Pengangguran Turun, P2TIM Hadirkan Harapan Baru Anak Muda Bintuni

Dari P2TIM ke dunia kerja, anak-anak muda Bintuni buktikan harapan baru saat angka pengangguran turun. inzert : Foto Bupati Teluk Bintuni Yohanis Manibuy saat sidang Paripurna DPRK. (ist/Kadate/Inspirasi Papua)
Bagikan berita ini

Views: 151

Dari Angka ke Wajah Manusia: Bintuni Menyongsong Harapan Baru Melalui P2TIM

 

kilik juga berita di fb:

https://www.facebook.com/share/p/17N8Mfkp6k/

BINTUNI — Angka statistik sering kali hanya berakhir sebagai deretan persentase dalam laporan tahunan. Namun, di Teluk Bintuni, sebuah kabupaten yang kerap dikenal sebagai lumbung gas di tanah Papua, ada cerita lain di balik angka itu. Tahun ini, tingkat pengangguran terbuka turun dari 3,52 persen pada 2023 menjadi hanya 2,22 persen di 2024. Penurunan 1,3 persen itu mungkin tampak kecil di kertas, tetapi di baliknya ada ratusan wajah yang kini bangun pagi dengan semangat baru karena sudah memiliki pekerjaan.

Bupati Teluk Bintuni, Yohanis Manibuy, SE., M.H., yang akrab disapa Anisto, menyampaikan hal ini dalam nota pengantar Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) APBD 2024 di gedung DPRK Teluk Bintuni, Senin (1/9/2025). Dengan suara yang mantap, ia menyebut keberhasilan itu tak datang begitu saja. Ada peran nyata dari proyek-proyek strategis dan hadirnya sebuah pusat pelatihan yang kini menjadi kebanggaan daerah: Pusat Pelatihan Teknik Industri dan Migas (P2TIM) Teluk Bintuni.

“P2TIM telah berhasil melatih lebih dari 1.600 anak-anak muda kita menjadi tenaga semi-skill, dengan berbagai keahlian yang dibutuhkan industri migas maupun sektor jasa,” ujar Anisto.

Dari Desa ke Dunia Industri

Di halaman P2TIM, kita bisa menyaksikan bagaimana anak-anak muda Papua belajar keras. Ada yang dengan penuh ketelitian mengelas besi, ada yang cekatan mengikat tali baja sebagai rigger, ada pula yang berlatih meracik hidangan untuk bidang hospitality. Profesi-profesi yang dulu terasa jauh dari jangkauan, kini bukan lagi mimpi.

“Dulu saya hanya bantu orang tua di kebun. Tidak pernah bayangkan bisa bekerja di perusahaan besar,” cerita salah seorang alumni P2TIM yang kini bekerja di proyek LNG Tangguh. “Setelah ikut pelatihan, saya jadi welder. Gaji pertama langsung saya kirim untuk adik sekolah. Itu kebanggaan saya.”

Kisah seperti itu bukan satu-dua. Ratusan lulusan lain kini tersebar bekerja di berbagai perusahaan nasional. Ada yang merantau hingga ke luar Papua, ada pula yang tetap mengabdi di kampung halaman. Mereka membawa pulang cerita baru: bahwa anak muda Bintuni bisa bersaing di dunia kerja.

Investasi Jangka Panjang

Bagi pemerintah daerah, penurunan pengangguran ini bukan sekadar prestasi jangka pendek. “Kita ingin masyarakat Bintuni tidak hanya jadi penonton dalam geliat industri migas. Anak-anak kita harus berdiri di garis depan, ikut menikmati hasil pembangunan,” tegas Anisto.

Melalui P2TIM, pemerintah berupaya mengubah pola pikir masyarakat. Bahwa keberhasilan bukan hanya soal mendapatkan pekerjaan, tetapi juga membangun kepercayaan diri, mencetak generasi baru yang disiplin, terampil, dan berdaya saing.

Tak heran bila angka pengangguran menurun drastis. Sebab, setiap lulusan yang terserap dunia kerja berarti satu keluarga yang ekonominya terbantu. Itu juga berarti ada harapan baru yang tumbuh di rumah-rumah warga Teluk Bintuni.

Statistik yang Hidup

Laporan LKPJ APBD 2024 mungkin hanya menyebutkan penurunan 1,3 persen tingkat pengangguran. Namun di balik angka itu, ada cerita seorang ayah yang kini bisa menyekolahkan anaknya lebih tinggi, ada ibu yang bisa menabung dari hasil kerja putranya, ada pemuda yang kembali ke kampung membawa pengalaman baru.

Inilah wajah sejati pembangunan: bukan semata bangunan gedung atau panjangnya jalan, tetapi hidup manusia yang berubah.

Di Teluk Bintuni, perubahan itu sedang berlangsung. Dari ruang kelas P2TIM hingga ke ruang-ruang kerja industri besar, anak-anak muda Papua kini membuktikan bahwa mereka mampu.

Dan setiap kali persentase pengangguran itu turun, sesungguhnya yang bertambah adalah jumlah senyum yang merekah di tanah Bintuni.

(Tim Redaksi Kadate/Inspirasi Papua)

About Post Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *