Level Up! RSUD Teluk Bintuni Siapkan Sistem Cepat Tanggap Serangan Jantung

Seminar hybrid Ikatan Dokter Indonesia Kabupaten Teluk Bintuni yang diikuti 70 peserta—terdiri dari dokter umum dan perawat IGD—menghadirkan dr. Steve Freyssinet Karundeng, Sp.JP, memaparkan strategi Telekonsultasi ECG dan implementasi ACS Fast Track sebagai langkah percepatan penanganan Sindrom Koroner Akut di RSUD Teluk Bintuni menuju transformasi layanan jantung 2026. (ist/Inspirasi Papua)
Bagikan berita ini

Views: 178

Level Up Layanan Jantung Bintuni 2026: Telekonsultasi ECG dan ACS Fast Track Jadi Garda Terdepan

 

 

BINTUNI, PAPUA BARAT – Komitmen memperkuat layanan kegawatdaruratan jantung di Kabupaten Teluk Bintuni memasuki babak baru. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Teluk Bintuni resmi mendorong implementasi sistem Telekonsultasi ECG dan ACS Fast Track sebagai strategi percepatan penanganan Sindrom Koroner Akut (SKA).

Komitmen itu ditegaskan dalam seminar hybrid bertajuk “Early Recognition and Rapid Response: Implementasi ACS Fast Track di Lini Terdepan Pelayanan Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni” yang menghadirkan dr. Steve Freyssinet Karundeng, Sp.JP, dokter spesialis jantung di RSUD Teluk Bintuni.

Sebanyak 70 peserta mengikuti seminar ini, terdiri dari dokter umum dan perawat IGD dari berbagai fasilitas kesehatan—mulai dari puskesmas pesisir hingga rujukan regional seperti RSUP Kemenkes Jayapura.

Beban Penyakit Jantung Masih Tertinggi
Data nasional menunjukkan penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian nomor satu di Indonesia.

Secara global, sekitar 20 juta jiwa meninggal setiap tahun akibat penyakit ini. Di Indonesia sendiri, diperkirakan lebih dari 650 ribu kematian terjadi setiap tahunnya.

“Ini bukan sekadar angka. Ini keluarga yang kehilangan ayah, ibu, atau tulang punggungnya,” ujar dr. Steve usai seminar.

Di Teluk Bintuni, tantangan geografis menjadi faktor krusial. Wilayah pesisir, pegunungan, hingga keterbatasan akses transportasi laut dan darat membuat sistem rujukan cepat sering terkendala.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan sistem konvensional. Terapi awal penyelamat nyawa harus diberikan sedini mungkin,” tegasnya.

2026: Momentum Transformasi Layanan Kardiovaskular

Mulai 2026, pelayanan jantung di Teluk Bintuni ditargetkan naik kelas melalui tiga inovasi utama:

1. Telekonsultasi ECG: Waktu adalah Otot Jantung
Pemeriksaan EKG wajib dilakukan kurang dari 10 menit sejak pasien tiba di IGD. Hasilnya langsung dikonsultasikan ke dokter spesialis jantung melalui sistem telekonsultasi.

“Time is muscle. Setiap menit keterlambatan berarti semakin banyak otot jantung yang mati,” jelas dr. Steve.
Dengan sistem ini, keputusan klinis tidak lagi menunggu kehadiran fisik spesialis.

2. Transformasi IGD melalui ACS Fast Track

Pasien dengan kecurigaan SKA tidak lagi melalui alur pemeriksaan biasa. IGD akan mengadopsi pendekatan A.C.S:

A – Abnormal ECG: Apakah terdapat perubahan iskemik?

C – Clinical Context: Bagaimana karakter nyeri dada dan faktor risiko?

S – Stability: Bagaimana kondisi hemodinamik pasien?

Pendekatan ini mempercepat identifikasi pasien berisiko tinggi dan mempercepat terapi, termasuk pemberian fibrinolitik di rumah sakit non-PCI.

3. Edukasi Publik: Tekan Patient Delay
Inovasi juga menyasar masyarakat. Edukasi gejala SKA digencarkan untuk mengurangi keterlambatan pasien datang ke fasilitas kesehatan.

“Nyeri dada tidak selalu dramatis. Bisa terasa tertekan, menjalar ke lengan kiri, rahang, disertai sesak atau keringat dingin. Jika masyarakat paham, mereka akan datang lebih cepat,” ujarnya.

Menekan Total Ischaemic Time

Dalam kasus SKA, terdapat dua jenis keterlambatan:
Patient delay: dari gejala muncul hingga pasien tiba di faskes
System delay: dari kedatangan hingga terapi reperfusi diberikan
Jika keduanya ditekan, maka total ischaemic time dapat dipersingkat.

“Semakin cepat reperfusi, semakin besar peluang otot jantung terselamatkan. Dampaknya nyata: angka kematian dan komplikasi seperti gagal jantung maupun syok kardiogenik bisa ditekan,” jelasnya optimistis.

Harapan Menuju RS PCI Capable

Saat ini RSUD Teluk Bintuni masih berstatus non-PCI capable dan mengandalkan terapi farmakologi fibrinolitik. Rujukan ke rumah sakit dengan layanan kateterisasi jantung dapat memakan waktu lebih dari 48 jam—waktu yang sangat krusial dalam kegawatdaruratan jantung.

“Kita harus realistis dengan kondisi saat ini, tetapi tidak boleh berhenti berinovasi,” ujar dr. Steve.

Ia berharap pemerintah pusat dan daerah dapat meng-upgrade layanan kardiovaskular RSUD Teluk Bintuni menjadi rumah sakit PCI capable agar masyarakat tak lagi bergantung pada rujukan jauh.

Bagi Teluk Bintuni, 2026 bukan sekadar pergantian tahun. Ia menjadi simbol transformasi—karena dalam kegawatdaruratan jantung, yang dipertaruhkan bukan hanya waktu, tetapi kehidupan.
***(MA/Inspirasi Papua)***

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *