhnya jernih.
Situasi serupa terasa di sekitar Bandara Udara Stengkol. Meski kondisi udara berubah akibat kabut asap, aktivitas pelayanan penerbangan hingga Kamis, 1 Oktober 2026, masih berlangsung. Penumpang tetap dilayani, sementara petugas bandara memperketat pemantauan terhadap kondisi yang berkaitan dengan keselamatan penerbangan.
Bagi dunia penerbangan, jarak pandang merupakan salah satu faktor penting dalam memastikan pesawat dapat bergerak secara aman. Karena itu, kondisi kabut asap tidak hanya dilihat dari seberapa tebal asap yang tampak oleh mata, tetapi juga dari hasil pengukuran dan pemantauan petugas penerbangan.
Kepala Sub Seksi Keamanan dan Keselamatan Penerbangan Bandara Udara Stengkol Teluk Bintuni, Yance D. Imanuel A, mengatakan pelayanan publik di bandara tetap berjalan dengan berpedoman pada Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku.
“Pelayanan publik di bidang penerbangan tetap berjalan dengan seluruh SOP yang telah ditentukan. Termasuk keselamatan, kendaraan pemadam kebakaran sebanyak dua unit dalam kondisi siap sedia jika dibutuhkan,” ujar Yance.
Menurut dia, kesiapan fasilitas keselamatan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan penerbangan. Petugas tidak hanya melayani penumpang, tetapi juga memastikan perangkat dan personel pendukung berada dalam kondisi siap apabila sewaktu-waktu diperlukan.
Di sisi lain, kondisi jarak pandang menjadi salah satu perhatian utama petugas menara pengawas. Kepala Unit Bandara Udara Stengkol, Sardiansyah Rosi, mengatakan hasil pemantauan terakhir menunjukkan jarak pandang berada di angka sekitar 1,3 kilometer.
“Jarak pandang saat ini 1,3 kilometer,” kata Sardiansyah.
Angka tersebut, menurut pihak bandara, masih berada dalam batas yang memungkinkan operasional penerbangan dilakukan dengan tetap mengikuti ketentuan keselamatan yang berlaku. Pemantauan dilakukan secara berkala karena kondisi kabut asap dapat berubah mengikuti keadaan di lapangan.
Di Kota Bintuni sendiri, kabut asap dalam beberapa pekan terakhir menjadi bagian dari pemandangan sehari-hari warga. Kondisi udara yang berkabut membuat jarak pandang menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di jalan maupun pengguna transportasi yang membutuhkan visibilitas cukup.
Namun, aktivitas kota tidak berhenti. Pergerakan masyarakat, kendaraan, perdagangan dan pelayanan publik tetap berlangsung. Di tengah aktivitas tersebut, sektor transportasi udara juga berupaya menjaga agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan tanpa mengabaikan faktor keselamatan.
Pihak Bandara Stengkol terus melakukan pengawasan terhadap kondisi lapangan, termasuk perkembangan jarak pandang. Setiap perubahan kondisi menjadi bagian dari pertimbangan petugas dalam memastikan pergerakan pesawat tetap sesuai prosedur.
Bagi penumpang, kondisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa penerbangan tidak semata-mata bergantung pada jadwal keberangkatan. Kondisi cuaca, jarak pandang, kesiapan fasilitas keselamatan dan hasil pemantauan petugas merupakan bagian dari rangkaian pemeriksaan sebelum dan selama operasional penerbangan.
Dengan kabut asap yang masih menyelimuti Bintuni, pengawasan tersebut menjadi penting. Bandara tetap menjadi pintu mobilitas masyarakat, tetapi keselamatan tetap menjadi batas utama dalam setiap keputusan operasional penerbangan.
**(Tim/red/muris/inspirasipapua id)**













