Dukung Ketahanan Pangan, Polres Bintuni Siapkan Lahan Jagung untuk Petani

Kapolres Teluk Bintuni AKBP Hari Susanto, S.I.K . (ist/Tim Redaksi KADATE/Inspirasi Papua)
Bagikan berita ini

Views: 105

Dukung Ketahanan Pangan, Polres Bintuni Siapkan Lahan Jagung untuk Petani

 

Laporan: Tim Redaksi KADATE/Inspirasi Papua

BINTUNI — Di tanah subur yang membentang di sekitar Iguriji, SP-5 Distrik Bintuni Timur, sebuah inisiatif baru tengah digagas. Bukan tentang keamanan atau penegakan hukum seperti biasanya, tapi tentang ladang, benih, dan panen. Ya, kali ini Polres Teluk Bintuni turun langsung ke lahan pertanian, menggandeng petani untuk menanam jagung.

Kapolres Teluk Bintuni, AKBP Hari Sutanto, S.I.K., punya cara unik dalam mendukung program ketahanan pangan nasional—dengan membuka lahan seluas kurang lebih dua hektar di area Polres untuk ditanami jagung sebagai lahan percontohan.

Bukan sembarang tanam, tapi bagian dari gerakan strategis yang melibatkan banyak pihak: petani lokal, dinas pertanian, dinas Perindagkop hingga Bulog.

Dari Gagasan Menjadi Gerakan

“Sewaktu kami lakukan video conference monitoring bersama Polda Papua Barat, kami laporkan bahwa pemerintah daerah melalui dinas pertanian telah melaunching 100 hektar lahan sawah. Dan yang sudah ditanami padi seluas 77,5 hektar,” ujar Kapolres Hari saat ditemui di kantornya, Rabu (23/7/2025).

Melihat geliat pertanian padi yang mulai bergerak, ia memikirkan satu hal: bagaimana dengan petani lain yang belum terlibat? Maka lahirlah ide menanam jagung sesuai instruksi dari pusat—komoditas yang lebih cepat panen dan tak butuh banyak air seperti padi.

Namun tak berhenti di situ. Kapolres Hari ingin agar lahan Polres tak sekadar jadi contoh, tapi benar-benar menjadi jembatan antara petani dengan sistem pendukung: dari penyuluh, sarana produksi, hingga pasar.

Polisi Bertani, Petani Mandiri

“Saya sangat berharap masyarakat, khususnya kelompok tani yang belum punya lahan, bisa datang ke Polres. Kita siap bantu fasilitasi, mulai dari bibit, pupuk, sampai pasarnya,” tuturnya.

Di program ini, peran Polres adalah sebagai pembina dan penghubung. Dinas Pertanian akan menyediakan bibit, pupuk, dan obat-obatan. Sementara kelompok tani bertugas mengolah lahan dan merawat tanaman. Nantinya, hasil panen tidak dijual ke tengkulak, tapi ke Bulog.

“Pasarnya sudah jelas. Bulog siap ambil jagung dari lokasi kalau kadar airnya 18–20 persen, dengan harga Rp5.500 per kilogram. Kalau lebih kering, kadar air 14 persen, Bulog bayar Rp6.400 tapi petani yang antar sendiri ke Bulog. Ini aturan dari pusat,” jelas Kapolres Hari.

Bagi petani yang selama ini bingung soal pemasaran, model seperti ini bisa menjadi solusi konkret. Harga pasti, pembeli sudah ada, dan yang paling penting: hasil jerih payah petani dihargai layak.

Kebun Contoh dan Langkah Menyebar

Tak hanya di SP-5, Kapolres Hari juga merancang agar program ini menyebar ke distrik dan kampung-kampung di Bintuni. Caranya? Lewat peran para Kapolsek dan Bhabinkamtibmas yang menjadi pembina langsung di lapangan.

“Saya ingin ini tidak berhenti di Polres saja. Kami akan terapkan juga melalui Bhabinkamtibmas yang tersebar di kampung-kampung. Meskipun jumlah mereka terbatas—dari awalnya 90-an personil kini tinggal 44 personil karena sebagiannya pergi sekolah atau sedang mengikuti pendidikan—meski tenaga Bhabinkamtibmas terbatas tapi semangat mereka luar biasa. Biasanya satu orang bisa mendampingi dua kampung,” ujarnya.

Jagung yang ditanam di kebun percontohan Polres nantinya diharapkan menjadi model keberhasilan, yang bisa ditiru masyarakat lain. Bahkan, untuk pemasaran, Polres sudah mulai menjalin komunikasi lintas sektor, termasuk ke Dinas Perindagkop Teluk Bintuni dan Bulog tingkat provinsi melalui Polda Papua Barat.

Tak hanya itu, potensi kerja sama dengan koperasi kampung juga dibuka lebar.

“Kedepan, kita bisa manfaatkan gudang-gudang Koperasi Merah Putih di kampung yang sudah diresmikan. Jadi setelah panen, hasilnya bisa disimpan dulu di koperasi sebelum dikirim ke Bulog,” tambah Kapolres Hari.

Dari Tanah Bintuni untuk Ketahanan Pangan Negeri

Inisiatif ini tidak berdiri sendiri. Ia bagian dari visi besar pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pangan dari luar daerah dan membangun kemandirian dari dalam. Di Bintuni, tanah masih luas, tangan-tangan kerja masih banyak, dan harapan masih hidup.

Apa yang dilakukan Polres Teluk Bintuni bisa jadi langkah kecil, tapi dampaknya bisa besar. Bayangkan jika setiap institusi ikut turun ke lapangan, menggandeng warga, menggarap lahan, dan membangun masa depan dari butir-butir jagung yang ditanam hari ini.

“Semua kita kembalikan ke masyarakat,” tutup Kapolres. “Kami hanya menjembatani, membantu mereka agar tidak jalan sendiri-sendiri. Kalau semua bersinergi, saya yakin ketahanan pangan bukan sekadar slogan, tapi kenyataan di tanah Bintuni.”

Dari ladang kecil di halaman Polres itu, tumbuh harapan baru. Jagung bukan sekadar tanaman, tapi simbol kemandirian. Dan Bintuni, siap menjadi contoh. ***

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *