Kapal Bintuni Sehat Membawa Harapan bagi Warga Pesisir yang Sulit Mengakses Layanan Medis

banner 468x60
Bagikan berita ini

Views: 31

Tembus Kabut Asap, Kapal Bintuni Sehat Bawa Layanan Medis ke Pesisir Kuri

BINTUNI, inspirasipapua.id — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan tak menghentikan langkah tenaga kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, menjangkau warga pesisir. Dengan kapal Bintuni Sehat, tim medis menembus keterbatasan akses menuju Distrik Kuri untuk memberikan pelayanan kesehatan yang selama ini sulit dijangkau sebagian masyarakat.

Pelayanan kesehatan bergerak yang berlangsung pada 9–11 Oktober 2026 itu dipusatkan di Kampung Awegro. Kegiatan ini menyasar warga dari lima kampung, yakni Sarbe, Awegro, Wagura, Refideso, dan Naramasa, sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-62. Sejumlah warga bahkan rela menempuh perjalanan menggunakan longboat demi mendapatkan pemeriksaan medis.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Teluk Bintuni, Yohanis Manibuy, mengatakan Awegro dipilih karena menjadi satu-satunya kampung yang dapat dijangkau kapal Bintuni Sehat.

Kondisi geografis dan keterbatasan akses perairan membuat tim harus menyesuaikan lokasi pelayanan agar dapat menjangkau masyarakat.

“Kalau ibu kota distrik kapal tidak bisa masuk, kita masuk di kampungnya. Sebelum ke Kuri, kita sudah survei. Hanya Awegro yang bisa dimasuki kapal, jadi masyarakat berkumpul di kampung ini,” ujar Yohanis, Sabtu, 10 Oktober 2026.

Dinas Kesehatan mengerahkan empat dokter dengan keahlian di bidang saraf, bedah tumor, mata, dan anestesi. Mereka didukung lima petugas kamar operasi serta enam personel Dinas Kesehatan.

Kehadiran tim dengan beragam keahlian itu membuka kesempatan bagi warga untuk memperoleh pemeriksaan yang lebih komprehensif tanpa harus terlebih dahulu bepergian ke pusat layanan kesehatan di kota.

Sejak hari pertama, warga berdatangan untuk memeriksakan kondisi kesehatan mereka. Salah satu temuan yang menonjol adalah banyaknya warga yang diduga mengalami katarak. Gangguan penglihatan tersebut perlu diperiksa lebih lanjut untuk menentukan tingkat keparahan dan penanganan yang sesuai.

Yohanis menjelaskan, pasien tidak langsung menjalani operasi. Tim medis terlebih dahulu melakukan skrining atau pemeriksaan awal untuk memastikan kondisi pasien memenuhi persyaratan medis.

“Kita screening pasien dulu di bawah, siapa yang layak untuk operasi, baru nanti pasien dioperasi di atas kapal,” katanya.

Bagi masyarakat pesisir, kehadiran pelayanan kesehatan bergerak bukan sekadar mendatangkan dokter ke kampung. Program ini juga mengurangi hambatan biaya, jarak, dan waktu perjalanan yang kerap membuat warga menunda pemeriksaan. Terlebih, akses menuju sejumlah kampung di Distrik Kuri bergantung pada transportasi laut dan kondisi perairan.

Di tengah kabut asap yang membatasi jarak pandang serta sulitnya menjangkau wilayah pesisir, pelayanan ini menunjukkan pentingnya layanan kesehatan yang mendatangi masyarakat, bukan hanya menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan.

Pemeriksaan dan penanganan dini, termasuk terhadap gangguan penglihatan seperti katarak, dapat membantu mencegah kondisi kesehatan memburuk. Bagi warga yang selama ini terkendala akses, kesempatan bertemu langsung dengan dokter menjadi langkah awal untuk memperoleh penanganan yang tepat.

Melalui kapal Bintuni Sehat, Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni berupaya mendekatkan pelayanan medis kepada masyarakat di wilayah terpencil. Tantangannya bukan hanya menghadirkan tenaga kesehatan, tetapi juga memastikan warga yang membutuhkan pengobatan lanjutan tetap memperoleh akses setelah pelayanan bergerak berakhir.

(Tim/red/muris/inspirasi Papua.id)

About Post Author

banner 468x40

banner 468x40

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *