Malaria Mengintai Bintuni, IDI, RSUD dan Dinkes Fokus di 9 Distrik Prioritas

IDI Teluk Bintuni bersama Plt. Direktur RSUD dr. Novita Panggau, Sp.PD, M.MRS dan Kabid P2P Dinkes Irma Said, SKM, M.Kes menyatukan langkah—memperkuat komitmen melawan malaria hingga tuntas. (ist/Inspirasi Papua)
banner 468x60
Bagikan berita ini

Views: 23

IDI Teluk Bintuni Perkuat Penanganan Malaria, Soroti Ancaman Nyata di Daerah Endemis

 

 

BINTUNI, PAPUA BARAT – Upaya memerangi malaria di Kabupaten Teluk Bintuni terus diperkuat. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Teluk Bintuni yang diketuai dr. Wiendo Syahputra Yahya, Sp.P, M.MRS, FAPSR, FISR menggelar webinar bertajuk Update Tatalaksana Malaria, Sabtu (18/4/2026), sebagai bagian dari komitmen meningkatkan kapasitas tenaga medis dalam menghadapi penyakit yang masih menjadi ancaman serius ini.

Kegiatan ini menghadirkan Plt. Direktur RSUD Bintuni dr. Novita Panggau, Sp.PD, M.MRS sebagai narasumber utama.

Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa malaria masih menjadi masalah kesehatan global yang berdampak luas, termasuk di Indonesia.

“Pada tahun 2023, kasus malaria global mencapai 263 juta dengan angka kematian sekitar 597.000 jiwa. Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, tercatat sekitar 3 juta kasus,” ungkap dr. Novita.

Ia menjelaskan bahwa Teluk Bintuni termasuk wilayah dengan risiko tinggi penularan malaria, khususnya oleh Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax.

Kedua jenis parasit ini diketahui dapat menyebabkan gejala yang bervariasi, mulai dari tanpa gejala hingga kondisi berat yang mengancam jiwa.

Secara klinis, malaria dapat ditandai dengan demam, menggigil, berkeringat, sakit kepala, mual, muntah, hingga anemia.

Namun pada kondisi berat, pasien bisa mengalami tanda bahaya seperti tidak mampu makan dan minum, muntah terus-menerus, kejang berulang, hingga penurunan kesadaran.

“Setiap pasien yang dicurigai malaria harus dipastikan melalui pemeriksaan parasitologis, baik dengan Rapid Diagnostic Test (RDT) maupun mikroskopis, sebelum diberikan pengobatan.

Pengecualian hanya pada kasus berat yang mengancam jiwa,” tegasnya, mengacu pada rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Teluk Bintuni, Irma Said, SKM, M.Kes, mengungkapkan bahwa sejumlah wilayah di Bintuni masih berada dalam kategori endemis tinggi malaria.

Beberapa distrik yang menjadi perhatian antara lain Fafurwar, Tanah Merah, Masyeta, Merdey, Muturi, Kalitami, Tembuni, Moskona Selatan, Jagiro, Weriagar, Dataran Beimes, Babo, dan Manimeri.

“Penanganan malaria akan difokuskan di sembilan distrik prioritas, yakni Fafurwar, Tanah Merah, Merdey, Masyeta, Bintuni, Moskona Barat, Moskona Timur, Manimeri, dan Muturi. Targetnya, kita bisa menurunkan hingga 85 persen kasus malaria,” jelas Irma.

Untuk mencapai target tersebut, Dinas Kesehatan mengusung strategi berbasis tiga pilar utama. Pertama, penguatan surveilans, respons cepat, serta keterlibatan aktif masyarakat.

Kedua, peningkatan mutu layanan kesehatan agar diagnosis dan pengobatan lebih efektif. Ketiga, penguatan tata kelola, termasuk komitmen pemerintah daerah dalam menjadikan malaria sebagai program prioritas dengan dukungan anggaran yang memadai.

Sejalan dengan itu, strategi nasional Kementerian Kesehatan tahun 2024 melalui pendekatan “Temukan, Periksa, Obati, dan Awasi sampai Tuntas” (Tempo Kas Tuntas) juga menjadi pijakan penting dalam upaya eliminasi malaria.

Webinar ini tidak hanya menjadi ruang berbagi ilmu, tetapi juga pengingat bahwa perang melawan malaria belum usai. Di daerah seperti Teluk Bintuni, kolaborasi antara tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci untuk melindungi kehidupan dan masa depan generasi.

***(MA/Inspirasi Papua)***

About Post Author

banner 468x40

banner 468x40

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *