Views: 1
Penyuluhan TBC di RSUD Bintuni: Edukasi yang Menyelamatkan, Harapan untuk Hidup Lebih Sehat
BINTUNI, PAPUA BARAT – Suasana di Poliklinik RSUD Teluk Bintuni, Rabu (15/4/2026), terasa berbeda. Bukan hanya pasien yang datang untuk berobat, tetapi juga untuk belajar memahami salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia: Tuberkulosis (TBC).
Melalui kegiatan penyuluhan yang dipandu oleh Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Papua dr. Wiendo Syahputra Yahya, Sp.P, MMRS, FAPSR, FISR, pasien dan pengunjung mendapatkan penjelasan langsung tentang bahaya, penularan, hingga pencegahan TBC. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia yang diperingati setiap 24 Maret.
Dokter Ahli Paru RSUD Bintuni dr. Wiendo menjelaskan bahwa TBC masih menjadi ancaman serius, khususnya di Indonesia.
Saat ini, Indonesia menempati peringkat kedua jumlah kasus TBC terbanyak di dunia, dengan lebih dari 1 juta kasus pada tahun 2025 dan sekitar 125 ribu kematian.
Angka ini menjadi pengingat bahwa TBC bukan sekadar penyakit biasa, tetapi persoalan kesehatan yang membutuhkan perhatian bersama.
“Setiap 30 detik ada satu orang di Indonesia yang jatuh sakit karena TBC, dan setiap jam, sekitar 16 orang meninggal dunia akibat penyakit ini,” ungkapnya di hadapan peserta penyuluhan.
Ia menjelaskan bahwa TBC disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang pertama kali ditemukan oleh ilmuwan Robert Koch pada 24 Maret 1882—tanggal yang kemudian diperingati sebagai Hari TBC Sedunia.
Penemuan ini menjadi tonggak penting dalam dunia medis, membuka jalan bagi diagnosis dan pengobatan TBC yang lebih efektif.
Dalam penyuluhan tersebut, masyarakat diajak memahami bahwa TBC dapat menyerang siapa saja, namun risikonya meningkat pada individu dengan kondisi tertentu seperti diabetes, HIV, perokok, konsumsi alkohol, serta mereka yang mengalami kekurangan gizi.
Penularan TBC terjadi melalui udara, terutama saat penderita batuk, bersin, atau berbicara tanpa menggunakan masker. Karena itu, kesadaran sederhana seperti etika batuk dan penggunaan masker menjadi langkah penting dalam mencegah penyebaran.
Gejala TBC, khususnya TBC paru, seringkali diabaikan. Padahal tanda-tandanya cukup jelas, seperti batuk lebih dari dua minggu, batuk berdahak atau berdarah, demam ringan terutama di sore atau malam hari, keringat berlebih tanpa sebab, sesak napas, hingga penurunan berat badan.
“Kalau mengalami gejala-gejala ini, jangan tunggu parah. Segera periksa ke fasilitas kesehatan,” tegas dr. Wiendo yang kesehariannya juga adalah Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Teluk Bintuni Papua Barat.
Ia juga menekankan bahwa pencegahan TBC sebenarnya bisa dimulai dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Pola hidup sehat menjadi kunci utama, seperti tidak merokok, tidak mengonsumsi alkohol, makan makanan bergizi, rutin berolahraga, serta menjaga sirkulasi udara di rumah dengan membuka jendela agar sinar matahari masuk.
Selain itu, menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang dahak sembarangan, serta imunisasi BCG pada bayi juga menjadi langkah penting dalam perlindungan sejak dini.
Bagi penderita diabetes dan HIV, pengendalian penyakit secara rutin sangat dianjurkan. Bahkan dalam kondisi tertentu, mereka juga bisa mendapatkan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) untuk menekan risiko infeksi.
Kabar baiknya, pemerintah telah menyediakan layanan pemeriksaan dan pengobatan TBC secara gratis di Puskesmas dan rumah sakit.
Mulai dari pemeriksaan fisik, tes dahak di laboratorium, hingga pemberian Obat Anti Tuberkulosis (OAT), semuanya bisa diakses masyarakat tanpa biaya.
Melalui penyuluhan ini, RSUD Teluk Bintuni berharap kesadaran masyarakat semakin meningkat. Sebab, melawan TBC bukan hanya tugas tenaga medis, tetapi juga tanggung jawab bersama.
Di balik angka-angka yang besar, ada harapan yang terus dijaga: bahwa dengan edukasi, kepedulian, dan tindakan nyata, TBC bisa dikendalikan—dan lebih banyak nyawa dapat diselamatkan.
***(MA/Inspirasi Papua)***













