Views: 2
Dokter FKTP Didorong Lebih Sigap Menemukan dan Mencegah TBC di Papua Barat
MANOKWARI, inspirasipapua.id — Perang melawan tuberkulosis (TBC) tidak selalu dimulai dari rumah sakit. Di banyak daerah, langkah pertama justru berada di tangan dokter dan tenaga kesehatan di puskesmas, klinik, serta fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP).
Karena itu, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Cabang Manokwari menggelar Mentoring Spesialis bagi FKTP mitra BPJS Kesehatan di Papua Barat, Selasa, 29 September 2026. Kegiatan berlangsung secara hybrid, dengan peserta dari sejumlah kabupaten mengikuti secara daring.
Kegiatan tersebut mempertemukan dokter dan tenaga kesehatan dengan sejumlah narasumber untuk memperkuat kemampuan pelayanan di tingkat pertama. Salah satu materi yang mendapat perhatian adalah penatalaksanaan Tuberkulosis Sensitif Obat (TBC SO) dan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) yang disampaikan dr. Wiendo Syahputra Yahya, Sp.P, M.MRS, FAPSR, FISR, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Teluk Bintuni sekaligus Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Papua.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Manokwari, drg. Eka Verwati, M.M, membuka kegiatan tersebut. Selain Wiendo, materi juga disampaikan dr. Muhammad Arvid Suhada, MKM, Sp.KKLP, mengenai pengelolaan pasien diabetes melitus dan hipertensi terkontrol serta kompetensi dokter dalam menangani 144 penyakit di FKTP. Sementara Mayor CKM dr. Sibin Chandra, M.Biomed, Sp.B membawakan materi mengenai perawatan luka di FKTP.
TBC Tidak Cukup Diobati, Penularannya Harus Diputus
Dalam paparannya, Wiendo menjelaskan bahwa Indonesia masih menghadapi beban TBC yang besar. Indonesia saat ini berada di peringkat kedua dunia dalam jumlah kasus TBC, setelah India, dengan sekitar 1,08 juta kasus dan 125 ribu kematian setiap tahun.
Pemerintah menargetkan eliminasi TBC pada 2030. Target tersebut, kata dia, tidak cukup dicapai hanya dengan mengobati pasien yang sudah sakit. Penemuan kasus secara dini, pengobatan yang tepat dan tuntas, pelayanan yang berpusat pada pasien, serta pencegahan terhadap orang yang telah terinfeksi menjadi bagian penting dari upaya tersebut.
“Dokter di FKTP dituntut memiliki kompetensi mandiri dalam penatalaksanaan pasien TBC,” kata Wiendo dalam materi mentoring tersebut.
Kompetensi itu mencakup penjaringan orang yang diduga TBC, penegakan diagnosis, pemberian obat antituberkulosis (OAT), pemantauan pengobatan, penanganan efek samping hingga menentukan pasien yang membutuhkan rujukan ke rumah sakit.
Artinya, puskesmas dan FKTP bukan sekadar tempat pasien datang ketika batuk atau mengalami keluhan kesehatan. Di tempat inilah rantai penularan TBC dapat mulai diputus.
Satu Pasien, Sedikitnya Delapan Kontak Diperiksa
Salah satu bagian penting yang ditekankan dalam mentoring adalah investigasi kontak. Ketika seseorang dinyatakan TBC, perhatian tidak boleh berhenti pada pasien tersebut.
Orang-orang yang tinggal serumah dengan pasien TBC, baik TBC Sensitif Obat maupun TBC Resisten Obat, perlu diperiksa. Investigasi kontak dilakukan secara sistematis dengan melibatkan tenaga kesehatan, kader, Dinas Kesehatan dan pihak terkait lainnya.
Target pemeriksaan minimal delapan orang untuk setiap kasus TBC SO maupun TBC RO. Investigasi tersebut dilakukan paling lambat 15 hari sejak kasus ditemukan.
Tujuannya sederhana tetapi penting: menemukan sedini mungkin apakah ada anggota keluarga atau orang terdekat yang sudah mengalami TBC aktif atau telah terinfeksi TBC tetapi belum menunjukkan gejala.
Bila ditemukan TBC aktif, pasien mendapatkan pengobatan OAT. Sedangkan mereka yang mengalami infeksi TBC tanpa gejala dapat diberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) sesuai indikasi.
“Pencegahan sama pentingnya dengan pengobatan,” menjadi pesan penting dalam materi tersebut.
TPT saat ini tersedia secara gratis di puskesmas dan rumah sakit. Berdasarkan penelitian yang dipaparkan dalam kegiatan itu, pemberian TPT dapat memberikan perlindungan terhadap berkembangnya TBC aktif selama sekitar dua hingga tujuh tahun.
TPT juga direkomendasikan bagi pasien HIV yang tidak menunjukkan gejala TBC aktif, sesuai ketentuan klinis yang berlaku.
FKTP Menjadi Garda Awal
Kegiatan mentoring ini sekaligus menunjukkan bahwa pengendalian TBC membutuhkan kerja bersama. Dokter tidak dapat bekerja sendiri. Penemuan kasus, pemeriksaan kontak, pengobatan hingga pencegahan membutuhkan keterlibatan keluarga, kader kesehatan, puskesmas, rumah sakit dan pemerintah daerah.
Bagi Papua Barat, pendekatan tersebut menjadi penting karena layanan kesehatan tidak selalu mudah dijangkau oleh seluruh masyarakat. Penguatan kemampuan dokter di FKTP membuat pasien dapat memperoleh penanganan lebih cepat di tempat pertama mereka mencari pertolongan.
Mentoring spesialis yang digelar BPJS Kesehatan Cabang Manokwari itu diikuti fasilitas kesehatan di Manokwari dan sejumlah kabupaten, antara lain Teluk Bintuni, Teluk Wondama, Pegunungan Arfak, Manokwari Selatan, Fakfak dan Kaimana.
Di tengah target eliminasi TBC 2030, pekerjaan terbesar bukan hanya menemukan mereka yang sudah sakit. Tantangannya adalah memastikan mereka yang berisiko tidak berkembang menjadi pasien baru.
Dari ruang pemeriksaan di puskesmas, dari satu rumah yang didatangi kader, dan dari satu kontak yang diperiksa, upaya memutus rantai TBC sesungguhnya dimulai.
**(Tim/red/muris/inspirasipapua id)**











