Menata Sehat, Merangkai Harapan: Rapat Kerja Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Yohanis R. Manobi saat membuka Rapat Kerja Kesehatan Masyarakat 2025 dengan menabuh tifa, simbol komitmen bersama wujudkan Bintuni sehat. Suasana penuh kebersamaan dalam Rapat Kerja Kesehatan Masyarakat, para tenaga kesehatan dan Kepala Puskesmas duduk bersama menyusun strategi meningkatkan derajat kesehatan warga Bintuni. (ist/Kadate/Inspirasi Papua)
Bagikan berita ini

Views: 223

Dari Angka ke Asa: Rapat Kerja Kesehatan Masyarakat Bintuni Menyatukan Langkah untuk Hidup yang Lebih Sehat

 

BINTUNI – Di sebuah Gedung Women and Child Center Sisar Matiti yang refresentatif untuk kegiatan pertemuan yang terletak di tengah kota Bintuni penuh makna, suasana hening sejenak ketika bunyi tifa ditabuh. Itulah tanda dimulainya Rapat Kerja Bidang Kesehatan Masyarakat Kabupaten Teluk Bintuni tahun 2025. Bagi sebagian orang, mungkin hanya sebuah acara tahunan.

Namun, bagi tenaga kesehatan, Kepala Puskesmas, hingga para penanggung jawab program yang hadir, momen ini adalah tempat untuk bercermin, mengevaluasi, sekaligus menyusun langkah ke depan demi derajat kesehatan masyarakat yang lebih baik.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Teluk Bintuni, Yohanis Rembrands Manobi, S.Pi, MM, Selasa (16/9/2025) dalam sambutannya menegaskan bahwa bidang kesehatan masyarakat memegang peran yang sangat strategis.

Dari kesehatan ibu dan anak, gizi, Lansia, lingkungan, hingga pencegahan penyakit menular maupun tidak menular. “Semua aspek ini memerlukan kerja sama lintas program dan lintas sektor agar dapat memberikan hasil yang optimal,” tegasnya.

Potret Capaian dan Tantangan

Evaluasi capaian program kesehatan masyarakat tahun 2024 menjadi sorotan penting dalam rapat kerja ini. Data menunjukkan keberhasilan sekaligus pekerjaan rumah yang masih menanti:

Kesehatan ibu dan anak: kunjungan ibu hamil pertama baru mencapai 55%, kunjungan minimal empat kali selama kehamilan 47%, sementara kunjungan ibu nifas berada di angka 62%. Catatan pahit, masih ada 5 ibu meninggal dan 19 bayi kehilangan nyawa pada tahun lalu.

Gizi dan tumbuh kembang anak: 1% balita menderita gizi buruk, 10% tercatat stunting, dan 8% mengalami gizi kurang. Namun, kunjungan balita ke posyandu cukup tinggi yakni 74%.

Kesehatan remaja: hanya 49% remaja putri yang tersaring, 56% rutin mengonsumsi tablet tambah darah, dengan 1,2% tercatat mengalami anemia.

Pelayanan lansia: Lebih menggembirakan, mencapai 83% Lansia sudah terlayani.

Kesehatan lingkungan: 100% fasilitas kesehatan telah mengelola limbah medis sesuai standar. Akses air bersih mencapai 75%, jamban sehat 84%, serta tempat pengelolaan pangan 100% memenuhi standar.

Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Di baliknya ada wajah seorang ibu di pedalaman yang menempuh berjam-jam perjalanan ke puskesmas, ada balita yang menunggu pelayanan posyandu, ada lansia yang masih berharap dapat menikmati hari tua dengan sehat.

Pesan untuk Bergerak Bersama

Dalam arahannya, Yohanis Manobi menekankan empat poin penting:

1. Perkuat koordinasi antar penanggung jawab program.

2. Lakukan inovasi pelayanan kesehatan untuk menghadapi tantangan global maupun lokal.

3. Pemantauan dan evaluasi berkala, agar setiap kendala segera ditangani.

4. Fokus pada capaian indikator kesehatan, sesuai target pembangunan daerah dan nasional.

“Saya menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran Puskesmas, tenaga kesehatan, serta mitra kerja yang telah berkomitmen meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Mari jadikan rapat kerja ini wadah untuk berbagi pengalaman, menyatukan visi, dan memperkuat komitmen bersama,” ungkapnya penuh harap.

Suara dari Panitia: Menyatukan Sinergi

Ketua Panitia, Kristina Y. Inanosa, SKM, melaporkan bahwa rapat kerja ini bukan sekadar rutinitas, melainkan agenda penting untuk mengevaluasi program, menyusun rencana tindak lanjut, dan merumuskan solusi bersama. Peserta yang hadir terdiri dari Kepala Puskesmas, koordinator bidang, hingga petugas gizi.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap tercipta koordinasi, sinkronisasi, dan sinergitas antar penanggung jawab program, sehingga pelayanan kesehatan masyarakat semakin berkualitas,” ujar Kristina.

Hasil yang Disepakati

Dari rangkaian diskusi dan pemaparan, rapat kerja menghasilkan beberapa poin penting:

1. Evaluasi capaian program kesehatan masyarakat tahun 2024 tersusun dengan baik.

2. Permasalahan, kendala, dan tantangan berhasil diidentifikasi.

3. Rencana kerja bidang kesehatan masyarakat tahun 2025 disepakati bersama.

4. Meningkatnya koordinasi dan sinergi antar penanggung jawab program.

Harapan ke Depan

Di penghujung acara, semangat kebersamaan terasa kuat. Rapat kerja ini diharapkan bukan hanya menjadi agenda formal, tetapi benar-benar melahirkan langkah nyata bagi masyarakat Teluk Bintuni.

Dinas Kesehatan Teluk Bintuni bersama seluruh tenaga kesehatan berkomitmen untuk terus berbenah. Sebab kesehatan bukan hanya urusan dokter atau perawat, tetapi juga menyangkut masa depan anak-anak, ketahanan keluarga, hingga pembangunan daerah.

Dengan tifa yang ditabuh, rapat kerja ini resmi dibuka. Dengan hati yang tulus dan tekad yang kuat, seluruh peserta membawa pulang satu semangat yang sama: Bintuni sehat adalah Bintuni kuat.

Laporan Redaksi KADATE/Inspirasi Papua)

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *