Views: 124
Dentang Tifa di Usilimo: Pesan Cinta dari Lembah Baliem untuk Dunia
Klik :
Vidio : Lembah Baliem untuk Dunia
Laporan : Redaksi KADATE/Inspirasi Papua
WAMENA – Pagi di Distrik Usilimo, Jayawijaya, dimulai dengan kabut tipis yang turun pelan-pelan di antara perbukitan hijau. Dari kejauhan, dentang tifa mulai terdengar—pelan, lalu semakin cepat, seolah memanggil semua orang untuk berkumpul. Hari itu, Lembah Baliem menjadi panggung dunia.
Festival Budaya Lembah Baliem 2025 resmi dibuka, mengangkat tema “Budayaku, Jati Diriku, dari Jayawijaya untuk Dunia”. Sejak matahari mulai mengintip, warga dari berbagai kampung, wisatawan lokal, hingga pelancong mancanegara sudah memadati area festival.
Di tengah lapangan luas, para pria berkulit legam berdiri gagah dengan koteka, wajah mereka diwarnai cat merah, kuning, dan putih. Di sisi lain, para mama Papua tersenyum sambil menyiapkan bakar batu—aroma daging babi dan ubi mulai menguar, mengundang siapa pun untuk mendekat.
“Ini bukan hanya pesta, ini cara kami menjaga cerita nenek moyang,” ucap Yonas Wakerkwa, salah satu tetua adat, sambil memegang tombak bambu berukir halus.
Perang Suku, tapi Tanpa Darah
Atraksi perang suku menjadi magnet utama. Ratusan penari perang berlarian di padang rumput, mengayunkan tombak, menjerit lantang, dan menari dalam ritme yang membuat jantung berdegup cepat. Semua itu hanyalah simulasi—bukan untuk bermusuhan, tetapi untuk menunjukkan keberanian dan persaudaraan.
Anak-anak kecil berlari di tepian, menirukan gerakan orang dewasa, tertawa lepas. Wisatawan asing sibuk mengabadikan momen, sesekali ikut bergoyang mengikuti hentakan kaki para penari.
Pikon dan Rekor Dunia
Salah satu momen yang membuat merinding adalah ketika 1.500 musisi memainkan pikon—alat musik tradisional yang hanya bisa didengar dengan teknik khusus. Suaranya seperti bisikan angin di hutan, membawa pesan damai. Momen ini langsung tercatat di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), menjadi kebanggaan bukan hanya untuk Jayawijaya, tapi seluruh Papua.
Bupati Jayawijaya, Matias Matuan, menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar tontonan.
“Ini adalah ruang untuk kita berbicara kepada dunia: bahwa Papua punya budaya yang indah, yang layak dihargai dan dilestarikan.”
Pasar UMKM dan Senyum Mama-mama
Tak jauh dari arena utama, tenda-tenda UMKM berdiri rapi. Mama-mama Papua memamerkan noken rajutan tangan, manik-manik warna-warni, serta ukiran kayu khas. Setiap pembelian bukan hanya soal uang, tapi juga penghargaan atas kerja keras mereka.
Maria Mabel, seorang perajin noken, mengaku senang dengan ramainya pengunjung.
“Banyak yang beli untuk oleh-oleh. Ada orang dari Amerika, ada dari Jepang. Kami bangga sekali.
Lebih dari Sekadar Festival
Festival Budaya Lembah Baliem bukan hanya milik Jayawijaya. Ini adalah panggilan untuk semua orang—bahwa identitas harus dijaga, cerita harus diwariskan, dan kebersamaan harus dirayakan.
Saat matahari mulai condong ke barat, tarian Gorake dari Papua Nugini mengalun di panggung. Penari-penari tamu itu bergerak dengan semangat, seakan mengirim pesan: budaya melintasi batas negara, tapi tetap satu dalam rasa.
Di langit Lembah Baliem, warna jingga senja menyelimuti. Dentang tifa mereda, tapi gema kebanggaan akan bertahan lama—di hati mereka yang menyaksikan, di ingatan mereka yang mencintai Papua. ***

