Views: 479
Pengabdian Frangky D. Mobilala: Dari Mantri, Melawan Malaria, Hingga Jadi Kepala Dinas yang Selalu Melayani dengan Hati
BINTUNI – Di balik wajah Kabupaten Teluk Bintuni yang kini semakin maju, ada sosok-sosok yang menanamkan pengabdian sejak tanah ini masih berupa hutan, jalan berlumpur, dan pelayanan kesehatan penuh keterbatasan.

Salah satunya adalah Frangky D. Mobilala, SKM., M.Kes, seorang tenaga kesehatan yang meniti karier dari bawah, hingga akhirnya dipercaya menjadi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni.
Kini, setelah puluhan tahun mengabdi, ia memasuki masa purna tugas. Namun, cerita tentangnya bukan sekadar tentang jabatan, melainkan tentang cinta yang tulus untuk masyarakat dan pelayanan kesehatan.
Dilahirkan di Bintuni, Dari Keluarga Pengabdi
Frangky D. Mobilala lahir di Bintuni pada 26 Agustus 1965, dari keluarga sederhana yang sarat dengan semangat pelayanan. Ayahnya, Daniel Mobilala, berasal dari suku Moy, Sorong, sementara ibunya, Martha Urbon, adalah putri asli suku Kuri, Teluk Bintuni.

Daniel Mobilala bukan orang biasa. Ia adalah perawat atau mantri pertama di Bintuni, yang mulai bertugas sejak tahun 1951, ketika Bintuni masih dikenal dengan nama Steenkool. Di masa itulah, benih pengabdian ditanamkan dalam keluarga Mobilala—sebuah jejak yang kemudian diwarisi oleh putranya, Frangky.
Dari kedua orang tuanya, Frangky belajar arti kerja keras, ketulusan, dan hidup yang harus dipersembahkan bagi orang banyak.
Awal Pengabdian: Dari Mantri di Hutan Bintuni
Perjalanan Frangky sendiri dimulai dari bawah. Ia mengawali kariernya sebagai perawat atau mantri, mengikuti jejak sang ayah. Saat itu, Bintuni masih sunyi. Jalan-jalan dipenuhi lumpur, listrik belum menerangi kampung, dan pelayanan kesehatan jauh dari kata memadai.


Di masa itu, penyakit seperti malaria dan kusta masih menghantui masyarakat. Banyak yang takut, banyak pula yang putus asa. Namun, di tengah keterbatasan, Frangky hadir. Ia melayani tanpa pamrih, bahkan rela berjalan kaki menembus hutan dan sungai demi sampai ke kampung-kampung yang jauh.
“Beliau pernah menjadi bagian penting dalam memberantas penyakit kusta dan malaria di Bintuni. Itu dilakukan dengan hati, bukan hanya tugas,” kenang Samuel Manibuy, SKM., M.Kes, Plt. Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni.
Karier yang Naik Perlahan, dengan Hati yang Tetap Rendah
Kerja keras itu tidak sia-sia. Dari seorang mantri, Frangky dipercaya menjadi kepala seksi, lalu kepala bidang, hingga akhirnya menduduki kursi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni.
Meski jabatan berubah, satu hal yang tidak pernah berubah adalah sikap rendah hatinya. “Kalau ada pekerjaan staf yang lambat, beliau sendiri yang turun tangan menyelesaikannya,” tutur Manibuy.

Frangky juga dikenal merangkul semua staf. Ia tidak pernah membeda-bedakan, selalu membangun komunikasi yang sehat sehingga suasana kerja terasa nyaman. “Apa yang diputuskan beliau selalu bijaksana. Tugas kami hanya melaksanakan,” tambah Manibuy.
Masyarakat Merasa Dekat: Menyapa, Bercerita, dan Mendengar
Bagi masyarakat, Frangky bukan sekadar pejabat, melainkan saudara. Ia selalu menyapa dengan ramah saat bertemu di jalan atau di kampung. Bahkan, sering kali ia bercerita tentang masa lalu, mengenang bagaimana sulitnya pelayanan kesehatan dulu, lalu membandingkannya dengan kondisi sekarang.

“Beliau itu orangnya sederhana, selalu menyapa, dan suka bercerita dengan masyarakat. Itulah yang membuat beliau sangat dekat dengan warga kampung,” ujar Manibuy.
Testimoni Masyarakat: “Kalau Tidak Ada Pak Mobilala, Kami Tidak Tahu Bisa Selamat Atau Tidak”
Kehangatan sosok Frangky juga dirasakan langsung oleh masyarakat.
Salah seorang warga dari salah satu kampung di Distrik Moskona Selatan yaitu kampung Jagiro, masih ingat betul ketika anaknya terserang malaria berat beberapa tahun silam.
“Anak saya panas tinggi berhari-hari, kami takut sekali. Waktu itu akses ke kota sulit, jalan rusak, perahu pun tidak ada. Pak Mobilala datang sendiri bersama tim, memberikan obat, dan menenangkan kami. Kalau tidak ada beliau, saya tidak tahu apakah anak saya bisa selamat,” ucap salah seorang warga Bintuni dengan mata berkaca-kaca.
Cerita lain datang dari seorang Bapak, seorang tokoh kampung di pesisir yaitu Sebyar. Ia pernah melihat sendiri bagaimana Frangky mendatangi penderita kusta yang dikucilkan warga.
“Orang-orang takut mendekat, tapi beliau pegang tangan pasien itu, obati dengan kasih sayang. Kami kaget, ternyata pemimpin bisa serendah hati itu. Sejak saat itu kami percaya bahwa kesehatan di Bintuni ada di tangan orang yang benar,” ujarnya penuh haru.
Warisan Pemikiran untuk Generasi Berikutnya
Kini, di masa purna tugas, staf berharap sosok Frangky tetap hadir dengan pemikiran dan strateginya.
“Kami berharap, jika Tuhan masih memberikan kesehatan, beliau tetap membagikan strategi-strategi pelayanan kesehatan agar ke depan lebih baik. Kami juga berharap para pemimpin kesehatan lain yang sudah purna tugas tetap memberi motivasi kepada kami yang masih aktif,” tutur Manibuy penuh harap.
Pesan dan Harapan Seorang Pengabdi
Meski telah menutup masa baktinya sebagai Kepala Dinas, semangat pengabdian Frangky tidak akan pernah padam. Ia selalu berpesan bahwa pelayanan kesehatan bukan sekedar pekerjaan, melainkan ibadah untuk menyelamatkan kehidupan.
“Kalau kita bekerja dengan hati, Tuhan yang akan menyempurnakan. Saya berharap generasi muda kesehatan di Bintuni jangan pernah lelah melayani. Ingatlah, masyarakat di kampung-kampung menaruh harapan pada kita. Jangan sia-siakan itu,” begitu pesan Frangky yang sering ia sampaikan kepada stafnya.
Sosok yang Akan Terus Dikenang
Kisah Frangky D. Mobilala adalah bukti bahwa pengabdian bukan soal seberapa tinggi jabatan, tetapi seberapa dalam hati terlibat di dalamnya. Ia adalah saksi perjalanan Bintuni dari hutan menjadi kabupaten yang cantik, dari jalan berlumpur menjadi jalan beraspal, dari keterbatasan menjadi daerah yang terus berkembang.
Jejak itu sesungguhnya telah dimulai sejak ayahnya, Daniel Mobilala, melayani masyarakat Steenkool pada 1951. Kini, diteruskan oleh Frangky yang mengabdi sepanjang hidupnya hingga pensiun.
Nama Frangky D. Mobilala akan terus dikenang sebagai pemimpin yang mengayomi staf, saudara bagi masyarakat kampung, dan pejuang kesehatan yang selalu bekerja dengan hati.
️ (Tim Redaksi KADATE/Inspirasi Papua)






