Views: 140
Menjahit Harapan dari Laut ke Udara: Bintuni Mimpi Besar lewat Pelabuhan Muturi dan Bandara Steenkool
BINTUNI – Di balik hamparan hijau Teluk Bintuni yang dikelilingi hutan tropis dan laut biru, ada satu harapan besar yang kini tengah dijahit bersama: konektivitas. Harapan itu hadir lewat dua pintu gerbang baru yang sedang direncanakan pemerintah daerah—Pelabuhan Umum Muturi dan perluasan Bandara Steenkool.
Hari Senin (08/09/2025), Gedung Sasana Karya di Kantor Bupati Teluk Bintuni dipenuhi wajah-wajah penuh antusias. Pejabat, akademisi, tokoh masyarakat, hingga praktisi transportasi duduk dalam satu forum Focus Group Discussion (FGD). Mereka tidak sekadar membicarakan angka-angka dari feasibility study (studi kelayakan), tetapi juga membayangkan masa depan sebuah daerah yang ingin keluar dari keterisolasian.
“Transportasi laut dan udara kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan,” tegas Wakil Bupati Teluk Bintuni, Joko Lingara, dalam sambutannya. Suaranya terdengar mantap, seolah menyampaikan pesan sederhana namun dalam: Bintuni tidak bisa lagi bergantung pada jalan darat semata.
Pelabuhan Muturi, Denyut Baru Logistik
Bayangkan sebuah kapal besar yang merapat di Pelabuhan Muturi, membawa sembako, material pembangunan, hingga barang kebutuhan sehari-hari. Dari pelabuhan itu, barang-barang didistribusikan ke pesisir, pulau-pulau kecil, bahkan sampai ke pedalaman.
Itulah gambaran yang dipaparkan oleh Kepala Bidang Perhubungan Laut dan Udara, Marthen Kilonreasy. Ia menjelaskan bahwa hasil studi kelayakan menunjukkan proyek ini layak dan akan memberikan dampak ekonomi yang signifikan.
“Pelabuhan Muturi nantinya bukan hanya berfungsi sebagai simpul bongkar muat barang, tetapi juga menjadi pusat logistik yang menghubungkan Teluk Bintuni dengan wilayah lain di Papua Barat, bahkan ke luar Papua. Dengan adanya pelabuhan ini, biaya distribusi bisa ditekan, harga barang lebih terjangkau, dan sektor usaha masyarakat bisa tumbuh,” ungkap Marthen.
Ia menambahkan, pelabuhan ini akan mengurangi ketergantungan Bintuni pada jalur darat yang sering kali terkendala cuaca dan kondisi jalan. “Kita ingin memastikan tidak ada lagi desa yang terisolasi hanya karena barang logistik terlambat datang. Muturi akan menjadi pintu keluar masuk barang yang efisien dan modern,” tambahnya.
Bandara Steenkool, Jalan Langit yang Diperpanjang
Jika laut menjadi urat nadi perdagangan, maka langit adalah jalur cepat menuju dunia luar. Rencana pemerintah memperpanjang landasan pacu (runway) Bandara Steenkool dari 850 meter menjadi 1.500 meter membuka mimpi baru bagi masyarakat Bintuni.
Selama ini, bandara hanya bisa melayani pesawat kecil. Artinya, jumlah penerbangan terbatas, harga tiket mahal, dan akses bagi wisatawan maupun investor masih terbatas. Dengan runway lebih panjang, pesawat berkapasitas besar dapat mendarat. Artinya, frekuensi penerbangan bertambah, ongkos perjalanan bisa lebih murah, logistik udara lebih efisien, dan akses Bintuni ke kota-kota besar semakin terbuka.
“Dengan infrastruktur yang lebih memadai, kita dapat memperbesar peluang investasi, meningkatkan daya saing, serta membuka kesempatan kerja lebih luas bagi masyarakat,” jelas Wakil Bupati Joko Lingara.
Marthen Kilonreasy menambahkan, perpanjangan runway ini akan mengubah wajah transportasi udara di Bintuni. “Bayangkan jika pesawat tipe ATR 72 atau bahkan Boeing 737 bisa mendarat di Steenkool. Bintuni tidak lagi terpencil, tapi sejajar dengan kota-kota besar lain di Papua. Investor, wisatawan, bahkan anak-anak muda yang ingin sekolah ke luar daerah akan jauh lebih mudah bepergian,” katanya.
Membangun Konektivitas, Menumbuhkan Harapan
FGD ini bukan sekadar forum teknis, melainkan ruang harapan. Para peserta berdiskusi bagaimana pelabuhan dan bandara ini tidak hanya berdiri sebagai bangunan beton dan aspal, tetapi benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat kecil.
Di luar ruang rapat, bayangan itu terasa lebih nyata. Bagi nelayan di Distrik Sumuri, pelabuhan berarti harga ikan lebih stabil karena bisa cepat dikirim keluar daerah. Bagi mahasiswa yang ingin kuliah di Makassar atau Jawa, bandara dengan runway panjang berarti perjalanan lebih mudah dan biaya lebih terjangkau. Bagi pedagang kecil di pasar, arus barang lancar berarti harga beras, gula, dan minyak goreng tidak melonjak setinggi langit.
Pemerintah daerah menyadari, dua infrastruktur ini adalah kunci untuk menembus keterbatasan geografis Bintuni. Konektivitas bukan sekadar jalan, pelabuhan, atau bandara, melainkan pintu menuju kesejahteraan.
Menatap Masa Depan Bintuni
Forum FGD kali ini diharapkan melahirkan rekomendasi strategis dan komprehensif. Hasilnya akan menjadi pijakan penting dalam pengambilan keputusan pembangunan infrastruktur transportasi.
Bintuni sedang menatap masa depan dengan langkah berani. Dari laut Muturi hingga langit Steenkool, masyarakat menaruh harapan besar: hadirnya konektivitas yang membuka ruang ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan wisata.
Di tengah tantangan besar Papua, mimpi itu bukan sekedar utopia. Dengan kerja sama, doa, dan keberanian untuk bermimpi besar, Bintuni bisa menjahit masa depan yang lebih sejahtera.
(Laporan: Redaksi Kadate/Inspirasi Papua)











