Views: 51
Bantuan Pangan Menyapa Masyeta Teluk Bintuni: Polisi dan Bulog Hadirkan Senyum Warga
BINTUNI, MERDEY — Hari Minggu, 27 Juli 2025, langit Distrik Masyeta terlihat bersahabat. Angin bertiup pelan, membawa kabar baik bagi warga di pelosok kampung. Di rumah jabatan Kepala Distrik Masyeta, pagi yang biasa berubah menjadi momen yang penuh harap: bantuan pangan berupa beras dari pemerintah pusat akhirnya tiba.
Sebanyak 2.100 kilogram beras dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang disalurkan melalui Bulog Manokwari diterima langsung oleh staf Distrik Masyeta, disaksikan oleh Sheika Irawaty dari pihak Bulog, serta dipantau oleh dua personel Polsek Merdey: Bripka La Rachmat (Ps Kanit Provos) dan Bripda Fendi Tatuta.
Empat kampung di Distrik Masyeta menjadi penerima bantuan ini: Kampung Masyeta, Kali Biru, Mesomda, dan Mestofu. Nama-nama kampung yang mungkin asing bagi banyak orang, namun bagi warga setempat, setiap kiriman logistik seperti ini adalah denyut nadi penghidupan.
“Bantuan ini sangat berarti. Apalagi bagi warga kami yang bergantung pada alam dan belum semua hasil panen bisa mencukupi kebutuhan,” ujar salah satu staf distrik yang enggan disebutkan namanya. Senyumnya merekah saat karung-karung beras diturunkan dari kendaraan.
Tak hanya sebagai pengawas keamanan, kehadiran dua anggota polisi dari Polsek Merdey menunjukkan wajah lain dari tugas negara: hadir sebagai sahabat rakyat. Mereka ikut membantu memastikan proses berjalan tertib dan adil, dari pengecekan logistik hingga pendataan penerima.
Bagi warga, beras bukan sekadar bahan pokok. Ia adalah lambang kehadiran negara. Di tengah tantangan akses, infrastruktur, dan ekonomi yang belum merata, bantuan seperti ini adalah bentuk kepedulian yang nyata.
“Semoga bantuan ini tepat sasaran dan bermanfaat,” ucap Sheika Irawaty dari Bulog sambil menyerahkan dokumen serah terima. Ia datang jauh-jauh dari Manokwari, membawa serta amanah negara untuk warga di ujung barat Papua.
Hari itu, bukan hanya butir beras yang dibagikan, tapi juga rasa aman, perhatian, dan harapan. Di tengah alam yang kadang keras, hadirnya bantuan pangan menjadi pelipur hati — pengingat bahwa di negeri ini, tak seorang pun boleh merasa sendiri.
(Tim Redaksi KADATE/Inspirasi Papua)

