Views: 270
Kasus Diare di Weriagar Capai 62, Dinas Kesehatan Teluk Bintuni Tetapkan KLB: Diduga Akibat Air Tercemar E. coli
BINTUNI — Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) diare di Distrik Weriagar, Papua Barat, setelah tercatat 62 kasus sepanjang 1 hingga 30 September 2025. Angka ini meningkat tajam dibandingkan periode Januari–Agustus 2025 yang rata-rata hanya 2–6 kasus per minggu.
“Selama bulan September, kami mencatat 7 sampai 8 kasus diare baru setiap minggu, ini menunjukkan lonjakan yang signifikan.
Sedangkan kasus yang ada pada bulan Oktober ini masih terdapat 17 kasus tambahan. Jadi kami masih tetap memantau apakah masih ada tambahan atau sudah tidak ada sama sekali,” ungkap Kepala Seksi Surveilans Imunisasi Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Teluk Bintuni, Berliana Dolog Saribu, Senin (20/10/2025) saat ditemui di Gedung ATM Dinkes Bintuni.
Kasus Terbanyak di Kampung Induk Weriagar
Dari total 62 kasus, kasus tertinggi di bulan September terjadi di Kampung Induk Weriagar. Sebagian besar penderita adalah anak-anak di bawah usia lima tahun, terutama yang masih buang air besar di tempat terbuka.
Menurut Berliana, penularan cepat terjadi karena kebersihan lingkungan dan perilaku hidup bersih masih rendah. “Anak-anak sering memegang feses sendiri atau orang tua tidak mencuci tangan dengan benar setelah membersihkan tinja anak,” jelasnya.
Sementara itu, kasus pada orang dewasa lebih sedikit karena mereka umumnya menggunakan WC gantung.
Minimnya Fasilitas MCK dan Air Bersih
Berliana menyebutkan, sebagian besar warga Weriagar tidak memiliki MCK dan sumber air bersih permanen.
Air yang sehat yang harus di konsumsi masyarakat adalah air yang tidak berwarna tidak berbau dan tidak berasa sedangkan sumber air kali sangat tidak memenuhi syarat untuk di konsumsi. Kondisi ini memperparah penyebaran penyakit.
Hasil pemeriksaan Petugas Kesehatan Lingkungan (Kesling) menemukan bakteri Escherichia coli (E. coli) pada hampir seluruh sumber air masyarakat — mulai dari air penampungan, air pasang surut, hingga air pencucian udang dan ikan. Bahkan, air kran di Puskesmas Weriagar juga terdeteksi mengandung E. coli.
“Musim panas membuat debit air menurun. Air yang digunakan masyarakat tidak layak karena terkontaminasi E. coli,” jelasnya.
Tim Gerak Cepat Turun ke Lapangan
Untuk menindaklanjuti temuan tersebut, Tim Gerak Cepat (TGC) Bidang P2PM bersama BP Tangguh Public Health International SOS diterjunkan ke Weriagar pada 10–12 September 2025.
Tim yang beranggotakan 10 orang ini melakukan penyelidikan epidemiologi, memetakan pola dan penyebab penyakit, serta melakukan pengobatan langsung kepada pasien.
“Kami mendatangi setiap rumah, menanyakan waktu sakit, dan mencatat data untuk menghitung kenaikan kasus per jam per hari,” ujar Berliana.
Hasil investigasi menunjukkan adanya kelompok rentan seperti anak-anak stunting dan Lansia, namun tidak ditemukan korban meninggal dunia dan seluruh pasien berhasil ditangani.
Koordinasi dan Tindakan Cepat Puskesmas
Puskesmas Weriagar segera melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan sejak awal September. Obat-obatan dikirim, dan penanganan dilakukan melalui program Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS).
“Petugas memberikan oralit dan tablet zinc untuk menghentikan diare, serta mengimbau masyarakat agar menjaga kebersihan lingkungan dan air,” tutur Berliana.
Selain itu, tenaga Kesling diminta memantau kebersihan tempat penjual makanan dan umum serta mendorong masyarakat memilih tiga sumber air bersih alternatif, yaitu:
1. Air yang telah melalui proses khlorinasi (korinisasi),
2. Air hasil penyaringan, dan
3. Air hujan.
Pemantauan Lewat Sistem SKDR
Berliana menjelaskan, deteksi cepat KLB diare tahun ini bisa dilakukan berkat Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon Penyakit (SKDR).
Melalui pelaporan online setiap hari Selasa, Dinas Kesehatan dapat membaca tren kenaikan kasus di 24 Puskesmas se-Kabupaten Teluk Bintuni secara real time.
“Tahun ini kasus KLB diare bisa terdeteksi karena datanya tercatat dengan baik lewat SKDR,” jelasnya.
Menurut Berliana, ada 25 penyakit potensial wabah yang diawasi melalui sistem ini, termasuk diare.
Tidak Berpotensi Wabah
Setelah melakukan rapat koordinasi dan analisis data, Dinas Kesehatan memastikan KLB diare di Weriagar tidak berpotensi menjadi wabah besar.
“Kami tetap siaga, tapi situasi sudah terkendali,” tutup Berliana.
Reporter: MA
Editor: Inspirasi Papua

