Teluk Bintuni Dorong Perda Pangan Lokal: Menjaga Identitas dan Warisan Leluhur

Ketua Perkumpulan Panah Papua, Kasuari Rawa, bersama Ketua Bapemperda DPRK Teluk Bintuni, Ayor Kosepa, didampingi anggota DPRK Roy Masyewi, berpose bersama sebagai simbol perjuangan Perda Pangan Lokal. (ist/Kadate/Inspirasi Papua)
banner 468x60
Bagikan berita ini

Views: 165

Perjuangan Pangan Lokal di Bintuni: Dari Jalan Sunyi Menuju Cahaya Negeri Sisarmatiti

 

BINTUNI – Hari itu, di sebuah ruang pertemuan sederhana, suasana penuh semangat terasa berbeda. Diskusi yang biasanya berakhir dengan catatan biasa, kali ini menghadirkan satu tekad besar: menjaga kedaulatan pangan lokal Teluk Bintuni melalui sebuah regulasi daerah.

Dua tokoh yang berdiri di garis depan perjuangan ini, Ketua Perkumpulan Panah Papua Kasuari Rawa dan Ketua Bapemperda DPRK Teluk Bintuni Ayor Kosepa, sepakat bahwa saatnya Bintuni memiliki payung hukum khusus yang melindungi pangan lokal. Peraturan Daerah (Perda) Pangan Lokal diyakini bukan sekadar lembaran kertas hukum, melainkan wujud nyata penghormatan terhadap kearifan lokal dan hak rakyat pemilik sulung negeri Sisarmatiti atas sumber daya alamnya.

“Pangan lokal adalah identitas kita. Sagu, keladi, ikan, dan hasil bumi lainnya bukan hanya makanan, tapi juga simbol kehidupan orang Bintuni. Jika kita tidak menjaga, suatu hari nanti generasi kita hanya akan mengenalnya dari cerita,” ujar Kasuari Rawa dalam diskusi tersebut.

Jalan Sunyi Anak Negeri

Di tengah semangat kolektif itu, sebuah doa lirih menggugah hati banyak orang. Anggota DPRK Teluk Bintuni, Roy Masyewi, menyampaikan harapan dengan kalimat yang tak sekadar politik, melainkan doa yang lahir dari hati.

“Semoga Tuhan dan Leluhur Negeri ini selalu menyertai perjalanan perjuangan anak negeri yang berjuang di jalan sunyi. Kiranya karya dan perjuangan kelak menjadi berkat bagi rakyat pemilik sulung Negeri Sisarmatiti,” tutur Roy dengan suara bergetar.

Kata-kata itu menggema, seakan menjadi pengingat bahwa perjuangan menjaga pangan lokal bukan jalan mudah. Di era modernisasi dan derasnya arus produk instan, pangan lokal sering kali terpinggirkan. Namun, anak-anak negeri Sisarmatiti tidak ingin menyerah.

Lebih dari Regulasi, Sebuah Warisan

Dorongan melahirkan Perda Pangan Lokal bukan semata-mata urusan politik atau administrasi pemerintahan. Bagi masyarakat adat, pangan lokal adalah warisan leluhur yang sarat makna. Dalam setiap butir sagu, ada cerita panjang tentang kebersamaan di dusun; dalam setiap hasil tangkapan laut, ada doa nelayan yang berpaut dengan arus; dalam setiap kebun keladi, ada peluh perempuan kampung yang menjaga dapur tetap mengepul.

Ketua Bapemperda DPRK Teluk Bintuni, Ayor Kosepa, menegaskan pentingnya regulasi ini sebagai tameng agar pangan lokal tidak hanya menjadi kenangan. “Jika regulasi ini ada, maka pemerintah wajib mengalokasikan anggaran, melakukan pembinaan, hingga membuka ruang pasar bagi pangan lokal kita. Dengan begitu, petani dan nelayan kita akan terlindungi,” jelasnya.

Harapan untuk Generasi Mendatang

Ketahanan pangan Teluk Bintuni tidak mungkin bertumpu pada pangan impor atau beras semata. Kabupaten ini memiliki kekayaan pangan lokal yang berlimpah, dari hutan hingga laut. Namun, tanpa perlindungan kebijakan, semua itu bisa hilang perlahan.

Peraturan Daerah Pangan Lokal yang kini tengah didorong di DPRK Teluk Bintuni diharapkan menjadi tonggak penting. Jika berhasil diwujudkan, ia akan menjadi warisan bagi generasi mendatang—warisan berupa jaminan bahwa anak cucu Bintuni masih bisa menikmati pangan asli tanah mereka sendiri.

Menjaga Suluh Negeri Sisarmatiti

Perjuangan ini mungkin masih panjang, bahkan sering disebut sebagai “jalan sunyi”. Tetapi dari doa, komitmen, dan langkah nyata yang ditunjukkan oleh berbagai pihak, tampak jelas bahwa api perjuangan itu tidak akan padam.

Bintuni bukan hanya bicara tentang pembangunan infrastruktur atau investasi besar-besaran, tetapi juga tentang hal paling mendasar: bagaimana rakyatnya bisa makan dari hasil bumi sendiri.

Dari ruang diskusi sederhana di tengah Bintuni, suara-suara itu kini mulai bergema. Harapan baru sedang tumbuh: sebuah negeri yang berdiri kokoh di atas pangan lokalnya, dengan doa Tuhan dan restu leluhur, demi kesejahteraan rakyat pemilik sulung Negeri Sisarmatiti.

(Laporan Redaksi Kadate/Inspirasi Papua)

About Post Author

banner 468x40

banner 468x40

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *