Menuju 2026: Dinkes Bintuni Perkuat SDM, Hadirkan Layanan Kesehatan yang Lebih Dekat dan Humanis

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Teluk Bintuni, Kristina Y. Inanosa, menekankan pentingnya soliditas tenaga kesehatan demi tercapainya visi SERASI. (ist/Kadate/inspirasi Papua)
banner 468x60
Bagikan berita ini

Views: 83

Menuju 2026: Dinkes Teluk Bintuni Benahi SDM, Tantang Puskesmas Lebih Solid Hadapi Isu Kesehatan Nasional

 

BINTUNI – Waktu seolah berjalan cepat. Tahun 2025 hampir menuju penghujung, dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Teluk Bintuni sudah menatap 2026 dengan langkah penuh perhitungan. Salah satu fokus utama yang kembali ditekankan adalah pembenahan sumber daya manusia (SDM) kesehatan di 24 Puskesmas dan 46 Pustu yang tersebar di pelosok Bintuni.

Dalam Rapat Kerja Kesehatan Masyarakat (Rakerkesda) beberapa hari lalu, suasana diskusi terasa hangat. Para kepala Puskesmas, tenaga kesehatan, hingga pejabat struktural Dinkes duduk bersama, berbagi data, kendala, sekaligus harapan. Dari ruang pertemuan itu, lahirlah kesepakatan penting: SDM harus dibenahi, dikelola, dan diperkuat agar pelayanan kesehatan semakin merata.

“Seluruh Puskesmas sudah kami instruksikan untuk mengatur dengan baik tenaga kesehatan yang ada. Kita harus solid agar pelayanan lebih optimal,” ujar Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Kristina Y. Inanosa, penuh penekanan.

Kisah dari Ujung Kampung

Di sebuah kampung kecil di Distrik Moskona Selatan, salah seorang bidan muda masih setia melayani warga. Dengan motor dinas seadanya, ia kerap menembus jalan berlumpur untuk mengunjungi ibu hamil yang tidak bisa datang ke Puskesmas Pembantu (Pustu).

“Kadang saya harus jalan kaki 3–4 jam karena motor tidak bisa lewat. Tapi kalau saya tidak datang, siapa yang akan bantu mereka?” ucapnya dengan senyum sederhana.

Cerita bidan muda itu hanyalah satu potret kecil dari tantangan besar yang dihadapi tenaga kesehatan di Bintuni. Mereka bekerja di tengah keterbatasan, namun tetap berpegang pada tekad: setiap warga berhak mendapatkan layanan kesehatan yang layak.

Harapan yang Menyatu dengan Visi Daerah

Bupati Teluk Bintuni, Yohanis Manibuy, SE., MH, berkali-kali menegaskan komitmennya membangun sektor kesehatan sebagai bagian dari visi-misi kepemimpinannya. Ia ingin Bintuni bergerak menuju daerah yang sehat, religius, andal, smart, dan inovatif — atau yang dikenal dengan sebutan SERASI.

“Harapan Bupati jelas, tenaga kesehatan kita harus kuat di lini depan, dan masyarakat benar-benar merasakan manfaat pelayanan,” tambah Inanosa.

Isu Kesehatan Nasional yang Jadi Pekerjaan Rumah

Bukan hanya urusan internal. Dinkes Teluk Bintuni kini dihadapkan pada isu-isu strategis yang menjadi agenda nasional. Di antaranya:

Peningkatan kesehatan ibu dan anak,

Penurunan hingga pencegahan stunting,

Penanganan anak dengan gizi kurang hingga buruk,

Serta optimalisasi pelayanan kesehatan gratis.

“Semua isu ini menjadi tantangan kita di tahun 2026. Tapi saya percaya dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah, kita bisa bergerak lebih cepat,” kata Inanosa, seraya menuturkan pentingnya kolaborasi lintas sektor.

Dari Ruang Diskusi ke Lapangan

Rakerkesda kali ini tidak sekadar forum seremonial. Dari catatan-catatan yang tersusun, Dinkes mendorong seluruh Puskesmas agar lebih kreatif dalam mengelola SDM. Misalnya, dengan penempatan tenaga kesehatan yang lebih adil di daerah terpencil, atau inovasi pelayanan berbasis teknologi untuk menjangkau masyarakat luas.

Inanosa pun mengingatkan pentingnya semangat kekeluargaan di antara tenaga kesehatan. “Kita ini ujung tombak. Kalau tidak solid, sulit mencapai target. Tapi kalau kita kompak, saya yakin semua bisa tercapai,” ucapnya mantap.

Sinkron dengan Agenda Nasional

Apa yang dilakukan Teluk Bintuni sejatinya sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya di bidang kesehatan. Pemerintah pusat menargetkan layanan kesehatan lebih berkualitas, terjangkau, dan menyentuh hingga lapisan terbawah masyarakat.

Bagi Bintuni, dukungan penuh pemerintah daerah menjadi energi tambahan untuk mempercepat pencapaian itu. Dengan wilayah yang luas dan tantangan geografis yang tidak ringan, kerja sama antara tenaga kesehatan dan pemerintah daerah adalah kunci.

Harapan dari Tanah Bintuni

Tahun 2026 seakan menjadi garis awal baru. Bukan sekadar kalender berganti, melainkan momentum untuk menegaskan arah pembangunan kesehatan yang lebih kokoh. Dari ruang-ruang Puskesmas di pesisir hingga Pustu di pedalaman, harapan masyarakat sederhana: mereka ingin hidup sehat, anak-anak tumbuh cerdas, dan pelayanan kesehatan benar-benar hadir di dekat mereka.

Seperti salah seorang ibu, seorang ibu muda di Distrik Tuhiba, yang anak keduanya sempat terindikasi stunting. Kini, setelah mendapat pendampingan gizi dari Puskesmas, berat badan sang anak mulai naik. “Saya bersyukur ada petugas yang rutin datang. Mereka ajar saya cara masak makanan sehat dari bahan yang ada di kampung,” ungkap ibu itu sambil menggendong anaknya.

Misi itu kini berada di pundak para tenaga kesehatan, pejabat Dinkes, dan tentu saja, dukungan penuh Bupati Yohanis Manibuy. Dengan kerja keras dan inovasi, Teluk Bintuni diharapkan bukan hanya mengejar target nasional, tapi juga menghadirkan wajah baru pelayanan kesehatan yang humanis, merata, dan bermartabat.

“Dengan dukungan penuh pimpinan daerah, saya yakin visi SERASI bisa kita wujudkan. Dari Bintuni, kita ikut menyalakan harapan bangsa,” tutup Kristina Y. Inanosa.

(Laporan Redaksi Kadate/Inspirasi Papua)

About Post Author

banner 468x40

banner 468x40

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *