Buah dan Sayuran Busuk Dimusnahkan Karantina di Merauke: Lindungi Papua Selatan dari Ancaman Hama dan Penyakit

Petugas Karantina BKHIT Papua Selatan membuka pintu kontainer yang baru saja tiba di Pelabuhan Laut Merauke, Rabu (2/7/2025). Aroma tak sedap langsung menyergap. Tumpukan buah dan sayuran yang semestinya segar dan siap edar justru ditemukan dalam kondisi rusak parah—berjamur, busuk, dan tak layak konsumsi. (ist/Kadate/Inspirasi Papua) Kontainer tersebut berasal dari Surabaya dan tiba di Merauke pada 1 Juli 2025 menggunakan kapal MV. Kisik Mas.
Bagikan berita ini

Views: 353

Buah dan Sayuran Busuk Dimusnahkan Karantina di Merauke: Lindungi Papua Selatan dari Ancaman Hama dan Penyakit

 

Laporan: M.Ahmad | Kadate – Inspirasi Papua

MERAUKE, KADATE/Inspirasi Papua — Rasa kecewa dan keprihatinan bercampur menjadi satu saat petugas Karantina BKHIT Papua Selatan membuka pintu kontainer yang baru saja tiba di Pelabuhan Laut Merauke, Rabu (2/7/2025). Aroma tak sedap langsung menyergap. Tumpukan buah dan sayuran yang semestinya segar dan siap edar justru ditemukan dalam kondisi rusak parah—berjamur, busuk, dan tak layak konsumsi.

Kontainer tersebut berasal dari Surabaya dan tiba di Merauke pada 1 Juli 2025 menggunakan kapal MV. Kisik Mas. Namun harapan untuk mendistribusikan ribuan kilogram bahan pangan ke masyarakat Merauke itu pupus. Setelah pemeriksaan menyeluruh oleh Tim Karantina Tumbuhan Papua Selatan, hasilnya tak bisa ditawar: kontainer tersebut harus dimusnahkan.

Isi Kontainer yang Dihapuskan dari Rantai Konsumsi

Tak tanggung-tanggung, total 12.750 kilogram buah dan sayuran rusak harus dimusnahkan. Rinciannya mencakup:

3.000 kg kubis

3.900 kg apel

2.250 kg pir

1.600 kg anggur

2.000 kg jeruk

“Kerusakan terjadi karena suhu dalam kontainer pendingin (reefer container) tidak stabil selama perjalanan laut,” ungkap M. Khafidul Akmal, pejabat karantina yang bertugas di Pelabuhan Laut Merauke. Ia menjelaskan bahwa suhu yang tidak konsisten menyebabkan bahan pangan membusuk sebelum sempat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Menurut Akmal, setelah berdiskusi dengan pihak JPT (Jasa Pengurusan Transportasi) dan pemilik barang, disimpulkan bahwa tidak ada pilihan lain selain melakukan tindakan pemusnahan.

Pemusnahan Demi Mencegah Ancaman Lebih Besar

Langkah tegas pun diambil oleh Abdul Rasyid, Ketua Tim Kerja Karantina Tumbuhan Papua Selatan. Ia menyatakan bahwa pemusnahan adalah langkah yang bukan hanya tepat, tetapi juga mendesak, mengingat risiko besar yang mengintai.

“Pemusnahan ini dilakukan sesuai dengan Undang-Undang No. 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan, terutama pada Pasal 47 dan 48 yang mengatur pemusnahan media pembawa yang rusak atau busuk,” ujarnya. “Kami tidak ingin mengambil risiko. Buah dan sayur yang sudah rusak bisa menjadi vektor penyebaran hama dan penyakit tumbuhan, dan itu ancaman nyata bagi ekosistem Papua Selatan.”

Pemusnahan dilakukan dengan tetap memperhatikan prosedur yang ketat, termasuk lokasi yang aman dan metode yang tidak membahayakan lingkungan sekitar.

Menjaga Gerbang Timur Indonesia

Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Papua Selatan, Cahyono, menegaskan komitmen pihaknya dalam menjaga kualitas dan keamanan bahan pangan yang masuk ke wilayah paling timur Indonesia ini.

“Ini bukan sekadar soal buah dan sayur. Ini soal menjaga kesehatan masyarakat, melindungi lingkungan dari hama dan penyakit berbahaya, serta memastikan produk yang beredar memenuhi standar,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa kejadian seperti ini menjadi pelajaran penting bagi para pelaku distribusi logistik pangan agar lebih memperhatikan rantai dingin dan pengemasan.

Mengapa Ini Penting?

Bagi masyarakat Merauke dan sekitarnya, buah dan sayuran yang dikirim dari luar daerah—terutama dari Surabaya dan Makassar—adalah sumber kebutuhan harian yang penting. Namun dalam proses distribusi yang panjang dan menantang, terutama lewat jalur laut, risiko kerusakan kerap kali mengintai.

Karantina memegang peran vital sebagai “gerbang penjaga” agar tidak sembarang bahan pangan masuk dan membahayakan. Tindakan pemusnahan mungkin terdengar menyedihkan, namun pada hakikatnya adalah bentuk perlindungan jangka panjang.

Refleksi dan Harapan

Meski pemusnahan ini menyebabkan kerugian ekonomi bagi pemilik barang, di sisi lain, langkah ini menunjukkan bahwa negara hadir dalam mengawal standar keamanan pangan. Pengawasan yang ketat di pintu-pintu masuk, seperti Pelabuhan Laut Merauke, menjadi bentuk nyata dari perlindungan terhadap masyarakat Papua Selatan.

Harapannya, kasus ini dapat mendorong semua pemangku kepentingan—mulai dari pelaku usaha logistik, pengusaha pangan, hingga otoritas pelabuhan—untuk lebih memperhatikan kualitas dan ketelusuran produk selama proses pengiriman.

“Lebih baik dimusnahkan sekarang, daripada menyesal kemudian,” tutup Cahyono. ***


Versi berita bahasa Inggris:

Rotten Fruits and Vegetables Destroyed by Quarantine Officers in Merauke: Protecting South Papua from Pest and Disease Threats

Report: M.Ahmad | Kadate – Inspirasi Papua

MERAUKE, Inspirasi Papua — A mix of disappointment and concern filled the air as officers from the South Papua BKHIT Quarantine opened the doors of a container that had just arrived at Merauke Seaport on Wednesday (July 2, 2025). A foul odor immediately wafted out. What was supposed to be a shipment of fresh, ready-for-distribution fruits and vegetables had turned into piles of decaying, moldy, and inedible produce.

The container, shipped from Surabaya, had arrived in Merauke on July 1, 2025, aboard the MV. Kisik Mas. But the hopes of distributing thousands of kilograms of essential food items to the people of Merauke were dashed. A thorough inspection by the South Papua Plant Quarantine Team left no room for negotiation: the container had to be destroyed.

Contents Removed from the Supply Chain

No small amount of food was discarded. A total of 12,750 kilograms of damaged fruits and vegetables were deemed unfit for consumption and had to be destroyed. The breakdown includes:

  • 3,000 kg of cabbage
  • 3,900 kg of apples
  • 2,250 kg of pears
  • 1,600 kg of grapes
  • 2,000 kg of oranges

“The damage occurred due to unstable temperatures in the reefer container during the sea journey,” explained M. Khafidul Akmal, the quarantine officer stationed at Merauke Seaport. He added that inconsistent cooling caused the fresh produce to spoil before it could even be distributed.

After discussing the findings with the Freight Forwarding Company (JPT) and the goods’ owner, Akmal said the only viable decision was to carry out the destruction.

Destruction to Prevent Greater Threats

A firm step was taken by Abdul Rasyid, Head of the South Papua Plant Quarantine Task Force, who emphasized that this action was not only appropriate but urgent, considering the significant risks involved.

“This destruction is conducted in accordance with Law No. 21 of 2019 on the Quarantine of Animals, Fish, and Plants, specifically Articles 47 and 48, which regulate the disposal of damaged or rotten carriers,” he stated. “We cannot take chances. Spoiled produce can act as vectors for plant pests and diseases, posing a real threat to South Papua’s ecosystem.”

The destruction was carried out in a controlled manner, in a safe location, using environmentally responsible methods.

Guarding the Eastern Gateway of Indonesia

Cahyono, Head of the South Papua Quarantine Office for Animals, Fish, and Plants, affirmed his agency’s commitment to monitoring and securing the quality of food products entering this easternmost part of Indonesia.

“This isn’t just about fruits and vegetables. It’s about protecting public health, safeguarding the environment from dangerous pests and diseases, and ensuring that all incoming products meet proper standards,” he stressed.

He added that this incident serves as a valuable lesson for all logistics operators and food distributors to be more diligent in managing cold-chain systems and packaging during transportation.

Why This Matters

For the people of Merauke and surrounding areas, fruits and vegetables shipped from outside regions—especially from Surabaya and Makassar—are essential daily staples. However, the long and challenging distribution process, particularly by sea, often comes with risks of spoilage.

The quarantine service plays a critical role as a gatekeeper, ensuring that unfit food products do not enter local markets and endanger public welfare. While destruction may seem like a loss, it is ultimately an act of long-term protection.

Reflection and Hope

Although the destruction caused financial losses to the product owner, it also demonstrated that the government is present and proactive in enforcing food safety standards. Rigorous inspections at entry points, such as the Merauke Seaport, serve as a real form of protection for the people of South Papua.

It is hoped that this case will encourage all stakeholders—from logistics service providers, food entrepreneurs, to port authorities—to pay more attention to the quality, traceability, and handling of their goods throughout the shipping process.

“Better to destroy it now, than to regret it later,” Cahyono concluded. ***

www.inspirasipapua.id

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *