Views: 67
Nilai E Dinilai Tak Masuk Akal, Mahasiswa UT Bintuni Protes Sistem Penilaian Online
BINTUNI, PAPUA BARAT — Dugaan ketidakberesan sistem penilaian kembali mencoreng wajah pendidikan jarak jauh. Mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Program Studi Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), melayangkan protes keras terhadap pihak kampus setelah memperoleh nilai E pada dua mata kuliah, meski hasil ujian menunjukkan jumlah jawaban benar yang tergolong tinggi.
Mahasiswa tersebut, Alfius Iba, yang bertindak atas nama mahasiswa UT Bintuni, menilai pemberian nilai tersebut tidak rasional, tidak transparan, dan sangat merugikan mahasiswa daerah.
Dua mata kuliah yang dipersoalkan yakni Implementasi Kebijakan Publik dan Analisis Kebijakan Publik, yang diujikan secara online berbasis komputer pada 11 Januari 2026.
Nilai Ujian Tinggi, Tapi Nilai Akhir E
Alfius mengungkapkan, saat ujian akhir semester berlangsung, hasil nilai langsung muncul di layar komputer.
Untuk mata kuliah Implementasi Kebijakan Publik, ia mengaku menjawab 36 soal benar dari 45 soal, sementara pada mata kuliah Analisis Kebijakan Publik, ia menjawab 34 soal benar dari 45 soal.
Namun kejanggalan muncul ketika nilai akhir diumumkan secara resmi.
“Nilai ujian saya bagus dan langsung terlihat di komputer saat ujian. Tapi saat nilai akhir keluar, justru tertulis nilai E. Ini tidak masuk akal dan sangat mengecewakan,” kata Alfius kepada wartawan, Kamis (29/1/2026) di Bintuni.
Mahasiswa Daerah Merasa Dirugikan
Menurut Alfius, kebijakan tersebut semakin menambah beban mahasiswa, khususnya mahasiswa di daerah yang telah mengeluarkan biaya pendidikan tidak sedikit untuk kuliah di UT.
Ia menilai sistem penilaian yang tidak jelas justru mengorbankan waktu, biaya, dan masa depan mahasiswa.
“Kami sudah bayar mahal. Waktu kami terbuang, usia terus bertambah, tapi justru dijatuhkan dengan nilai seperti ini. Kalau harus mengulang, kami harus bayar lagi. Ini sangat merugikan,” tegasnya.
Akibat nilai E tersebut, Alfius terancam harus mengulang mata kuliah dan kembali membayar biaya perkuliahan yang dinilai cukup mahal.
Bukan Kasus Tunggal, Respons Kampus Dinilai Lambat
Lebih lanjut, Alfius menyebut persoalan ini bukan hanya dialami dirinya, melainkan juga oleh sejumlah mahasiswa UT lainnya yang mengikuti mata kuliah yang sama.
Ironisnya, upaya konfirmasi ke pihak UT hingga kini belum membuahkan kejelasan.
“Kami sudah berulang kali mencoba mengonfirmasi ke pihak UT, tapi responsnya sangat lambat. Sampai sekarang tidak ada penjelasan yang pasti. Kami merasa diabaikan,” ujarnya.
Semester Akhir Terancam Tertunda
Sebagai mahasiswa semester akhir, Alfius mengaku kondisi tersebut sangat menghambat proses penyelesaian studi dan kelulusan.
“Saya sudah semester akhir. Kalau nilai seperti ini, jelas menghambat kelulusan kami,” katanya.
Desak UT Pusat Turun Tangan
Alfius dan mahasiswa UT Bintuni meminta UT Pusat segera turun tangan untuk melakukan evaluasi menyeluruh, baik terhadap sistem penilaian online maupun kinerja dosen pengampu yang dinilai tidak profesional dan tidak transparan.
Ia menegaskan, sistem pembelajaran jarak jauh seharusnya memberikan kemudahan, bukan justru menambah persoalan baru bagi mahasiswa.
“Kami minta UT Pusat memperbaiki sistem, meninjau ulang nilai kami, dan menjamin keadilan. Jangan sampai mahasiswa dirugikan sepihak oleh sistem yang tidak transparan,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Universitas Terbuka belum memberikan keterangan resmi meski telah berulang kali diupayakan untuk dikonfirmasi.
(MA/Inspirasi Papua)













