Views: 48
“Saat Dokter Menyusuri Laut Bintuni, Membawa Layanan Kesehatan ke Yakati dan Sara”
BINTUNI, inspirasipapua.id — Di wilayah yang dipisahkan laut dan perjalanan berjam-jam dari pusat kabupaten, berobat bukan perkara sederhana. Karena itu, pada 13–16 Agustus 2026, dokter dan tenaga kesehatan memilih mendatangi warga.
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Teluk Bintuni bersama Dinas Kesehatan Teluk Bintuni menggelar pelayanan kesehatan bergerak di Kampung Yakati, Distrik Wamesa, dan Kampung Sara, Distrik Kaitaro. Kegiatan ini menjadi bagian dari Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI) ke-118 sekaligus rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Ketua IDI Teluk Bintuni, dr. Wiendo Syahputra Yahya, Sp.P, MMRS, FAPSR, FISR, mengatakan pelayanan tersebut dirancang untuk membawa layanan kesehatan dasar sekaligus layanan spesialistik lebih dekat kepada masyarakat di wilayah pesisir.
Tim tidak datang dengan satu jenis layanan. Dokter umum bergabung dengan dokter spesialis anak, jantung, paru, saraf, bedah, bedah onkologi, kebidanan dan kandungan, serta anestesiologi. Mereka didukung perawat, bidan, analis laboratorium dan petugas gizi dari Dinas Kesehatan serta RSUD Teluk Bintuni.
Badan Pengarah Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua (BP3OKP) turut dilibatkan. Tim juga berkoordinasi dengan RSUD Teluk Bintuni, Puskesmas Idoor, Pustu Yakati dan Puskesmas Kaitaro sebelum pelayanan dilaksanakan.
Perjalanan menuju Yakati menjadi bagian tersendiri dari misi tersebut. Pada 13 Agustus, tim berangkat dari Bintuni menggunakan kapal Bintuni Sehat. Mereka menempuh perjalanan sekitar enam jam sebelum tiba di Yakati.
Keesokan harinya, pelayanan berlangsung di SDN Yakati, Pustu Yakati dan kapal Bintuni Sehat.
Di sekolah, dokter spesialis bedah onkologi memberikan penyuluhan mengenai pemeriksaan mulut sendiri atau SAMURI serta kanker rongga mulut. Di tempat lain, layanan medis tidak berhenti pada pemeriksaan.
Tiga pasien menjalani operasi tumor jinak, sementara seorang pasien hernia mendapat tindakan operasi di kapal Bintuni Sehat.
Dari Yakati, kapal kemudian bergerak menuju Sara, Distrik Kaitaro, pada 15 Agustus. Perjalanan sekitar lima jam ditempuh sebelum tim melanjutkan pelayanan di Puskesmas Kaitaro dan kapal Bintuni Sehat.
Di Kaitaro, dokter spesialis bedah melakukan operasi tumor jinak terhadap lima pasien. Satu pasien hernia juga menjalani operasi di kapal.
Bagi sebagian warga, kehadiran dokter spesialis di wilayah mereka bukan sekadar pelayanan medis. Jarak yang selama ini menjadi hambatan untuk memperoleh pemeriksaan dan tindakan tertentu menjadi lebih pendek.
Pelayanan mata juga diberikan. Sebanyak 23 warga di Yakati dan 15 warga di Kaitaro menjalani pemeriksaan mata dan memperoleh kacamata secara gratis.
Namun, hasil pemeriksaan kesehatan menunjukkan persoalan yang lebih luas. Pada kelompok anak dan remaja, infeksi jamur pada kulit atau tinea versikolor dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi kasus yang paling sering ditemukan.
Tim juga menemukan kasus TBC kelenjar, penyakit jantung, balita dengan gizi buruk serta stunting.
Pada pemeriksaan pasien dewasa, sebanyak 49 orang teridentifikasi sebagai terduga TBC paru di kedua kampung. Sampel dahak dari para pasien tersebut dikumpulkan untuk diperiksa lebih lanjut di RSUD Teluk Bintuni.
Temuan lain muncul dari pemeriksaan ibu hamil. Di Yakati terdapat sembilan ibu hamil yang diperiksa, sementara di Sara terdapat tiga. Pemeriksaan menunjukkan adanya gejala anemia dalam kehamilan.
Sementara pada layanan saraf, keluhan yang banyak ditemukan antara lain nyeri tulang belakang, rematik, kondisi pascastroke dan sakit kepala.
Data tersebut memperlihatkan bahwa pelayanan kesehatan bergerak tidak hanya menjadi ruang pengobatan, tetapi juga pintu masuk untuk mengetahui persoalan kesehatan masyarakat yang selama ini mungkin sulit terdeteksi.
Layanan yang diberikan mencakup imunisasi, promosi kesehatan, pemeriksaan kesehatan dasar, pelayanan spesialistik hingga rujukan bagi pasien yang membutuhkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut di RSUD Teluk Bintuni.
Bagi IDI dan Dinas Kesehatan, perjalanan empat hari itu pada akhirnya bukan hanya tentang membawa dokter ke kampung-kampung yang jauh. Lebih dari itu, pelayanan tersebut membawa pesan bahwa akses terhadap kesehatan tidak semestinya berhenti karena jarak geografis.
Di Yakati dan Sara, kapal Bintuni Sehat menjadi bagian dari upaya itu: membawa dokter, peralatan dan pengetahuan kesehatan menyusuri perairan Bintuni, mendekatkan layanan kepada warga yang selama ini harus menempuh perjalanan panjang untuk mendapatkannya.
Kemerdekaan, dalam konteks itu, tidak hanya dirayakan melalui upacara dan bendera. Ia juga dapat dimaknai melalui ikhtiar memastikan warga di wilayah terpencil memperoleh kesempatan yang sama untuk hidup sehat.
**(Tim/red/MA/inspirasi Papua.id)**











