Ditempa P2TIM, Sajiman Solowat Menemukan Jalan Sukses di BP Tangguh

banner 468x60
Bagikan berita ini

Views: 66

Dari Kampung Taroi ke BP Tangguh, Kisah Sajiman Solowat yang Ditempa P2TIM Bintuni

BINTUNI, inspirasipapua.id — Pagi bagi Sajiman Solowat bukan sekedar pergantian malam menjadi siang. Dari kebiasaan bangun pagi hingga menyiapkan diri menjalani pekerjaan, ada disiplin yang terus ia bawa sejak mengikuti pelatihan di Pusat Pelatihan Teknik Industri dan Migas (P2TIM) Teluk Bintuni.

Tiga tahun terakhir, kebiasaan itu menjadi bagian dari perjalanan kariernya sebagai scaffolder atau tenaga perancah pada PT Titian yang bekerja di lingkungan British Petroleum (BP) Tangguh, Teluk Bintuni, Papua Barat.

Bagi Sajiman, pekerjaan tersebut bukan datang begitu saja. Ada proses panjang yang dimulai dari ruang pelatihan P2TIM. Di tempat itulah putra bungsu dari empat bersaudara asal suku Sebyar, Kampung Taroi, Distrik Taroi, Teluk Bintuni, itu belajar keterampilan teknis sekaligus membentuk dirinya untuk memasuki dunia kerja.

Sajiman merupakan alumnus pelatihan scaffolder P2TIM angkatan ke-13 pada 2023. Ketika pertama kali mengikuti pelatihan, ia mengaku belum memiliki gambaran yang cukup tentang bagaimana membangun masa depan dan menjadi pekerja yang disiplin.

“Sebagai perintis di keluarga, P2TIM tidak hanya memberi saya keahlian, tapi juga kepribadian. Dulu saya tidak tahu cara membimbing diri, belum bisa hidup baik, tidak disiplin, dan belum tahu cara sukses,” kata Sajiman mengenang masa awal mengikuti pelatihan.

Menurut dia, perubahan terbesar justru dimulai dari hal-hal yang terlihat sederhana. Ia dibiasakan mengatur waktu, bangun pagi, menjaga kedisiplinan, mengendalikan emosi, berkomunikasi dengan baik, serta membangun pola pikir yang lebih terarah.

Pelatihan itu membuatnya memahami bahwa memasuki dunia kerja bukan hanya persoalan memiliki keterampilan teknis. Seorang pekerja juga harus mampu mengatur dirinya sendiri, berkomunikasi, bekerja dalam tim, memahami aturan keselamatan, dan memiliki sikap profesional.

“Salah satu skill yang sangat bermanfaat adalah pengenalan dan pembentukan kembali diri saya. Membentuk identitas baru, di mana saya diajarkan disiplin mulai dari bangun pagi sampai tidur malam,” ujarnya.

Dari sana, Sajiman mulai melihat dunia kerja dengan cara berbeda. Ia tidak hanya diajarkan bagaimana bekerja, tetapi juga bagaimana mempersiapkan diri sebelum benar-benar berhadapan dengan dunia kerja.

Ia belajar membuat curriculum vitae (CV), mendapatkan gambaran tentang lingkungan kerja, hingga berlatih menghadapi wawancara kerja. Pengetahuan tersebut kemudian menjadi bekal ketika ia harus bersaing mendapatkan kesempatan kerja.

“Memang terdengar biasa, tetapi semuanya memberikan dampak yang luar biasa bagi saya,” katanya.

Dari Pelatihan ke Dunia Kerja

Di bidang teknis, Sajiman mendapat pembekalan sebagai scaffolder. Ia belajar memasang dan membongkar perancah dengan memperhatikan prosedur keselamatan kerja yang berlaku.

Pengetahuan tersebut kemudian diperkuat melalui sertifikasi kompetensi. Ia dinyatakan kompeten melalui sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan Engineering Construction Industry Training Board (ECITB).

Bekal itu menjadi jembatan bagi Sajiman untuk memasuki dunia kerja. Kini, sekitar tiga tahun setelah menjalani pelatihan, ia bekerja sebagai scaffolder pada PT Titian di lingkungan proyek BP Tangguh.

Perjalanan tersebut membuatnya melihat kembali masa ketika dirinya pertama kali datang ke P2TIM. Ada jarak antara Sajiman yang dulu dengan dirinya sekarang.

Dulu, ia datang sebagai anak muda yang belum memahami sepenuhnya bagaimana membangun masa depan. Kini, ia telah memiliki pekerjaan, keterampilan, sertifikasi, pengalaman, serta pemahaman tentang tanggung jawab sebagai seorang pekerja.

Namun bagi Sajiman, keberhasilan itu tidak membuat hubungan dengan P2TIM berhenti. Ia masih menjaga komunikasi dengan almamaternya tersebut.

P2TIM, kata dia, bukan sekadar tempat mendapatkan sertifikat pelatihan. Tempat itu sudah ia anggap sebagai bagian dari perjalanan hidupnya, bahkan seperti keluarga dan rumah kedua.

“Saya sangat senang dengan semua ilmu dan keahlian yang saya dapat di P2TIM,” tuturnya.

Pengalaman Sajiman juga membuatnya melihat pelatihan tenaga kerja lokal dari sudut yang lebih luas. Menurut dia, kesempatan untuk mendapatkan keterampilan dan memasuki dunia kerja merupakan sesuatu yang penting bagi anak-anak muda di Teluk Bintuni.

Ia menyebut P2TIM telah membantu anak-anak dari tujuh suku di Teluk Bintuni yang ingin berkembang dan mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.

Bagi Sajiman, pelatihan menjadi penting karena potensi anak-anak Papua tidak cukup hanya dibicarakan. Potensi itu perlu ditempa melalui pendidikan, keterampilan, kedisiplinan, dan pengalaman agar dapat benar-benar menjadi kemampuan yang dibutuhkan dunia kerja.

Perjalanan hidupnya menjadi salah satu contoh bahwa perubahan dapat dimulai dari proses yang sederhana: belajar datang tepat waktu, memahami aturan, mengendalikan diri, berani berkomunikasi, kemudian menguasai keterampilan yang dibutuhkan.

Dari Kampung Taroi, Sajiman membawa identitas sebagai putra Sebyar. Dari P2TIM, ia membawa bekal keterampilan dan pembentukan karakter. Dari dunia kerja, ia memperoleh pengalaman untuk terus mengembangkan dirinya.

Kini, ia ingin pengalaman itu tidak berhenti pada dirinya.

“Saya berharap saudara, teman, keluarga besar, semua bisa merasakan apa yang saya rasa. Membangun kesejahteraan dan kesuksesan di tanah kita sendiri,” katanya.

Sajiman percaya anak-anak Papua memiliki kemampuan untuk menjadi bagian penting dalam pembangunan. Yang dibutuhkan adalah kesempatan, kemauan belajar, kedisiplinan, dan keberanian untuk terus meningkatkan kemampuan.

“Kita harus buktikan putra-putri lokal Papua adalah orang yang bisa diandalkan membangun negeri kita tercinta,” ujarnya.

Perjalanan Sajiman menunjukkan bahwa keberhasilan seorang anak muda lokal tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, ia berawal dari sebuah ruang pelatihan, rutinitas bangun pagi, disiplin yang terus dilatih, dan kemauan untuk mengubah diri.

Dari situlah seorang anak muda Kampung Taroi ditempa. Dari sana pula ia melangkah ke dunia kerja, membawa keterampilan yang diperoleh di tanah kelahirannya sendiri.

**(Tim/red/muris/inspirasipapua.id)**

About Post Author

banner 468x40

banner 468x40

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *